Bab Lima Puluh Lima: Menggali
Melihat pemandangan itu, tiba-tiba kulit kepala Yefan terasa merinding. Ia sama sekali tidak percaya bahwa makhluk di depannya itu adalah makhluk tak bernyawa. Pasalnya, bahkan makhluk tak bernyawa dengan tingkat terendah pun bukan tandingannya, dan syarat kelahiran makhluk semacam itu pun sangatlah ketat! Ia sulit membayangkan, di dunia kematian yang begitu luas ini, ia harus seapes itu sampai bertemu dengan makhluk jahat seperti itu.
Namun, pemandangan aneh di depan matanya membuat dia sendiri ragu dengan analisisnya. Ia jelas-jelas melihat bilah tulang yang dilemparkannya menancap tepat pada bayangan hitam itu. Namun, saat kedua bilah tulang itu mengenai target bersamaan, makhluk itu tiba-tiba saja lenyap begitu saja. Yefan tidak percaya, bilah tulang yang ia lempar bisa membuat lawannya lenyap tak bersisa. Cara lawan menghilang yang begitu ganjil pasti ada sebab lainnya.
Sekeliling kembali sunyi senyap, seolah kejar-kejaran barusan tidak pernah terjadi. Sekilas pandang, di sekitarnya hanya ada tanah hitam dan tumpukan tulang belulang putih yang terkubur di dalamnya, tak terlihat sesuatu yang aneh. Bayangan hitam yang tadi terkena serangan Yefan seolah tidak pernah muncul sama sekali.
Yefan pun menenangkan diri. Ia tahu, karena makhluk itu sudah mengincarnya, meskipun sempat terluka, kemungkinan besar makhluk itu tak akan mundur begitu saja. Benar saja, Yefan hanya menunggu beberapa menit di tempat, lalu melihat bayangan hitam samar di kejauhan, sekitar seratus meter dari tempatnya, mengeluarkan jeritan menantang ke arahnya.
Namun, saat Yefan mengejar, bayangan itu langsung berbalik dan melarikan diri. Meski bayangan hitam itu bergerak sangat cepat, Yefan kali ini pun tidak kalah gesit. Kian mendekat, Yefan akhirnya bisa melihat bentuk tubuh bayangan hitam itu dengan jelas. Bentuknya memang menyerupai hantu; kadang-kadang Yefan berpikir, mungkinkah makhluk ini memang benar-benar hantu dari golongan tak bernyawa.
Meskipun makhluk tak bernyawa terkenal abadi, di Benua Takdir sekarang, makhluk seperti itu sudah sangat langka. Namun, tak lama kemudian Yefan merasa pikirannya itu konyol. Kalau memang bayangan itu benar makhluk tak bernyawa, mana mungkin ia bisa membuat makhluk itu lari pontang-panting seperti ini.
Yefan mengerahkan seluruh tenaganya mengejar bayangan hitam di depan, bahkan kini ia tak peduli lagi terhadap konsumsi tenaganya. Ia sangat berharap makhluk yang ia kejar ini adalah binatang aneh berdaging dan berdarah. Dengan begitu, selama ia bisa membunuhnya, setidaknya ia bisa mengatasi krisis kekurangan makanan yang sedang dihadapinya.
Setelah kejar-kejaran selama setengah jam, Yefan perlahan bisa melihat bentuk tubuh makhluk itu. Bayangan hitam itu, saat berlari, menciptakan ilusi optik yang membuat orang percaya bahwa ia adalah hantu dari golongan tak bernyawa.
Namun Yefan bisa merasakan darah yang menguar dari tubuh makhluk itu. Makhluk tak bernyawa adalah makhluk mati sejati, mustahil ada darah yang mengalir dalam tubuhnya. Hal ini membuat Yefan semakin yakin untuk memburu bayangan hitam itu.
Namun, saat Yefan sudah hampir mendekat, dengan kecepatan penuh, tiba-tiba targetnya kembali lenyap. Jika bukan karena ia masih bisa merasakan aura darah dari tubuh lawan, mungkin ia sudah membuang-buang tenaga sia-sia.
Saat itu Yefan pun sadar. Tak heran bayangan itu bisa tiba-tiba menghilang. Rupanya kawasan ini dipenuhi lorong-lorong bawah tanah yang saling bersilangan, sehingga makhluk itu bisa dengan mudah menyelinap ke dalam tanah. Ia memandangi tempat bayangan itu lenyap, samar-samar melihat sebuah lubang di tanah. Setelah menyingkirkan lapisan pasir di atasnya, muncullah lubang selebar setengah meter.
Melihat lubang itu, Yefan sempat tertegun. Lubang sekecil itu paling-paling hanya bisa dilewati seekor anjing pemburu dewasa untuk berburu. Tubuh Yefan memang tidak terlalu besar, namun untuk masuk ke dalam lubang selebar itu, ia harus merangkak.
Menatap lubang gelap pekat itu, Yefan merasa agak kesal. Ia bertanya-tanya, apakah hanya pintu masuknya saja yang kecil, sedangkan di dalamnya lebih luas. Tapi kalau dugaannya salah, masuk tanpa perhitungan hanya akan membahayakan dirinya.
Membayangkan dirinya terjebak di ruang sempit yang tak bisa ia gerakkan tangan dan kaki, sementara di depannya berdiri bayangan hitam yang terus menyeringai, membuat hatinya ciut juga. Namun, kalau harus menyerah setelah susah payah memburu mangsa, ia sungguh tak rela. Tapi sekarang, lawannya sudah bersembunyi di lubang sempit, Yefan bisa apa?
Andai saja ia seorang Pejuang Takdir, menghadapi situasi semacam ini, cukup melempar beberapa bola api ke dalam, tak mungkin bayangan hitam itu berani bersembunyi lagi di sana... Sayangnya, meski sekarang ia punya kekuatan setara dengan petarung bintang dua, semua kekuatannya berasal dari tubuh fisiknya. Jangan kan menciptakan bola api, seberkas api pun ia tak bisa.
Sepertinya bayangan hitam itu juga menimbang kekuatan fisik Yefan yang biasa-biasa saja. Yefan bahkan bisa menduga, makhluk itu pasti tertarik pada daging dan darahnya. Karena di makam ini, selain dirinya sebagai satu-satunya manusia hidup, sisanya hanya kerangka tulang. Ia pun bertanya-tanya, makhluk apa sebenarnya bayangan hitam itu, hingga bisa bertahan di tempat seperti ini.
Namun, makhluk itu tampak sangat cerdas.
Ia tahu memanfaatkan berbagai medan untuk mengakali Yefan. Namun, kali ini Yefan benar-benar nekat. Ia sadar, jika masalah makanan tak segera diatasi, dengan kondisi tubuhnya sekarang, paling ia hanya bisa bertahan seminggu lagi. Saat itu tiba, kalau tak menemukan makanan, ia pasti mati kelaparan di sini.
Sialan, cuma karena lubangnya kecil saja, masa harus takut? Paling-paling, ia perbesar saja lubangnya, lalu masuk ke dalam.
Begitu Yefan mengambil keputusan, ia tak ragu-ragu lagi. Ia mencari beberapa tulang besar di sekitar, mengasahnya menjadi semacam sekop tulang, lalu mulai menggali di sekitar lubang selebar setengah meter itu.
Debu dan tanah beterbangan, Yefan terus menggali makin dalam. Setengah jam kemudian, ia sudah menggali hingga sepuluh meter lebih. Kondisi di dalam sudah sangat buruk. Udara panas dan lembap, tanah dan batu kadang runtuh ke bawah. Situasi seperti itu sangat rawan longsor.
Namun, bagi Yefan, hal itu bukan masalah. Sebagai petarung fisik, kekuatan tubuhnya jauh lebih tangguh dibanding Pejuang Takdir. Selama bukan batu ribuan kilo yang menimpa, longsoran tanah macam itu masih bisa ia tahan.
Kecepatan Yefan menggali sangat cepat. Satu jam berlalu, ia sudah masuk puluhan meter ke dalam. Namun, semakin dalam, gua itu malah makin menyempit. Yefan menduga, bentuk lubang itu memang sengaja dibuat seperti itu oleh bayangan hitam. Kalau saja tadi ia nekat masuk tanpa pikir panjang, mungkin sudah terjebak di dalam.
Setelah menggali sekitar sepuluh meter lagi, tiba-tiba sekop tulangnya seolah menembus ruang kosong. Hati Yefan girang, akhirnya ia berhasil membuka jalan di lubang itu. Setelah menyingkirkan tanah dan batu di depannya, terbukalah sebuah lorong di hadapannya.