Bab 133: Tanpa Kendali
“Beri tahu mereka, kira-kira lima belas menit lagi mereka tiba,” jawab seorang pria.
“Bagus.” Qi Guanhong menyunggingkan senyum. Jika anak buahnya segera datang, orang-orang di hadapannya ini tidak akan mudah keluar dari sini.
Berani-beraninya melawanku, Qi Guanhong. Tidak berkaca dulu pada kekuatan kalian sendiri? Sebentar lagi akan kuhajar sampai ibu kalian sendiri tidak mengenali kalian.
“Saudara-saudara, maju! Habisi mereka!” Qi Guanhong tahu bala bantuan sedang dalam perjalanan, sehingga ia bertindak tanpa rasa takut. Ia melambaikan tangan dan menyuruh anak buahnya menyerang.
Kalaupun beberapa orang ini mampu mengalahkan lawan, begitu bala bantuan tiba, mereka pasti akan dibereskan dalam sekejap. Lagipula, lima orang mereka saja sudah cukup untuk mengalahkan lawan.
Melihat keempat anak buah Qi Guanhong menyerbu, Lu Zifan dan Meng Qiang pun bergerak.
Deng Jiejie sebenarnya juga hendak ikut turun tangan, tetapi Chen Ping menahannya.
Sementara itu, Liu Zhibing gemetar ketakutan di sudut. Ia belum pernah melihat situasi seperti ini.
Buk!
Plak!
Lu Zifan dan Meng Qiang langsung terlibat perkelahian dengan keempat lawan mereka.
Tak lama kemudian, ruang bawah tanah itu berubah menjadi arena pertarungan. Meja judi dan kursi di dalam ruangan segera hancur atau terbalik akibat perkelahian enam orang tersebut.
Serpihan kayu beterbangan ke mana-mana. Singkatnya, tempat itu porak-poranda seperti reruntuhan.
Tiga atau empat menit kemudian, empat pria tergeletak di lantai sambil berguling-guling dan meraung kesakitan.
Sementara Lu Zifan dan Meng Qiang berdiri tanpa luka sedikit pun, menatap Qi Guanhong.
Qi Guanhong tercengang. Empat anak buahnya ternyata tidak mampu mengalahkan dua orang lawan.
Apa-apaan ini?
Ia semula mengira keempat anak buahnya setidaknya mampu bertarung imbang dengan lawan. Namun, belum sampai lima menit, mereka sudah terkapar dan tidak sanggup bangkit lagi.
Ketika melihat kedua pria itu berjalan perlahan ke arahnya, ia mulai panik. Jika empat anak buahnya saja tidak mampu melawan mereka, dirinya tentu bukan tandingan keduanya.
Satu-satunya hal yang dapat dilakukannya sekarang adalah mengulur waktu sambil menunggu saudara-saudaranya datang menyelamatkan.
Buk!
Qi Guanhong langsung berlutut dan memohon ampun. Hanya dengan cara itu ia bisa menghindari pukulan lebih lanjut. Orang bijak tidak akan memaksakan diri saat berada dalam posisi terdesak. Seorang pria sejati mampu merendahkan diri maupun bangkit kembali. Kehilangan sedikit harga diri bukan masalah; begitu anak buahnya tiba, ia akan merebut kembali kehormatannya.
Chen Ping dan yang lain memandang Qi Guanhong yang berlutut memohon ampun. Mereka sama sekali tidak menyangka hal itu akan terjadi.
Qi Guanhong, yang biasanya congkak dan merasa dirinya paling hebat, kini berlutut memohon ampun. Tindakan yang tidak biasa itu benar-benar mengguncang pandangan mereka terhadap dunia.
Chen Ping memberi isyarat kepada Lu Zifan dan Meng Qiang.
Sekalipun sudah berlutut memohon ampun, Qi Guanhong tetap harus membayar harganya.
Keduanya serentak mengangkat kaki dan menendang Qi Guanhong sekuat tenaga.
“Aah!”
Qi Guanhong langsung terpental tiga atau empat meter, lalu tubuhnya menghantam lantai seperti bola. Kepalanya terasa berputar hebat akibat benturan, sementara rasa sakit yang menusuk membuatnya bahkan tak mampu berteriak.
Pemandangan Qi Guanhong yang dipermalukan itu sungguh menyedihkan.
Saat itu, Chen Ping memegang sebatang tongkat besi dan berjalan mendekati Qi Guanhong.
“Apa yang ingin kau lakukan?” Qi Guanhong terbaring di lantai. Melihat seorang pria membawa tongkat besi mendekatinya, terutama tatapan dingin serta batang besi yang mengilat itu, bulu kuduknya langsung meremang.
“Tentu saja aku akan melumpuhkanmu, supaya kau tidak bisa terus berbuat jahat,” jawab Chen Ping dingin.
Mendengar itu, Qi Guanhong benar-benar ketakutan. Tanpa sadar ia merangkak mundur. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi tubuhnya tetap tidak mampu bergerak sedikit pun.
“Kau masih berharap saudara-saudaramu datang menyelamatkanmu?” tanya Chen Ping sambil berjongkok di hadapannya.
“Benar, saudara-saudaraku sebentar lagi tiba. Cepat lepaskan aku! Aku mungkin akan mengampunimu. Kalau tidak, kalian semua akan mati tanpa tempat pemakaman!” Qi Guanhong tertawa. Anak buahnya hampir tiba, dan sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan.
“Kau tidak akan sempat menunggu mereka. Buang jauh-jauh harapan itu. Kalau tidak percaya, telepon saja dan tanyakan apakah mereka sudah tiba,” kata Chen Ping dengan tenang, matanya bahkan memancarkan sedikit nada mengejek.
Dengan susah payah, Qi Guanhong mengeluarkan ponselnya dan menelepon salah satu anak buahnya.
Panggilan itu segera tersambung.
“Kak Hong, kau baik-baik saja di dalam? Kami tidak bisa masuk. Di luar ada lima puluh atau enam puluh orang yang menghadang pintu. Mereka menutup jalan rapat-rapat.”
Suara dari telepon terdengar tergesa-gesa dan tegang, seolah-olah baru saja mengalami sesuatu yang mengerikan.
“Kalian tidak bisa menerobos masuk?” Qi Guanhong berteriak sekuat tenaga. Namun, begitu emosinya meledak, rasa sakit kembali menjalar ke sekujur tubuhnya hingga ia meringis dan mengerang.
“Kak Hong, kami benar-benar tidak bisa masuk! Mereka berjumlah lima puluh atau enam puluh orang! Kalaupun kami memaksa, kami tetap bukan tandingan mereka! Kak Hong, apa yang harus kami lakukan? Bagaimana kalau kita memanggil aparat?”
Pria di telepon itu berbicara dengan nada tak berdaya. Ia juga cukup berpengalaman dan pernah menghadapi banyak situasi besar, tetapi belum pernah melihat kerumunan sebanyak ini.
“Panggil aparat, kepalamu!” Qi Guanhong murka saat mendengar kata itu.
Jika aparat sampai mengetahui keberadaan tempat perjudian bawah tanah ini, masalahnya akan menjadi jauh lebih besar. Dalam keadaan seperti ini, lebih baik ia menyetujui dua tuntutan mereka.
“Aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Jika kau masih menolak dua tuntutanku, bukan hanya akan kulumpuhkan kau, tetapi tempat perjudianmu yang lain serta usaha taruhan ilegalmu juga akan kulaporkan kepada aparat.”
Melihat wajah Qi Guanhong yang dipenuhi amarah, Chen Ping melanjutkan, “Kuberikan waktu lima menit untuk berpikir. Waktunya dimulai sekarang.”
Chen Ping kemudian melihat jam, menarik sebuah kursi, lalu duduk sambil menatap Qi Guanhong dengan senyum penuh ejekan.
Qi Guanhong terbaring di lantai dengan rasa sakit yang menyiksa sekujur tubuhnya. Yang paling membuatnya hancur adalah tempatnya telah dihancurkan orang, anak buahnya dipukuli hingga tidak diketahui hidup atau mati, dan mereka dikepung rapat tanpa celah. Ia berteriak memanggil langit, tetapi langit tidak menjawab; ia memanggil bumi, tetapi bumi pun tidak menolong.
Sejak kapan Qi Guanhong jatuh ke dalam keadaan sehina ini?
Hatinya terasa seperti ditusuk sebilah pisau hingga menembus daging, meninggalkan rasa sakit yang menusuk sampai ke tulang.
“Tinggal dua puluh detik.”
Saat mengucapkan itu, Chen Ping sudah berdiri. Kedua tangannya menggenggam erat tongkat besi yang diarahkan ke kaki Qi Guanhong.
Tatapan dingin Chen Ping membuat Qi Guanhong merasakan hawa mengerikan yang menusuk. Tongkat besi hitam pekat di tangannya memancarkan niat membunuh yang kuat.
Qi Guanhong merasa putus asa sekaligus dipenuhi kebencian. Sensasi seolah-olah ribuan semut sedang menggigiti tubuhnya membuatnya ingin mati saja.
Pikirannya kacau. Tatapannya kosong dan kehilangan cahaya. Keangkuhan seorang penguasa telah lenyap sepenuhnya. Ia kini tak lebih dari seekor anjing terlantar yang tidak dipedulikan siapa pun dan bisa disembelih sesuka hati.
“Lima detik lagi,” kata Chen Ping sekali lagi. Suaranya setajam bayonet, membuat kulit kepala meremang.
“Aku setuju.” Qi Guanhong akhirnya putus asa dan menyerah sepenuhnya.
“Baik.”
Chen Ping menjatuhkan tongkat besi itu, lalu menyuruh seseorang membantu Qi Guanhong berdiri. Sebuah kursi ditarik dan didudukkan tepat di hadapannya.
“Sekarang, dua belas saudara kami terluka. Ganti rugi lima puluh ribu untuk setiap orang. Jadi totalnya enam ratus ribu. Cepat serahkan uangnya!”
“Aku tidak punya uang tunai sebanyak itu sekarang. Aku hanya bisa mengeluarkan tiga ratus ribu.”
Enam ratus ribu? Ini benar-benar perampokan.
Qi Guanhong mengertakkan gigi, marah hingga ke puncak kepala, tetapi ia tetap menahan ekspresi tidak puasnya.