Bab Tujuh: Tanda Kehidupan
Angin pegunungan bertiup menerpa wajah, dinginnya menembus kulit hingga membuatnya merasa jauh lebih segar. Dalam hati ia hanya menggerutu, “Sialan, benar-benar ular aneh. Katanya mau mengantarku keluar, tapi malah membawaku ke tempat setinggi ini. Bagaimana aku bisa turun sekarang…”
Karena khawatir ular besar itu akan kembali mempermainkannya, ia terburu-buru berlari tanpa memperhatikan sekitar. Tak sadar, kakinya menginjak semak berduri, rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang nyaris membuatnya menjerit. Ia memeluk tangan kirinya yang penuh luka duri, lalu duduk terhempas di tanah. Begitu hendak mencabut duri-duri itu, ia mendongak dan tertegun melihat pemandangan di depan matanya.
Di hadapannya, tampak deretan pohon besar berwarna merah darah, seolah-olah diukir dari karang merah, sangat megah dan indah. Daun-daunnya merah menyala, bening seperti kristal darah. Namun semua itu tidak terlalu ia perhatikan.
Yang benar-benar membuat air matanya menetes adalah, ia akhirnya keluar dari hutan terkutuk itu. Dari kejauhan, tampak sebuah kota berdiri menjulang di atas hamparan padang rumput. Seluruh kota dibangun dari bongkahan batu raksasa seberat ribuan kilogram, sehingga kota itu tampak sangat kokoh dan megah, memancarkan aura yang menggetarkan.
Saat ia tiba di depan gerbang kota, barulah ia sadar sudah ada ribuan orang mengantri dalam barisan panjang yang membentang sejauh beberapa li. Sebagian besar dari mereka adalah manusia seperti dirinya, kebanyakan orang biasa. Selain itu, ada pula beberapa bangsa asing.
Di antara mereka, ada manusia kucing berekor, bangsa kadal bersisik halus di seluruh tubuh, dan beberapa setengah manusia bertanduk satu di kepala. Jumlah bangsa asing yang mengantri di luar gerbang setidaknya dua atau tiga ratus. Sebagian dari mereka berpakaian sangat lusuh dan terhalang di gerbang kota, entah karena alasan apa tidak diizinkan masuk.
Ini adalah pertama kalinya Ye Fan melihat begitu banyak bangsa asing berkumpul bersama, ia pun diam-diam terkejut. Ia tak menyangka bangsa-bangsa ini bisa hidup berdampingan dengan manusia. Melihat semua orang bersikap biasa saja, bahkan sesekali orang-orang dari berbagai bangsa saling bercakap-cakap, hatinya pun perlahan tenang. Sepertinya dunia ini memang tempat hidup berbagai bangsa, nanti ia hanya perlu membiasakan diri.
Memikirkan hal itu, Ye Fan mengangkat kepala memandang ke arah gerbang kota, diam-diam terkesima. Puluhan serdadu bersenjata lengkap dengan wajah serius berjaga di kedua sisi gerbang. Setiap orang yang hendak masuk kota harus diperiksa dengan sangat teliti. Hanya mereka yang lolos pemeriksaan yang boleh masuk. Proses pemeriksaan sangat rinci sehingga barisan bergerak sangat lambat.
Namun, beberapa saat kemudian Ye Fan memperhatikan ada juga orang-orang tertentu yang masuk kota tanpa diperiksa sama sekali, berjalan santai melewati gerbang utama. Para penjaga di kedua sisi gerbang seolah tak melihat mereka dan membiarkan mereka lewat. Meski ia tidak tahu latar belakang orang-orang istimewa itu, ia yakin mereka pasti bukan orang sembarangan.
Setelah menunggu hampir dua jam, akhirnya giliran Ye Fan tiba. Di pintu gerbang, seorang penjaga yang bertugas memeriksa menatapnya datar, mengulurkan tangan dan berkata, “Keluarkan cap hidupmu!”
“Cap hidup?” Ye Fan terkejut mendengarnya. Cap hidup, di bumi sama seperti kartu identitas. Ia memang memiliki satu cap hidup, namun benda itu adalah bukti jati dirinya. Jika identitasnya terbongkar di sini, ia tak yakin kabar itu tak akan sampai ke keluarganya. Jika keberadaannya benar-benar diketahui oleh pengadilan keluarga, nyawanya bisa langsung terancam. Karena itu, ia sama sekali tak boleh menggunakan cap hidup tersebut.
Penjaga yang bertugas memeriksa memperhatikan Ye Fan yang tak kunjung mengeluarkan cap hidup, ia pun sedikit tertegun, lalu bertanya dengan nada heran, “Kau tak punya cap hidup? Apa kau seorang pengembara tanpa kewarganegaraan?”
Melihat Ye Fan tidak menjawab, penjaga itu menganggap Ye Fan mengiyakan. Ia lalu mengeluarkan tongkat logam dari tubuhnya dan men-scan Ye Fan, sepertinya dengan cara tertentu menelusuri asal-usul Ye Fan.
Setelah memastikan Ye Fan memang tidak memiliki inti jiwa dan hanya manusia biasa, penjaga itu tidak lagi mempersulitnya.
Ia pun menyelipkan kembali tongkat logam itu dan memandang Ye Fan sambil berkata, “Ceritakan, dari mana kau mengembara, dan dulu berasal dari negara mana?”
Ye Fan menjawab sedikit kikuk, “Aku juga tidak tahu. Sejak kecil aku selalu mengembara, tidak pernah tahu dari mana asalku.”
Mendengar itu, alis penjaga itu mengerut, “Kalau begitu maaf, orang dengan asal-usul tidak jelas seperti kamu tidak bisa masuk kota, kecuali…”
“Hehe, kecuali apa, Kepala?” tanya penjaga di sebelahnya sambil melirik Ye Fan dengan remeh. “Orang ini juga tidak punya inti jiwa, apa kau berharap dia bisa jadi Orang Terpilih, bebas pemeriksaan, langsung masuk kota? Kurasa dia cuma pengungsi dari negara kecil. Di Benua Takdir, negara besar kecil tak terhitung jumlahnya, berdiri lalu runtuh, runtuh lalu berdiri lagi. Ada saja negara kecil yang terlupakan, itu hal biasa.”
Penjaga itu menatap Ye Fan, “Anak muda, pergilah, tempat ini bukan untukmu.”
“Tak jauh dari sini ada sebuah Kota Budak Takdir, cobalah peruntunganmu di sana. Jika kau bisa menjadi budak takdir, setidaknya seumur hidupmu tidak akan kekurangan makan dan minum. Walaupun negerimu hancur dan tak punya rumah, kau tetap harus hidup.” Penjaga yang bertugas memeriksa menepuk bahu Ye Fan, menunjukkan sebuah arah, lalu tidak menghiraukannya lagi.
“Kepala, Anda benar-benar terlalu baik hati. Pengungsi seperti itu, di Benua Takdir, entah berapa yang mati setiap hari, Anda tak akan sanggup mengurusnya semua,” gumam penjaga di sebelahnya, tampak kurang setuju dengan sikap rekannya.
Namun, saat itu seorang penjaga lain tiba-tiba mendorong pelan penjaga yang berbicara tadi, berbisik, “Diamlah, jangan lupa, Kepala kita juga orang yang negerinya sudah tiada…”
Ye Fan sendiri tak menyangka, setelah bertaruh nyawa dan susah payah keluar dari hutan angker itu, dengan susah payah menemukan sebuah kota, ia malah tidak diizinkan masuk. Setelah menempuh perjalanan semalaman, pakaiannya kini penuh sobekan, sudah berhari-hari ia tak sempat membersihkan diri. Benar-benar tampak seperti gelandangan yang malang.
Melihat penampilan lusuhnya, Ye Fan hanya bisa tersenyum pahit. Ia mendongak, menatap ke arah yang ditunjukkan penjaga tadi…
Dari kejauhan, samar-samar memang terlihat ada kota lain yang terletak sangat jauh.
Sekarang, ia tidak punya pilihan lain. Kalau tidak bisa masuk kota ini, ia hanya bisa menuju kota satunya itu. Di alam liar seperti ini, entah berapa banyak binatang buas mengintai. Jika ia tak segera menemukan tempat berlindung, cepat atau lambat dirinya akan jadi santapan para pemangsa…