Bab Lima: Kasus Lompat dari Gedung di Sekolah
Melihat tingkah sahabatku yang konyol itu, aku hanya bisa menghela napas penuh rasa putus asa. Akhirnya, aku turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Saat aku keluar, dia pun menyadari aku sudah bangun dari tempat tidur. Dengan cepat ia berkata, “Asrama Wu Di malam ini pasti sepi, dua orang itu mungkin keluar lagi cari pacar. Temani aku makan, ya. Sekalian kita ajak Si Enam. Baru saja aku main game sama dia, sombongnya sudah mulai naik, nanti lihat saja bagaimana aku balas dia.” Aku pun mengangguk singkat, tak berpikir panjang. Kami memang sudah akrab, jadi tak perlu canggung. Terlebih lagi, aku, Yang Dali, dan Si Enam memang sudah seperti saudara sendiri. Pergi makan bersama adalah hal biasa.
Aku mengambil ponsel, menelepon Si Enam, menyuruhnya cepat turun untuk makan bersama. Sambil menunggu, aku duduk di kursiku, membuka forum kampus, dan mataku terpaku pada sebuah postingan yang menarik perhatian.
Postingan itu menceritakan tentang kasus bunuh diri yang terjadi lima tahun lalu di kampus kami. Korbannya adalah seorang mahasiswa tingkat dua bernama Liu Hai yang bunuh diri dengan melompat dari gedung, konon karena patah hati setelah putus dengan pacarnya. Sampai di sini, sebenarnya tak ada yang istimewa, kejadian serupa terjadi di mana-mana. Namun, yang membuatnya aneh adalah kelanjutannya.
Diceritakan bahwa tepat setahun setelah kematian Liu Hai, di malam yang sama, di tempat yang sama, mantan pacarnya pun melompat bunuh diri. Menurut cerita para teman sekamarnya, sebelum melompat, ia berdandan sangat cantik, memakai riasan tebal dan mengenakan gaun merah menyala yang sangat mencolok. Setelah selesai berdandan, ia tiba-tiba berbicara kacau sambil tertawa, “Hehehe, aku akan menikah denganmu. Hari ini aku menikah denganmu, hehehe.” Belum sempat teman-temannya bereaksi, ia sudah lari keluar sambil mengucapkan kata-kata aneh itu. Awalnya mereka mengira itu hanya lelucon, tapi tak lama kemudian kabar bunuh dirinya pun sampai ke telinga mereka.
Saat aku masih asyik membaca, suara Si Enam terdengar dari luar pintu, “Cepat, ayo makan! Kalau telat nanti cuma kebagian air cucian piring!” Mendengar suara itu, aku pun menyimpan ponsel, menepuk bahu Yang Dali, memberi isyarat bahwa Si Enam sudah datang dan saatnya pergi makan. Ia langsung mengerti, buru-buru melepas headset, mengambil sepasang sepatu olahraga entah sudah berapa hari dipakainya lalu buru-buru disarungkan ke kaki. Setelah itu, ia bahkan mendekatkan tangan ke hidung untuk mencium aroma sepatunya, lalu berkata dengan wajah nakal, “Inilah baunya, abang suka!” Melihat kelakuannya, aku hanya bisa menampilkan senyum kecut.
Mungkin karena sudah terlalu lama berteman, rasa jijik di hati pun tak terlalu kuat. Aku hanya bisa menggelengkan kepala tanpa daya, melambaikan tangan padanya dan membuka pintu, lalu kami bertiga pun berangkat ke kawasan komersial. Karena saat itu sudah hampir pukul setengah delapan, kantin kampus pasti sudah tutup, jadi kami memilih makan di kawasan komersial kampus.
Dalam perjalanan, Si Enam membicarakan soal postingan yang baru saja aku baca. “Kalian sudah lihat forum? Cerita ini lagi heboh. Katanya arwah perempuan itu setiap tahun akan muncul di tempat mereka bunuh diri, menari dengan gaun merah, dan katanya sangat cantik. Cewek itu, kalau nggak salah namanya Wang Can. Kapan-kapan kita coba lihat, gimana?”
Mendengar itu, aku tak merasa apa-apa. Toh aku baru saja membaca bab tentang makhluk halus di Buku Catatan Dewa Tao, mulai tertarik pada hal-hal semacam ini, apalagi di situ juga diajarkan cara menghadapi makhluk gaib. Karena sudah memilih untuk percaya, aku pikir tak ada salahnya mencoba suatu saat nanti.
Yang Dali langsung menanggapi dengan nada bercanda, “Bro, orang hidup aja aku nggak bisa urus, apalagi hantu! Aku nggak punya hobi aneh-aneh, lagi pula kalau sampai disedot arwah perempuan itu, tamatlah riwayatku.” Ia berkata dengan serius, namun aku sudah terbiasa dengan omongannya yang suka ngawur, maklum sudah tiga tahun satu atap.
Saat makan, Si Enam kembali menceritakan soal kasus bunuh diri itu. Sebagian besar hanya gosip dan bualan, namun ada satu hal yang menurutku mungkin benar, yakni arwah perempuan bergaun merah masih sering terlihat di tempat ia mengakhiri hidupnya.
Dulu mungkin aku takkan percaya, tapi sekarang sudut pandangku sudah berubah sejak aku mulai mempelajari benda peninggalan Kakek. Terlebih, kisah itu sudah menyebar bahkan sebelum aku masuk kampus ini. Meskipun banyak yang membesar-besarkan cerita itu, tetap saja ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan secara logika. Dari penilaianku, meski arwah itu memakai gaun merah, ia bukanlah hantu jahat. Selama bertahun-tahun tak pernah ada korban jiwa di sana, menandakan ia tak berniat mencelakakan orang. Mungkin ada keinginan yang belum terpenuhi sehingga arwahnya masih terikat di tempat itu. Namun, ini hanya dugaanku. Kepastiannya baru akan terungkap bila aku benar-benar bertemu dengannya.
Setelah makan seadanya, kami kembali ke asrama masing-masing. Si Enam kembali ke kamarnya, Yang Dali lanjut main game, sedangkan aku membuka kembali Catatan Dewa Tao. Kali ini aku mempelajari bagian tentang simbol dan jampi. Sambil meneliti, aku mencoba menggambar di atas kertas kosong. Yang paling membuatku takjub adalah adanya simbol yang disebut Jampi Bertanya Arwah. Simbol ini bukan untuk mengusir makhluk halus, melainkan sebagai media komunikasi antara manusia dan arwah. Biasanya arwah tak berbicara bahasa manusia, mereka memiliki bahasa sendiri yang disebut Tianwen, atau yang biasa disebut orang sebagai “bahasa hantu”. Dengan simbol ini, kita bisa saling memahami, sesuatu yang sangat menarik menurutku.
Sepanjang jalan pulang, aku sudah merencanakan untuk malam ini, tepat tengah malam, pergi ke tempat Wang Can dulu mengakhiri hidup, berharap bisa bertemu arwahnya. Apalagi aku sudah mempelajari beberapa cara menundukkan makhluk halus, walaupun untuk saat ini kemampuan yang kupunya masih terbatas. Cara lain membutuhkan sesuatu bernama energi spiritual yang masih belum bisa kugunakan. Karena itu, setibanya di asrama, aku mulai bersiap-siap.
Aku menggambar beberapa jampi pelindung dan dua simbol untuk bertanya arwah. Namun, proses ini cukup melelahkan, karena untuk menggambar simbol-simbol ini dibutuhkan cinnabar, sementara aku tak punya, jadi aku menggunakan darahku sendiri sebagai pengganti. Buku itu mengatakan darah di jari tengah manusia sangat kuat energinya, sehingga bisa menggantikan cinnabar untuk memperkuat efek jampi. Dengan tekad bulat, aku melukai jari tengah dan mulai menggambar di kertas kosong.
Meski di film-film biasanya menggunakan kertas kuning, aku tahu sebenarnya kertas apa pun bisa asal lambangnya benar. Setelah selesai, aku mengambil pisau buah dari laci, mengoleskan darah ke bilah pisau sebagai perlindungan tambahan. Walaupun aku yakin arwah perempuan itu tak berbahaya, berjaga-jaga tetap perlu. Setelah semuanya siap, aku duduk di kursi dan memainkan ponsel.
Waktu berlalu tanpa terasa, dan aku justru semakin gugup. Entah karena takut atau cemas, tubuhku terasa panas dan keringat terus bercucuran. Saat tengah malam tiba, kausku sudah basah kuyup. Setelah mengambil keputusan besar, aku pun membuka pintu dan keluar. Saat itu sudah tengah malam, penghuni asrama lain sudah lama mematikan lampu dan tidur. Aku melirik Yang Dali, ia masih asyik bermain game, sama sekali tak menyadari apa yang kulakukan. Melihatnya, aku hanya bisa menggelengkan kepala, dalam hati bertanya, “Benarkah game itu sepenting itu?” Dengan perasaan tak berdaya, aku menutup pintu dan berjalan sendiri menuju tempat itu.
Lima tahun lalu, Liu Hai melompat dari jendela lorong lantai empat asrama putra yang berada di lantai lima. Setahun kemudian, pacarnya Wang Can juga melompat dari tempat yang sama. Kebetulan, kami tinggal di lantai lima, di bagian paling dalam, jadi dari kamar ke lorong itu masih harus berjalan agak jauh. Sambil berjalan, aku berpikir, kenapa seorang gadis bisa masuk ke asrama putra lalu bunuh diri? Apakah tidak ada yang melihat? Atau petugas asrama sedang tidur?
Memikirkan hal-hal seperti itu hanya untuk menenangkan diri dari rasa takut. Bagaimanapun, aku juga manusia normal, belum pernah melihat hantu, paling banter hanya nonton film horor. Mengingat adegan-adegan menyeramkan itu saja sudah membuat bulu kudukku merinding. Karena itu, aku memilih memikirkan hal-hal lain yang tidak terlalu menakutkan.