Bab 143: Peluang
Keluar dari kedai mi kecil, Xiao Qiang sedang berpikir untuk menelepon Meng Xinlan dan Qin Keren untuk memberi tahu mereka, ketika sebuah mobil van abu-abu perak berhenti di sampingnya. Pintu mobil terbuka, dan terlihat Wang Feiyang sedang duduk di sana mengenakan kemeja bermotif bunga dan kacamata hitam.
Melihat wajah Wang Feiyang ini, Xiao Qiang pun tersenyum.
Sejak pertemuan mereka di Gerbang Naga hari itu, kekuatan Wang Feiyang membuatnya terkejut, namun ia tetap tidak begitu menganggap serius orang yang pernah dikalahkannya itu.
"Tertarik untuk menyelesaikan urusan kita?" Wang Feiyang langsung berkata kepada Xiao Qiang.
Xiao Qiang mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya, menyalakannya, lalu menyipitkan mata dan berkata, "Kau yakin ingin menganggap itu sebagai urusan pribadi?"
Kilatan fanatik melintas di mata Wang Feiyang. "Tentu saja, aku ingin membuatmu hidup lebih baik dari kematian. Jika kau tidak mati, aku tidak akan pernah benar-benar bahagia seumur hidupku."
Xiao Qiang mengangguk dan berkata, "Turun, akan kuajari cara menulis kata 'mati'."
Karena bajingan sepertimu minta dipukul, tinju Tuan ini tidak akan pelit. Tentu saja, Xiao Qiang tidak mungkin benar-benar membunuh Wang Feiyang di depan umum. Selama Wang Feiyang tidak bertindak keterlaluan, Xiao Qiang tidak akan membunuh orang di dalam negeri.
Namun, memberinya pelajaran tetaplah hal yang bagus.
Meskipun saat ini ia masih terluka, Xiao Qiang yakin ia memiliki kekuatan untuk memberi pelajaran kepada Wang Feiyang.
"Aku sudah mencari tempat yang luas dan tenang, kalau punya nyali, ikutlah denganku," kata Wang Feiyang langsung tanpa turun dari mobil.
Xiao Qiang melirik Wang Feiyang seperti melihat orang bodoh, lalu berbalik dan pergi. Ia sama sekali tidak punya waktu untuk berurusan dengan anak orang kaya yang menyebalkan seperti Wang Feiyang.
Wang Feiyang memerintahkan sopirnya untuk mengikuti dan berteriak, "Xiao Qiang, jika kau mengaku kalah, aku, Wang Feiyang, tidak akan mempersulitmu. Satu kaki dibalas satu kaki, biarkan aku mematahkan salah satu kakimu, lalu berlutut dan minta maaf, maka masalah ini kita anggap selesai."
Xiao Qiang tiba-tiba berbalik, menatap tajam ke arah Wang Feiyang dan berkata, "Kau mencari mati?"
Wang Feiyang tersenyum penuh kemenangan. "Benar, aku memang mencari mati, punya nyali untuk membunuhku?"
Xiao Qiang menatapnya dalam-dalam, pada akhirnya berhasil menahan diri, lalu menyunggingkan senyum lebar. "Pakar apa yang sudah kau siapkan untuk menungguku, sampai-sampai kau rela menggunakan provokasi murahan seperti ini agar aku mengikutimu?"
Wang Feiyang terkejut di dalam hati. Ia tidak menyangka Xiao Qiang akan langsung bisa menebaknya secepat itu. Namun, ia tidak berniat menyembunyikannya dan mengangguk. "Senior perguruanku. Mendengar bahwa kau telah mengalahkanku, ia sangat ingin melihat seberapa kuat dirimu sebenarnya. Kenapa, takut? Tertarik untuk bertanding dan menguji kemampuan?"
"Tidak tertarik." Xiao Qiang bahkan tidak menoleh ke belakang, terlalu malas untuk meladeni orang gila ini.
Dulu, Wang Feiyang memang seorang anak orang kaya yang manja, menggunakan segala cara demi mencapai tujuannya, termasuk tipe orang yang cukup gila. Setelah ia mematahkan salah satu kakinya, kondisi psikologis pemuda ini jelas menjadi semakin suram, dan aura kebengisannya semakin kuat. Menjadikan orang seperti itu sebagai musuh berarti ia harus lebih banyak waspada di masa depan.
"Kau akan tertarik."
Melihat Xiao Qiang pergi tanpa menoleh, Wang Feiyang tidak terus mengejarnya. Secercah aura dingin melintas di antara kedua alisnya, disertai senyum sinis. Tindakan dan perilakunya memang terlihat agak gila, namun nyatanya selama bertahun-tahun ini ia tidak pernah melewati batas. Tuan muda dari keluarga terpandang sepertinya tidak cukup bodoh untuk melakukan hal-hal yang melanggar hukum dan peraturan seperti para pemuda kaya raya yang digambarkan dalam drama televisi dan novel.
Tentu saja, bukan berarti ia yang melakukannya sendiri, jadi ia memiliki banyak cara untuk memaksa Xiao Qiang tunduk kepadanya.
"Sudah hampir sembilan tahun. Waktu selama itu saja bisa kutunggu, apa peduliku menunggu beberapa hari lagi? Xiao Qiang, kau cepat atau lambat akan berlutut di hadapanku," ucap Wang Feiyang dalam hati sambil menatap punggung Xiao Qiang yang semakin menjauh.
Keesokan paginya, Xiao Qiang bertemu dengan Li Haoran. Mengendarai mobil dinas Li Haoran, keduanya langsung meluncur menuju Markas Komando Militer Ibu Kota di arah barat laut.
"Lukamu semakin parah?"
Di dalam mobil, Li Haoran mengamati Xiao Qiang sejenak, sementara ekspresi kekhawatiran terpancar di wajahnya.
"Lumayanlah, istirahat beberapa hari juga akan membaik," jawab Xiao Qiang. Kemarin ia sudah menelepon Meng Xinlan dan Qin Keren, mengatakan bahwa ia mungkin akan sibuk beberapa hari ke depan dan agar tidak perlu khawatir jika tidak bisa menghubunginya.
Meng Xinlan tidak banyak bicara, tetapi Qin Keren sangat mengkhawatirannya. Wanita itu menanyakan keadaan luka-lukanya dan bahkan mengatakan bahwa jika ia ada di dekatnya, ia bisa melakukan terapi akupunktur sekali lagi, lalu setelah beristirahat beberapa hari lukanya akan sembuh. Tentu saja, wanita itu tidak tahu bahwa luka Xiao Qiang justru semakin parah.
Namun, Xiao Qiang juga bisa menangkap maksudnya. Bahkan jika Qin Keren tidak lagi menusuknya dengan jarum perak, ia tetap bisa pulih dengan beristirahat. Terlebih lagi, menurut perkataan Qin Keren, luka dalam semacam ini memang membutuhkan waktu pemulihan secara alami, dan mengandalkan jarum perak saja tidak akan banyak membantu.
"Sebaiknya kita bahas saja urusan yang ada di depan mata," Xiao Qiang langsung mengalihkan pembicaraan. Ia justru merasa jauh lebih tertarik pada tugas baru ini.
Ini mungkin tidak bisa dianggap sebagai tugas baru, karena ini adalah sebuah persaingan, sekaligus kesempatan yang sangat bagus.
"Dengan kondisi tubuhmu yang seperti ini, masih berani memikirkan persaingan apa," Li Haoran mendesah tak berdaya.
Xiao Qiang sedikit mengerutkan kening. Ia jarang melihat Li Haoran menunjukkan ekspresi putus asa seperti itu, sehingga mau tidak mau ia bertanya, "Ada apa? Bukankah ini hanya melatih beberapa orang, apa kita harus sampai bertarung antar sesama kandidat?"
Dengan ekspresi serius, Li Haoran berkata, "Kalau itu sih tidak sampai begitu, tapi kesempatan kali ini benar-benar sangat langka, dan aku juga berharap kau bisa memanfaatkan kesempatan ini."
"Anda tidak usah bertele-tele lagi, jelaskan saja bagaimana situasinya," desak Xiao Qiang langsung.
"Meskipun pasukan yang baru dibentuk ini secara struktural masih bernaung di bawah Pasukan Khusus Longyin, mereka sebenarnya hanya menggunakan nama itu saja. Orang yang benar-benar akan memimpin pasukan ini akan dipilih dari antara kalian para kandidat. Dengan kata lain, jika kau bisa memanfaatkan kesempatan ini, pangkatmu bisa langsung naik satu tingkat. Tentu saja, kenaikan pangkat tidak terlalu penting bagimu, yang paling penting adalah kau bisa menggenggam sesuatu yang benar-benar milikmu sendiri, dan pasukan seperti itu hanya akan membuatku tenang jika berada di tanganmu," jelas Li Haoran.
Meskipun ia sudah menangkap sedikit bayangan dari sambungan telepon kemarin, kini setelah mendengarkan petunjuk yang begitu jelas dari Li Haoran, hati Xiao Qiang tetap merasakan gelombang emosi yang luar biasa. Ia merasa darah di dalam tubuhnya mulai mendidih dan bergejolak.
Ia kembali ke negeri ini semata-mata untuk kembali ke akar, untuk membuktikan dirinya kepada semua orang, dan yang lebih penting lagi untuk menyelesaikan tuntas urusan masa lalu itu, serta memperlihatkan kepada orang-orang yang dulu telah memaksanya meninggalkan kampung halaman bahwa Xiao Qiang telah kembali, dan ia hidup dengan sangat baik. Bahkan di masa depan, ia ingin membuat orang-orang serta keluarga yang dulu menekannya jatuh bangkrut sepenuhnya.
Ia harus menjadi lebih kuat, dan ia harus terus naik ke puncak.
Itulah tujuan Xiao Qiang kembali ke tanah air.
Selama tiga tahun ini, ia bekerja dengan sangat baik di Longyin dan kemajuannya sangat pesat. Sekarang ia sudah berpangkat mayor, tetapi itu semua masih belum cukup baginya. Sebab musuhnya terlampau kuat—itu adalah raksasa sesungguhnya, keluarga adikuasa yang bahkan hanya dengan memunculkan satu orang saja sudah bisa meremcukannya.
Oleh karena itu, ia harus terus menjadi kuat, dan ia harus terus menduduki posisi yang lebih tinggi.
Kini, sebuah kesempatan emas terbentang tepat di depan matanya, bagaimana mungkin ia tidak merasa bersemangat?
"Tenang saja, aku pasti akan memanfaatkan kesempatan ini." Dua pancaran cahaya yang sangat teguh melesat keluar dari mata Xiao Qiang, sementara keyakinan diri yang luar biasa meledak dari dalam dirinya.
Li Haoran tertegun sejenak, menatap pemuda itu.
Chu Mubai dan pemuda dari pasukan khusus itu sama-sama sangat kuat. Meskipun belum pernah melihatnya secara langsung, Li Haoran bisa menebaknya. Justru karena alasan itulah keyakinannya pada Xiao Qiang tidak begitu kuat, sebab Xiao Qiang saat ini tidak mampu memulihkan kondisi puncaknya.
Namun sekarang, ketika Xiao Qiang memancarkan aura keyakinan diri yang begitu kuat, Li Haoran kembali dibuat terkejut. Alasan mengapa ia begitu menghargai Xiao Qiang sejak awal, selain karena beberapa alasan yang tidak boleh diungkapkan, yang paling penting adalah semangat dan aura yang terpancar dari diri Xiao Qiang.
Pemuda itu pada dasarnya berhati baik, memiliki prinsip moral dan standarnya sendiri dalam menjalani hidup serta bertindak, serta selalu memegang teguh garis batas moralitas dan aturan hukum di dalam hatinya. Yang lebih langka lagi, di dalam tubuh pemuda ini mengalir semangat kebenaran yang agung, serta ketangguhan yang pantang menyerah dan semakin kuat saat menghadapi lawan yang tangguh.
Bisa dikatakan, selama memimpin Longyin sekian tahun lamanya, Li Haoran telah menemui banyak sekali talenta berbakat, tetapi hanya potensi Xiao Qiang-lah yang sampai detik ini masih belum bisa ia tebak seberapa tinggi batas akhirnya.
Menyaksikan semangat dan keyakinan diri yang kuat terpancar dari tubuh Xiao Qiang, Li Haoran seolah ikut tertular dan terdorong. Ia tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Bagus! Li Haoran tidak pernah salah menilai orang. Kau harus berjuang demi harga dirimu, bajingan kecil, kali ini kau harus berhasil merebutnya!"
"Siap melaksanakan tugas!" ucap Xiao Qiang dengan suara lantang dan ekspresi sangat serius.
"Sialan, konsentrasi menyetir, apakah ini bisa disebut sebagai sebuah tugas?" Li Haoran tidak kuasa menahan diri untuk tertawa sambil memarahi. Keduanya memang berstatus sebagai atasan dan bawahan, namun terkadang mereka lebih terlihat seperti sahabat karib yang melompati perbedaan usia. Li Haoran sangat menyukai perasaan seperti ini, karena hal itu selalu mengingatkannya pada orang lain—seseorang yang bernama Xiao Jianjun.