Bab 106 Sindiran Pedas dan Cemoohan Tajam
Melihat wajah bibinya yang berkerut masam, Chen Ping hanya bisa terdiam, tak tahu harus berkata apa.
"Kau sekarang sudah jadi bos besar, tinggi di awang-awang. Rakyat kecil sepertiku ini mungkin tidak pantas lagi memanjat hubungan dengan bos besar sepertimu, bahkan tidak pantas lagi menjadi bibimu," ucap Liu Yanzi dengan nada menyindir yang tak kunjung henti saat melihat keponakannya membisu.
Kata-kata itu membuat Chen Ping merasa gelisah, hatinya terasa dingin hingga ke dasar kaki.
Jiang Dajun, yang sedari tadi menahan sabar, akhirnya tak tahan lagi dengan ucapan istrinya yang sembarangan dan mengada-ada. Ia pun mengayunkan telapak tangannya untuk menampar.
Melihat suaminya benar-benar marah dan tamparan itu akan mendarat di wajahnya, Liu Yanzi gemetar ketakutan.
Namun, tamparan itu justru mendarat di wajah Chen Ping.
Liu Yanzi tertegun melihat keponakannya yang menahan tamparan itu. Jiang Dajun pun ikut terpaku, tak menyangka keponakannya akan menghalangi serangan itu. Ia merasa sangat menyesal dan diliputi rasa bersalah yang mendalam terhadap Chen Ping. Jika tahu akan berakhir seperti ini, ia tidak akan menelepon keponakannya untuk datang.
"Paman, Bibi, berhentilah bertengkar. Memecat Bibi memang salahku, tapi aku sudah memikirkan pekerjaan yang lebih baik untuk Bibi, yaitu menjadi bos. Sekarang aku akan meminjamkan kalian seratus lima puluh ribu untuk bergabung dengan waralaba supermarket Pinggou!"
"Sekarang supermarket kecil itu sedang ramai. Keponakan kalian, Li Zijun, sudah bergabung dengan dua gerai dan sepertinya meraup banyak keuntungan. Lokasinya pun sudah kupilihkan untuk kalian. Mengenai uang pinjaman ini, kembalikan saja nanti setelah kalian mendapatkan untung," ujar Chen Ping sambil menyerahkan tas kepada pamannya.
Sebenarnya, sejak saat ia memecat bibinya, ia sudah berniat menyuruh bibinya membuka supermarket kecil. Meskipun ia meminjamkan uang untuk modal, biaya waralaba itu tetap akan kembali ke kantongnya sendiri. Ini hanyalah cara halus agar bibinya bekerja untuknya.
Ia meminjamkan uang itu semata-mata demi paman dan neneknya. Dahulu, selain ibunya, hanya paman dan neneknyalah yang bersikap baik padanya. Terutama sang nenek, yang sangat menyayanginya hingga diam-diam memberikan uang saku saat ia masih kecil. Bahkan bibinya pun cemburu melihat perhatian nenek kepadanya dan sering menjelek-jelekkan nenek di desa, mengatakan bahwa nenek lebih menyayangi cucu dari pihak luar daripada cucu kandung sendiri.
Meski bibinya agak matrealistis, Chen Ping tetap berharap paman dan bibinya tidak bertengkar, tidak bercerai, dan hidup rukun serta utuh sebagai sebuah keluarga. Bagaimanapun mereka adalah kerabat, jadi sebagai yang lebih muda, ia tidak perlu memperhitungkan kesalahan bibinya.
"Baiklah!" Mata Liu Yanzi langsung berbinar mendengar angka seratus lima puluh ribu itu. Ia berhenti mengamuk dan sikapnya seketika berubah manis.
Melihat kelakuan istrinya yang tergiur uang, Jiang Dajun hanya bisa menggeleng pasrah.
"Xiao Ping, sebelumnya Bibi yang salah. Selama kau bekerja di toko, Bibi telah membuat banyak masalah," ucap Liu Yanzi sambil menggandeng tangan Chen Ping dengan nada tulus yang dibuat-buat, bahkan lebih meyakinkan daripada akting seorang aktor. Benar-benar sebuah perubahan sikap yang mendadak.
Chen Ping hanya bisa menahan tawa melihat bibinya yang berubah sikap secepat membalik telapak tangan. Namun, ia sudah terbiasa dengan tabiat bibinya itu.
Chen Ping memberikan detail lokasi ruko yang sudah dicarikannya kepada sang paman dan memintanya untuk mengurus negosiasi serta proses waralaba sendiri. Ia sudah menyiapkan segalanya, sehingga sang paman hanya tinggal menjalani prosedurnya saja.
Jiang Dajun menatap keponakannya dengan haru, tak mampu berkata-kata melihat semua yang telah dilakukan Chen Ping untuk keluarganya.
"Paman, kenapa ekspresimu begitu?" Chen Ping merasa canggung melihat pamannya yang seperti anak kecil, wajahnya tampak ingin menangis.
"Paman hanya merasa bahagia!" jawab Jiang Dajun dengan emosi yang meluap-luap, butuh waktu cukup lama baginya untuk menenangkan diri.
Chen Ping tidak berlama-lama di kontrakan pamannya karena Liu Zhigang baru saja menelepon untuk membicarakan sesuatu. Begitu ia sampai di pinggir jalan untuk menyetop kendaraan, sebuah mobil berhenti di depannya. Sepasang pria dan wanita turun dari mobil itu, dan Chen Ping mengenal keduanya.
Itu adalah Wen Yan dan pacarnya, Wu Hua.
Wen Yan meliriknya dengan tatapan datar, berpura-pura tidak mengenalnya dan berjalan melewatinya begitu saja. Namun, Wu Hua justru menghampirinya dan berkata, "Kau benar-benar tidak berguna, sudah pacaran dengan Wen Yan selama setahun."
"Ternyata kau bahkan belum pernah menyentuhnya, benar-benar pria yang baik. Tentu saja, aku harus berterima kasih karena kau sudah mengalah."
Nada bicara Wu Hua penuh dengan ejekan, penghinaan, dan provokasi. Setelah mengatakannya, ia tertawa terbahak-bahak dengan angkuh.
Sialan! Kau sendiri yang mencarinya!
Chen Ping murka. Ia mengepalkan tangan dan menerjang ke arah Wu Hua, melayangkan tiga pukulan beruntun ke wajahnya. Kecepatan pukulannya membuat Wu Hua tak sempat menghindar.
Sebelum tawa Wu Hua hilang, kepalan tangan yang sekuat banteng itu mendarat di wajahnya. Seketika darah mengucur dari hidungnya dan satu giginya tanggal. Tubuhnya terasa seperti dihantam palu godam, rasa sakitnya luar biasa hingga kepalanya terasa pening dan mati rasa. Chen Ping juga menendangnya dengan keras hingga Wu Hua tersungkur di tanah sambil merintih kesakitan.
Hanya dalam hitungan detik, ia menerima tiga pukulan dan satu tendangan tanpa sempat melawan.
"Sialan, jangan harap kau bisa kabur!" Wu Hua yang kesakitan segera menyetop taksi dan pergi. "Tunggu saja, urusan kita belum selesai!"
"Aduh, aduh!" rintih Wu Hua kesakitan.
Wu Pei (Wen Yan) pun terkejut melihat lawannya langsung main tangan tanpa basa-basi.
"Wu Hua, ada apa denganmu? Siapa yang memukulmu?" Wen Yan yang baru saja membeli minuman di warung terdekat kembali dan mendapati pacarnya sudah tersungkur dengan wajah babak belur dan berlumuran darah. Ia heran, baru dua menit ia pergi, pacarnya sudah jadi seperti ini.
"Itu ulah si Chen Ping," ucap Wu Hua sambil memegangi hidungnya dengan susah payah.
Awalnya, Wen Yan merasa sangat bahagia karena pacarnya baru saja membeli mobil baru. Namun, ia tidak menyangka pacarnya malah dihajar habis-habisan.
"Sialan kau Chen Ping, berani-beraninya memukul pacarku. Aku tidak akan membiarkanmu!" umpat Wen Yan dalam hati dengan penuh dendam, lalu memapah pacarnya ke rumah sakit.
Sementara itu, Chen Ping yang duduk di dalam taksi teringat kata-kata Wu Hua. Ucapan itu seolah mengorek lukanya, itulah sebabnya ia tak bisa menahan diri untuk memukulnya.
Taksi segera berhenti di tempat yang dijanjikan oleh Liu Zhigang. Chen Ping tersadar dari lamunannya, membayar ongkos, lalu turun.
Setelah berdiri tegak, Chen Ping mengamati sekeliling. Ini adalah sebuah gang kecil yang terpencil. Bangunan-bangunan di sini terbuat dari batu bata biru dengan atap genteng, memberikan nuansa era Republik yang kental dan tenang.
Chen Ping berjalan menuju kedai teh dua lantai di depannya. Begitu masuk, aroma kayu yang segar menyambutnya. Kedai itu layaknya penginapan kuno, klasik dan elegan dengan lampion merah yang tergantung, menciptakan suasana yang tenang dan anggun.
Chen Ping tiba di sebuah ruangan kecil di mana Liu Zhigang dan Wan Jian sudah duduk menikmati teh. Melihat ekspresi mereka, sepertinya mereka sedang mengobrol dengan seru.
"Adik Xiao Ping sudah datang, kemarilah," sapa Liu Zhigang dengan sopan begitu melihat Chen Ping di ambang pintu.
"Kalian hebat juga, bisa menemukan tempat yang tenang dan artistik seperti ini," ujar Chen Ping sambil menarik kursi dan duduk.