Bab Empat Puluh Dua: Bertemu Kembali dengan Kepompong Mayat
Setelah mereka semua pergi, aku berniat mampir ke rumah guru untuk memintanya melakukan ritual guna melihat situasi, sekaligus ingin mengisi perut. Sudah hampir jam tujuh, mana mungkin bisa tahan kalau tak makan. Jadi aku berpamitan pada Chen Ling, lalu keluar. Kali ini dia tidak ikut, toh sekarang dia sudah punya pacar. Terus-menerus menemaniku ke sana ke mari juga tidak pantas. Lagi pula entah dari mana dia dapat uang, tiba-tiba saja membeli ponsel baru, sekarang sedang video call dengan Yang Dali. Ketika kubilang aku keluar sebentar, dia sama sekali tidak bereaksi. Aku benar-benar kehabisan kata-kata.
Tak lama kemudian, aku mengendarai mobil menuju jalanan yang dipenuhi kedai makanan ringan. Bukannya langsung mencari guru, aku malah masuk ke sebuah warung mi dan memesan semangkuk mi saus kacang. Setelah selesai makan, barulah aku melangkah pelan-pelan ke rumah guru. Begitu membuka pintu, aroma dupa langsung menyergap seperti biasanya. Guru tampak santai duduk di kursi sambil minum teh. Merasakan kehadiranku, beliau mengambil sebuah cangkir dari atas meja dan menuangkan teh panas untukku. "Ini teh Tieguanyin terbaik, cobalah," katanya.
Aku tidak langsung mengutarakan maksud kedatanganku, hanya duduk di kursi lain, mengangkat cangkir, dan menyesap teh itu. "Bagaimana rasanya?" tanya guru. Aku mengangguk pelan dan berkata, "Biasa saja, teh ini tampak jernih kehijauan, aromanya semerbak, rasanya sedikit pahit namun tidak sepat, sangat segar dan menenangkan."
Mendengar itu, senyum ramah membias di wajah guru yang tampak menua. Ia berkata, "Guru merasakan bahwa auramu kini lebih dalam dari sebelumnya. Sepertinya kau sudah menembus tahap akhir ranah Huang. Namun, kadang terasa kasar, kadang halus, yang berarti kau belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan kekuatan barumu. Saat naik tangga tadi, langkahmu agak goyah; padahal hanya belasan anak tangga ke lantai dua, tapi kau sudah terengah-engah. Ini menandakan kau sering begadang belakangan ini, juga pola makanmu tidak teratur. Terakhir, saat masuk ruang tamu, kau tersenyum dengan ekspresi santai, artinya meski sedikit lelah, kau tidak menghadapi masalah besar dan malah berhasil menyelesaikan beberapa urusan kecil."
Aku mengangguk pelan mendengar penjelasan guru, lalu berkata, "Memang benar, setelah menembus batas aku belum sempat menstabilkan kekuatan, ditambah lagi dua hari ini sangat sibuk hingga harus begadang dua malam, jadinya tubuhku agak lelah. Tapi bagaimana guru bisa tahu semua itu hanya dari beberapa detail tadi? Rasanya tak mungkin bisa menebak sedemikian akurat."
Guru mengangkat cangkir, minum seteguk, lalu perlahan berkata, "Sebenarnya tidak sulit untuk menilai dengan tepat. Cukup perhatikan setiap gerak-gerik dan ucapan seseorang, dari cara berjalan dan suaranya saja bisa diketahui apakah orang itu jujur atau tidak. Pernahkah kau berpikir, jika yang duduk bersamamu hari ini adalah musuh, maka seluruh rahasiamu sudah terbaca olehnya sementara kau tidak tahu apa-apa tentangnya? Jika demikian, kau sudah kalah satu langkah. Siapa pun yang ingin menjadi besar harus tetap tenang di mana pun, menghadapi ancaman dan kesulitan tanpa menunjukkan perubahan di wajah. Dengan begitu, orang lain tidak mudah menemukan kelemahanmu, bahkan secara tak kasatmata dapat memberi tekanan pada lawan. Inilah kunci kemenangan, ingatlah baik-baik."
Mendengar perkataan guru, aku merasa mengerti sesuatu. Lalu aku berdiri dan membungkuk hormat, "Apa yang guru katakan akan selalu kuingat. Terima kasih atas nasihatnya." Guru hanya melambaikan tangan, "Mengerti saja sudah cukup. Jalan menjadi seorang Guru Agung memang penuh rintangan. Kalau kau lebih waspada, jalanmu akan lebih mulus."
Aku mengangguk lagi lalu duduk kembali. Setelah itu, aku menceritakan tujuanku datang serta semua kejadian dua hari terakhir. Guru hanya mengangguk pelan dan berkata, "Karena kau sudah memutuskan untuk ikut campur, aku akan membantumu. Selain itu, aku sudah berdiskusi dengan ketua Wudang. Ia sangat bersedia membantumu membangun kembali Istana Guru Agung. Namun, dalam proses pembangunannya, akan diadakan pertarungan. Hanya jika kau mengalahkan para pemuda terbaik generasi sekarang, mereka akan mengakui keberadaan Istana Guru Agung. Ini juga tuntutan dari beberapa kekuatan besar lainnya. Waktunya ditetapkan pada hari terakhir bulan ini. Hari ini tanggal lima belas April, jadi masih ada lima belas hari lagi. Lokasinya di pinggiran kota, jauh dari pusat. Bentuk pertarungannya mengikuti aturan dunia Yin. Nanti akan dijelaskan detailnya padamu. Bagaimana menurutmu?"
Mendengar ucapan guru, aku agak bingung. Perkembangannya terlalu cepat, aku sendiri belum siap. Bagaimana kalau nanti aku kalah telak, bukankah sangat memalukan?
Melihat keraguanku, guru melanjutkan, "Sebelumnya aku tidak memberitahumu karena kabar ini baru saja datang, dan kebetulan hari ini kau juga ada urusan kemari. Sekalian saja aku sampaikan. Guru tahu kau sedikit terbebani, tapi cepat atau lambat ini memang harus dihadapi. Dengan dukungan Wudang, peluangmu menang lebih besar. Yang terpenting, mampukah kau mengalahkan para pemuda andalan itu satu per satu."
Aku mengernyitkan dahi mendengar kata-kata guru. Memang benar semua perkataannya, tetapi aku khawatir dengan kekuatanku saat ini sulit mengalahkan para pemuda pilihan itu. Sudah disebut sebagai andalan, pasti mereka sangat hebat. Mengalahkan mereka jelas bukan urusan mudah.
Setelah berpikir matang, aku mengangguk dan berkata, "Meskipun semuanya terasa mendadak, aku tetap akan berusaha semaksimal mungkin."
Guru mengangguk pelan mendengar jawabanku, lalu berdiri membawaku masuk ke kamar.
Meski urusan pertarungan penting, tapi hal yang ada di depan mata harus segera diselesaikan. Begitu masuk kamar, guru dengan cekatan menata formasi ritual. Namun kali ini, ia tak berniat turun tangan langsung, melainkan menyuruhku mencoba lebih dulu. Jika aku tak mampu menjaga formasi, barulah dia akan menggantikan.
Aku menghafal mantra dan gerakan tangan, lalu memanggil Qing'er untuk melindungiku. Setelah semuanya siap, aku berdiri di depan formasi, kedua tangan mulai membentuk segel dengan cepat, mulut terus melafalkan mantra tanpa henti. Selesai mengucapkan mantra, aku menjepit selembar jimat dengan satu tangan lalu melemparnya ke depan. Jimat itu melayang di udara, tetap menggantung. Saat itulah, aku mengambil pedang kayu di meja, mengalirkan energi spiritual, dan menudingkan ujungnya ke jimat. Seketika jimat menyala, api hijau redup membakar hingga habis, lalu di atas cermin Bagua muncul sebuah bayangan.
Agar bayangan itu tetap jelas, aku harus terus-menerus mengalirkan energi spiritual ke cermin. Aku mengangkat cermin itu dengan satu tangan, mataku terpaku pada gambaran di dalamnya. Hitam dan Putih, dua entitas penjaga kematian, tampaknya merasakan kekuatan jimat, segera memperlihatkan wujud aslinya. Kini mereka berdiri di luar sebuah vila. Sekejap kemudian, keduanya menghilang dari tempat itu. Ketika bayangan di cermin bergetar, mereka sudah berada di dalam vila, lebih tepatnya di ruang bawah tanah. Sama seperti penjelasan Liu sebelumnya, ruang bawah tanah itu sangat gelap, di dinding sekelilingnya hanya ada beberapa lilin menyala. Dengan pencahayaan temaram itu, aku bisa melihat situasi di dalam.
Ruang bawah tanah itu luasnya sekitar seratus meter persegi. Di tengah ruangan terdapat dua peti mati tembaga yang kedua-duanya tertutup rapat, tidak terlihat apa isinya.
Kemudian bayangan di cermin bergerak, memperlihatkan sebuah altar. Melihatnya, wajahku berubah. Altar itu persis seperti yang kulihat ketika guru melakukan ritual, dan di depannya juga ada satu peti mati tembaga, hanya saja yang satu ini terbuka.
Seperti dugaanku, di dalamnya terbaring kepompong mayat milik Wang Can yang pernah kulihat tempo hari.