Bab Tiga Berjumpa Kembali dengan Kakek
Baru saja tiba di depan pintu asrama, aku sudah mendengar teriakan memilukan dari Yang Daya. “Dasar teman-teman kurang ajar, Yasuo itu bisa main nggak sih, seharian cuma bisa ngebuff angin, lalu Yi cuma bisa ngutan, di sisi lawan Garen terus-terusan ngejar aku tapi nggak ada yang bantu. Sial, Teemo-ku ditusuk mati sama pedang besarnya…”
Aku mengeluarkan kunci, membuka pintu, dan masuk ke dalam. Di dalam hanya ada Yang Daya seorang diri, yang lain hari ini pergi kuliah pilihan.
Begitu melihat aku pulang, wajah marah Yang Daya langsung berubah jadi senyum. “Wu Di, habis kuliah kamu langsung kabur, telepon aja nggak, padahal aku nunggu kamu lama banget di lapangan basket. Jujur aja, kamu abis jalan sama cewek ya? Cantik nggak? Besar nggak dadanya?” Saat dia melontarkan dua kalimat terakhir itu, ekspresinya yang genit benar-benar membuatku tak habis pikir.
“Udahlah, jangan ngomong ngaco, kamu itu mirip om-om haus kasih sayang. Di kampus ini banyak cewek cantik, cari sendiri aja sana pacar, nggak usah tiap hari nanya gede kecil begitu. Malu-maluin aja kamu,” jawabku dengan nada jengkel.
Mendengar ucapanku, wajahnya langsung meredup. Ia menghela napas, “Aku juga pengen punya pacar, jalan-jalan sama cewek, masalahnya cewek zaman sekarang nggak suka cowok matang macam aku, malah suka sama brondong-brondong urakan. Nyebelin banget, kan?” Mendengar itu aku hampir tersedak air liurku sendiri. “Aduh, udahlah, jangan ge-er, kamu itu paling-paling juga cuma remaja tukang garuk kaki, lebih baik dikit lah daripada preman-preman yang suka bawa motor kecil ngebut sana-sini.” Mendengar itu dia seperti dapat tamparan batin, lalu mulai ngomel sendiri. “Ini bukan ge-er, ini namanya menghargai diri sendiri…”
Aku melirik ke layar komputer. “Hahaha, Teemo kamu mati lagi tuh sama pedang gede Garen dari tim lawan.” Begitu mendengarnya, dia buru-buru menoleh ke layar, lalu kembali mengeluh soal game-nya. Aku pun tak menghiraukannya lagi.
Aku menuju meja belajarku, mengeluarkan ponsel yang diberikan kakek dari saku. Ponsel itu sangat populer sekarang, merek Apple 6s, bodi perak yang tampak keren. Di belakang ponsel, tertempel secarik kertas bertuliskan kombinasi huruf dan angka. Aku kira itu pasti sandi untuk menyalakan ponsel, jadi aku tekan tombol power dan menunggu ponsel menyala.
Setelah beberapa saat, ponsel menyala. Aku masukkan sandi, lalu memeriksa isinya. Selain beberapa aplikasi bawaan, tak ada hal lain. Aku membuka galeri untuk mengecek apakah ada video atau foto. Untungnya, di galeri ada satu video. Aku mengambil earphone dari laci, memasangnya ke ponsel dan naik ke ranjang, karena aku tahu itu peninggalan dari kakek, jadi aku berusaha agar tidak ada orang lain yang tahu.
Aku berbaring di ranjang, memutar video itu. Sebuah wajah muncul di layar ponsel. Benar, itu kakekku.
Kakek masih sama seperti terakhir kali kulihat, hanya saja kali ini tampak jauh lebih tua. Ia menatapku, lalu perlahan berkata, “Xiao Di, saat kau menonton video ini, mungkin aku sudah tiada. Aku sangat menyesal tidak bisa bertemu denganmu untuk terakhir kali. Kau pasti bingung kenapa aku meminta ayahmu memberimu beberapa buku itu, karena ada sesuatu yang perlu kusampaikan padamu. Aku berharap kau bisa memperlakukan hal ini dengan sungguh-sungguh.
Sekarang akan kuceritakan asal-usul buku-buku itu. Pada awal Dinasti Tang, Kaisar Tang Li Shimin memiliki dua bawahan hebat, yakni Yuan Tiangang dan Li Chunfeng, keduanya ahli ilmu gaib terkemuka pada masanya. Karena mendapat kepercayaan dari Li Shimin, keduanya menggabungkan pengetahuan dari berbagai sumber dan menyusun buku-buku itu. Bisa dikatakan, buku-buku itu memuat inti sari seluruh ilmu gaib di Tiongkok. Setelah Li Shimin wafat, mereka mundur dari jabatan dan menyepi. Namun, mereka tidak tega melihat ilmu tersebut punah, maka mereka mendirikan Perguruan Dewa Guru, berharap generasi penerus dapat melestarikannya.
Dewa Guru itu adalah Zhong Kui, dewa pengusir setan. Konon dia berasal dari Gunung Zhongnan pada awal Dinasti Tang, berwajah garang dan penuh bulu, namun sangat cerdas dan berani, ahli dalam mengusir setan dan menangkap roh jahat. Yuan Tiangang dan Li Chunfeng menamai perguruan itu dengan sebutan Perguruan Dewa Guru, dan hanya boleh ada dua penerus—satu menjadi Dewa Guru dan satu lagi bertugas mencari penerus berikutnya. Begitu terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun, hingga akhirnya Perguruan Dewa Guru perlahan menghilang dari pandangan orang. Kini hanya tersisa aku dan adik seperguruanku.
Bertahun-tahun aku dan adik seperguruan pergi ke banyak tempat, hanya untuk mencari penerus Dewa Guru terbaik, namun tak pernah ketemu. Sampai dua puluh tahun lalu ayahmu datang padaku, memberitahu bahwa kau akan lahir dan memintaku melihat nasibmu. Malam saat kau lahir, terjadi fenomena aneh di langit. Aku melihat matahari dan bulan bertumpuk, bintang bersinar jatuh. Saat itu aku tahu, kau adalah manusia istimewa yang lahir ke dunia. Kemudian ayahmu bilang bahwa anaknya laki-laki, telapak kaki kirinya memiliki enam tahi lalat hitam yang tersusun seperti bintang Biduk, dan saat lahir langsung membuka mata dan tersenyum pada ayahmu. Aku sangat gembira dan memberi tahu ayahmu bahwa kau adalah tubuh Chongyang yang langka, sangat cocok menjadi pewaris ilmu gaib.
Tubuh Chongyang adalah tubuh yang, selain murni, juga mendapat kekuatan langit dan bintang. Sebenarnya tidak berbeda dengan orang biasa, hanya saja orang seperti ini terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib dan melangkah di antara hidup serta mati. Asal bisa menguasai kekuatan itu, dia bisa membalikkan hidup dan mati, mengendalikan yin dan yang.
Namun, orang seperti ini juga sangat rentan meninggal muda. Saat masih belum bisa melindungi diri, mudah menjadi sasaran roh-roh gentayangan. Maka, demi kau bisa tumbuh dewasa dengan selamat, aku mengorbankan tiga puluh tahun umurku untuk menyegel kekuatan itu hingga tiba waktunya. Kini saatnya sudah tiba, segel itu akan terbuka dengan sendirinya.
Selain itu, kakek juga sudah mencarikan jodoh untukmu. Semoga kau tidak mengecewakan dia. Meskipun kita tidak sedarah, tapi rasa sayangku melebihi keluarga sendiri. Aku sangat berharap kau bisa mewarisi Perguruan Dewa Guru, menjadi Dewa Guru, sekaligus memikul tanggung jawab menolong sesama, menumpas kejahatan dan menegakkan kebenaran. Karena semakin besar kekuatan, semakin besar pula tanggung jawab. Ini mungkin berbahaya, bahkan bisa merenggut nyawa. Kau boleh mempertimbangkannya, kakek tidak memaksamu. Jika kau tak mau, kakek juga tidak akan menyalahkanmu.
Jika sudah siap, carilah adik seperguruanku, biar dia memberitahumu apa yang harus dilakukan. Sampai di sini saja pesan kakek, kakek hanya berharap kau yang menjadi penerus itu. Xiao Di, selamat tinggal.
Video pun berakhir. Aku menatap ekspresi kakek di akhir rekaman itu, hatiku terasa campur aduk. Mungkin aku sulit menerima semua ini, atau merasa seperti sedang bermimpi. Kata-kata kakek tadi berulang-ulang berputar di pikiranku. Tubuh Chongyang pernah kubaca di catatan Dewa Guru yang kakek wariskan padaku, juga tertulis di legenda Pewaris Burung Api, tapi pengaruh pendidikan modern membuatku sulit mempercayai semua itu nyata. Mendadak pikiranku jadi kacau dan hatiku pun gelisah.