Lin Tao kambuh.
Setibanya di ujung lorong, lolongan aneh memecah keheningan senja, bahkan udara di sekitar tampak terdistorsi, sementara banyak orang berkerumun di sana untuk menonton.
Wajah Lin Jiao tampak diselimuti awan gelap. Napasnya pendek dan tak beraturan. Xiang Tianxing melihat kedipan matanya menyiratkan kepanikan dan kebingungan, seolah-olah ia terjebak di tengah kabut tebal tanpa bisa menemukan jalan keluar.
Saat ia mendekat, Lin Jiao justru mengulurkan jemarinya yang gemetar hebat, dengan panik menyingkirkan kerumunan orang.
Suara lolongan itu semakin menusuk telinga, dan kepanikannya pun kian menjadi-jadi.
Xiang Tianxing diliputi firasat buruk.
Benar saja, melalui celah-celah kerumunan, mereka melihat Lin Tao yang telah dirantai kini keluar dari rumah, membenturkan kepalanya dengan liar.
Fitur wajah Lin Tao berkerut dalam kegilaan yang mengerikan dan tak sanggup dipandang. Matanya merah membara dan menyala-nyala, sementara pupil matanya memancarkan kilau kegilaan yang tak terlukiskan, seolah menyembunyikan gunung berapi yang bersiap meletus.
Alisnya berkerut dalam, butiran keringat di dahinya mengalir deras bagai badai hujan, bercampur dengan noda darah, membuat dahinya tampak semakin pucat.
Bibirnya pecah-pecah karena terus-menerus meraung, mengalirkan darah segar. Di antara gigi-giginya tampak keganasan purba, seolah-olah baru saja diterkam oleh binatang buas. Sisa-sisa kewarasannya telah lenyap sepenuhnya.
Gerakannya canggung sekaligus ganas, meronta-ronta sambil menabrak benda-benda di sekitarnya, mengeluarkan auman bagaikan binatang buas.
Para penduduk desa mundur karena ketakutan, memegang garpu dan alat-alat pertanian di tangan mereka, sangat takut jika pria itu berhasil melepaskan diri dari rantainya.
Lin Jiao meminta semua orang untuk membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing, sebab ia hendak membuka rantai itu dan khawatir akan melukai orang yang tidak bersalah.
Namun, siapa sudi kembali? Membuka rantai? Yang benar saja, membuka rantai itu sangat berbahaya. Bagaimana jika orang gila itu berkeliaran dan membunuh orang di rumah mereka?
Xiang Tianxing membantu membujuk orang-orang tersebut, tetapi bukan hanya tidak dihiraukan, ia malah disindir dengan tatapan penuh arti: "Masih muda tapi tidak tahu aturan, sibuk berkencan sampai kakak kandung sendiri pun diabaikan."
Perkataan itu rupanya memicu kemarahan Lin Tao. Pria itu mengubah arah dan menerjang ke hadapan mereka, membuat orang yang tadi berbicara menjerit ketakutan lalu melarikan diri.
"Sudah gila ya, orang gila! Bunuh saja dia, atau kita yang akan mati!"
Lin Jiao berteriak kencang: "Membunuh orang itu melanggar hukum! Kulihat siapa yang berani!"
Penduduk desa membalas berteriak: "Enyah dari desa kami! Membunuh orang memang melanggar hukum, tapi apakah orang gila membunuh orang tidak melanggar hukum?!"
Lin Jiao menerjang ke hadapan Lin Tao dan langsung memeluknya erat: "Kakak, ini aku, ini aku!"
Ia terus-menerus menepuk punggung Lin Tao.
Namun, Lin Tao justru melayangkan sebuah pukulan telak ke perut adiknya, menghasilkan suara hantaman yang tumpul.
Dasar matanya memancarkan kedinginan dan kekejaman. Sambil menatap Lin Jiao yang terbaring di tanah, ia bersiap mencabik-cabik wanita itu sedetik kemudian.
Pukulan dan tendangan menghujaninya bagaikan badai yang datangmenderu.
Wanita itu tidak memiliki tempat untuk menghindar, dan hanya bisa secara refleks melindungi kepalanya.
Lin Tao menubruk tubuh adiknya, lalu mencekik lehernya.
Lin Jiao meronta-ronta dengan putus asa, kedua tangannya mencengkeram erat pakaian Lin Tao, berusaha mendorong pria itu menjauh. Namun, kekuatan Lin Tao terlalu besar sehingga ia sama sekali tidak mampu menahannya.
Nupasnya menjadi pendek dan tidak teratur, jantungnya seakan hendak melompat keluar dari rongga dadanya. Setiap perlawanan membuatnya merasa sangat kelelahan sekaligus putus asa.
Perlawanan Lin Jiao perlahan-lahan melemah. Kapan hari-hari seperti ini akan berakhir?
Tatapan matanya menyiratkan kebingungan dan kekosongan.
Ia tidak lagi meronta, tidak lagi meminta tolong. Ia hanya berbaring diam di atas tanah, membiarkan Lin Tao menghajarnya sekehendak hati, membiarkan rasa sakit dan kepedihan merendam seluruh jiwa raganya.
Ia memejamkan kedua matanya, memalingkan wajah ke arah tempat yang kosong.
Biarlah seperti ini saja.
Xiang Tianxing hendak maju namun ditahan oleh seorang penduduk desa: "Kamu sudah gila, ya?! Sepasang kakak beradik gila ini kambuh setiap bulan sekali, hanya saja beberapa bulan terakhir ini mereka agak mendingan. Dia tidak akan mati, jangan ikut campur! Sebelumnya pernah ada orang yang ikut campur dan hampir tewas dipukuli orang gila itu!"
Xiang Tianxing melepaskan diri dari cengkeraman pria itu, lalu dengan perasaan yang tak terkatakan menarik tubuh Lin Tao.
Sama sekali tidak bergeming!
Lin Tao saat ini sama sekali tidak berbeda dengan binatang buas, ditambah lagi ia adalah seorang pria dewasa yang sedang berada di puncak kekuatan fisiknya.
Baru saja ia melihat bola mata Lin Jiao hampir keluar, dan tatapannya mulai buyar!
Xiang Tianxing memungut sepotong balok kayu di tanah, mengarahkannya ke kepala Lin Tao. Ia tahu saat ini dirinya tidak boleh ragu sedikit pun.
Ia harus memukulnya tepat sasaran dalam sekali pukul, membuatnya pingsan, kumohon.
Ia menghantamkan balok kayu itu dengan keras ke kepala Lin Tao, menghasilkan suara benturan yang tumpul.
Lin Tao bergidik tajam, tetapi tidak menghentikan gerakan tangannya.
Bahkan ia sama sekali tidak melirik Xiang Tianxing, kemampuan kognitifnya telah hilang.
Apa yang harus dilakukan? Haruskah ia memukulnya lagi? Jika pukulannya terlalu keras tanpa perhitungan, apa bedanya dengan pembunuhan berencana?
Para orang dewasa yang berdiri di sekitar hanya menonton pertunjukan, mungkin mereka justru berharap drama ini segera berakhir.
Tidak! Lin Jiao tidak boleh kenapa-napa!
Xiang Tianxing mengangkat balok kayu itu untuk memukul Lin Tao sekali lagi, lalu untuk ketiga kalinya.
Raungan kesakitan Lin Tao begitu memekakkan telinga, hingga akhirnya pria itu melepaskan cengkeramannya.
Tubuh Lin Jiao meronta-ronta kejang bagaikan ikan sekarat yang terlempar ke daratan.
Xiang Tianxing menghela napas lega.
Sebaliknya, Lin Tao bangkit berdiri dan menatap lurus ke arahnya.
Xiang Tianxing menelan ludah ketakutan, mencengkeram erat balok kayu di tangannya.
Lin Tao menerjang dengan buas. Untunglah rantainya tidak cukup panjang, sehingga pria itu hanya bisa mencapai hadapan Xiang Tianxing tanpa bisa mendekat lagi.
Lin Tao tampaknya juga menyadari masalah tersebut, dan setelah meronta sejenak, ia mengalihkan pandangannya ke arah Lin Jiao yang terbaring di tanah.
Gawat!
Xiang Tianxing mengambil inisiatif melangkah maju beberapa langkah agar Lin Tao bisa menjangkaunya.
Lin Tao melayangkan tendangan ke perutnya. Xiang Tianxing langsung meringkuk di tanah tanpa bisa bergerak. Perdarahan lambung, batinnya.
Tidak boleh, Lin Tao kembali melihat ke arah Lin Jiao.
Ia memaksa dirinya untuk bangkit berdiri, lalu berlari menerjang ke belakang Lin Tao dan menggunakan rantai besi untuk melilit leher pria itu erat-erat.
Lin Tao mendadak kehilangan tenaga dan berlutut di atas tanah sambil meraung-raung.
Xiang Tianxing tetap tidak tega untuk membunuh Lin Tao.
Lin Tao menarik tangannya ke belakang dan menyeret Xiang Tianxing ke depan, membuat pemuda itu tersungkur keras ke tanah.
Seketika itu juga, mulutnya dipenuhi rasa amis darah.
Dengan sisa tenaganya, ia merangkak naik ke atas tubuh Lin Jiao, menutupi mata wanita itu dengan tangannya, lalu memeluknya erat-erat.
Merasakan sengatan perih dari luka di tubuhnya serta kehangatan basah di telapak tangannya, ia berbisik lembut: "Jangan takut."
Jantung Lin Jiao berdegup kencang seolah dihantam oleh ribuan palu besi. Detak jantung mereka saling menempel dan bergemuruh dalam irama yang sama.
Udara di sekitar seolah membeku, dan waktu pun seakan berhenti.
Wanita itu menghela napas, mencengkeram kedua lengan Xiang Tianxing, lalu memanfaatkan kelengahan pemuda itu untuk membalikkan badan dengan kuat sambil melayangkan tendangan ke kaki Lin Tao yang terulur.
Lin Tao tersungkur karena tendangan itu, dan saat ia hendak bangkit, Lin Jiao langsung menebas tengkuknya dengan telapak tangan hingga pingsan.
Xiang Tianxing menganga lebar.
Melihat Lin Tao berhasil dilumpuhkan, para penonton membubarkan diri satu persatu.
Rasa takut terhadap Lin Jiao sudah mendarah daging di tulang sumsum mereka. Trik ini sudah dikuasainya sejak kecil, membuat orang-orang tanpa sadar meraba leher mereka sendiri.
Lin Jiao duduk di tanah dengan lemas, menatap Lin Tao yang terkapar pingsan.
Hingga waktu yang cukup lama berlalu, mulut Xiang Tianxing masih terbuka lebar.
Wanita itu seolah baru tersadar dari lamunannya, menoleh ke belakang dan bertanya: "Mulutmu terkilir?"
Xiang Tianxing langsung menutup mulutnya rapat-rapat: "Kamu tidak apa-apa?"
Ia menjawab: "Tidak ada masalah besar, tadi aku hanya sedang tidak ingin hidup lagi."
Xiang Tianxing mengeluarkan suara "Ah?"
Ia melanjutkan: "Merepotkanmu sampai terluka, maaf ya, terima kasih."
Kata-kata penuh rasa bersalah dan ucapan terima kasih itu meluncur begitu saja. Hatinya terasa sakit seolah ditusuk-tusuk jarum.