Bab 88 Pelatihan Magang Dimulai
Para mahasiswa magang dari berbagai perguruan tinggi berbondong-bondong naik kereta menuju ibu kota untuk menjalani masa magang mereka.
Gedung utama markas Teknologi Longhan membuat semua orang terkagum-kagum. Walaupun sebelum datang mereka sudah mendengar bahwa Longhan adalah perusahaan yang mengembangkan perangkat lunak komputer, namun pada masa itu industri komputer dalam negeri masih sangat kecil. Hampir semuanya hanyalah usaha rumahan berskala kecil. Selain beberapa pabrik perakitan komputer terkenal yang jumlahnya sangat terbatas, tak ada nama besar lain di bidang ini. Awalnya, mereka mengira Longhan hanyalah sebuah perusahaan perangkat lunak swasta kecil yang kebetulan merekrut di kampus mereka. Namun, setelah tiba, barulah mereka sadar bahwa perusahaan itu memiliki sebuah gedung perkantoran megah yang tampak sangat berwibawa.
Begitu masuk ke dalam, mereka semakin terperangah. Dekorasi yang rapi, kantin yang indah dan bersih, area kerja yang luas, pusat riset dan pengembangan yang dipenuhi komputer, bahkan ada juga ruang hiburan dan rekreasi. Apakah ini benar-benar perusahaan swasta ala kadarnya seperti yang sering mereka dengar? Sejak kapan perusahaan swasta punya kekuatan ekonomi semacam ini?
Tentu saja semua orang dibuat terkesima. Akan tetapi, Suhan tidak mengundang mereka hanya untuk melihat-lihat. Jika ingin benar-benar mulai bekerja, mereka harus mengikuti pelatihan pra-kerja. Metode pelatihannya adalah mempelajari sistem Linux. Walau para mahasiswa ini adalah putra-putri terbaik bangsa, kenyataannya fasilitas perangkat keras di universitas-universitas dalam negeri masih sangat terbatas. Sebagian besar hanya mendapatkan teori dalam bentuk tulisan, jarang sekali ada kesempatan benar-benar menggunakan komputer. Kalaupun ada, yang tersedia hanyalah mesin tua dari tahun 80-an, sehingga mereka hampir tak punya keterampilan praktis.
Di mata Suhan, anak-anak ini hanyalah pemula yang benar-benar belum punya kemampuan kerja. Mereka harus belajar dari awal. Pelatihan selama masa magang ini dipimpin oleh Suhan bersama kakak tingkatnya. Meski Suhan sangat hebat, ia tetaplah hanya satu orang. Menghadapi hampir seribu lima ratus peserta magang sekaligus tentu sangat berat jika ditangani sendirian.
Ketika para mahasiswa magang mengetahui bahwa ketujuh pembimbing mereka adalah mahasiswa doktoral dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Moshui, mereka pun makin terkejut. Universitas Moshui adalah kampus terbaik di negeri ini, dan siapa pun yang bisa masuk ke sana pasti adalah yang terunggul. Apalagi jika sudah bergelar doktor, tentu saja mereka adalah para jenius di antara para jenius, tak tertandingi oleh siapa pun.
Namun, yang membuat mereka heran, Suhan tampak sangat muda, wajahnya pun tak jauh berbeda dengan mereka. Benarkah dia juga mahasiswa doktoral di Universitas Moshui? Rasanya sulit untuk dipercaya! Namun karena Suhan adalah pembimbing pelatihan, mereka pun tak bisa bertanya lebih lanjut. Lebih penting lagi, para doktor lain dari Moshui pun tampak menjadikan Suhan sebagai pemimpin. Sebab, Suhan selalu berdiri di tengah, dan setiap karyawan di perusahaan ini pun selalu menyapanya terlebih dahulu. Para mahasiswa magang ini tentu bisa menilai, posisi Suhan di perusahaan jelas tidak biasa.
Bagi Suhan, para peserta magang ini belumlah bawahannya. Ia juga belum tahu kemampuan mereka, sehingga harus melakukan seleksi untuk menilai sejauh mana keahlian mereka. Cara terbaik adalah melihat siapa yang dalam waktu singkat bisa menguasai berbagai perintah Linux dan meraih nilai tinggi dalam ujian. Berdasarkan hasil ujian tersebut, Suhan membagi mereka ke dalam tujuh kelompok, masing-masing berisi lebih dari dua ratus orang. Kelompok A dengan nilai tertinggi akan dilatih langsung oleh Suhan, sementara sisanya ditangani oleh enam pembimbing lain.
Suhan juga tahu, ada beberapa mahasiswa yang tipe pembelajarnya lambat dan butuh waktu untuk berkembang. Karena itu, seleksi awal ini bukanlah penentu segalanya.
Setelah pelatihan resmi dimulai, para peserta magang menemukan hal yang luar biasa—mereka diminta untuk mempelajari bahasa pemrograman komputer baru bernama Long (Naga). Masalahnya, mereka sama sekali belum pernah mendengar bahasa ini sebelumnya.
Belajar bahasa pemrograman yang benar-benar baru tentu saja membuat hati mereka tidak tenang. Bagi mereka, magang adalah kesempatan untuk mengasah kemampuan pemrograman. Pada masa itu, mahasiswa komputer di dalam negeri hampir semuanya belajar C, Basic, atau yang lebih visioner belajar C++. Kini, Suhan meminta mereka mempelajari bahasa yang sama sekali baru, tentu saja membuat mereka merasa ragu. Jika bukan bahasa internasional yang populer, lalu apa gunanya magang di sini?
"Pak Su! Saya ingin bertanya. Bahasa Long yang Bapak sebutkan tadi, saya sama sekali belum pernah dengar. Apakah ini bahasa pemrograman terbaru yang sedang populer di dunia?"
"Bukan! Ini adalah bahasa pemrograman yang benar-benar baru. Saat ini, masih sangat sedikit orang yang mengetahuinya."
"Jika belum banyak yang tahu dan bukan bahasa populer, mengapa kami harus mempelajarinya? Bukankah seharusnya kami belajar bahasa yang sedang tren, seperti C++ atau Basic?"
Yang lain pun ramai-ramai mengangguk. Menurut mereka, magang di perusahaan mana pun tujuannya untuk mendapatkan pengalaman. Jika tak bisa mendapat pengalaman, bukankah magang hanya membuang waktu saja?
Suhan menjawab, "Produk-produk yang akan dikembangkan perusahaan kami ke depan semuanya akan berbasis pada bahasa Long. Jika kalian tidak mampu menguasai bahasa Long dengan baik, maka kalian tidak akan bisa bekerja di perusahaan ini."
Mendengar itu, mereka saling berpandangan, tak tahu harus berkata apa. Perusahaan ini berani-beraninya hendak mengembangkan produk dengan bahasa yang bahkan belum pernah mereka dengar. Jangan-jangan mereka sudah gila?
"Pak Su! Kami datang dari jauh ke sini untuk magang, ingin mendapatkan lebih banyak pengalaman. Jika harus belajar bahasa yang sama sekali baru, bukankah ilmu yang kami pelajari selama kuliah ini jadi sia-sia? Saya harap Bapak bisa menyampaikan pada pimpinan perusahaan, sebaiknya tetap menggunakan bahasa pemrograman yang sudah umum. Dengan begitu, produk bisa cepat dipasarkan dan daya saing pun meningkat. Bukankah benar begitu, teman-teman?"
"Benar! Menggunakan C++ atau Basic dari perusahaan Mikrosistematika juga sudah sangat baik," ujar yang lain, mengangguk setuju.
Suhan menjawab, "Perusahaan punya rencana pengembangan sendiri. Uang dan sumber daya yang kami keluarkan untuk melatih kalian adalah agar kalian bisa bekerja untuk perusahaan, bukan agar kalian belajar apa saja sesuka hati. Jika merasa lingkungan di sini tidak cocok, pintu perusahaan selalu terbuka. Kami bahkan bersedia menanggung biaya perjalanan pulang pergi kalian, jadi kalian tidak akan rugi untuk mencari magang di perusahaan lain. Tapi siapa pun yang memilih tetap di sini, wajib mengikuti aturan perusahaan. Siapa yang ingin bekerja di tempat ini, hanya ada satu jawaban: Baik, saya mengerti. Tak ada jawaban lain. Sekarang, sudah jelas, bukan?"
Mereka pun saling berpandangan. Tak ada yang bodoh di sini. Longhan menawarkan gaji dua ratus yuan sebulan, jelas bukan untuk wisata, jadi apa pun yang diminta perusahaan, memang harus dilakukan. Meskipun begitu, beberapa orang tetap merasa kurang puas.