Bab 138: Membeli dan Menjual Rumah, Siapa yang Masuk Perangkap Siapa
Calon pembeli adalah pasangan muda yang bahkan beberapa tahun lebih muda dari kami. Mereka belum memiliki anak, namun sudah mulai mempertimbangkan untuk membelikan anak mereka rumah di kawasan sekolah unggulan ini.
Sang istri berasal dari Changping, Beijing, sementara suaminya berasal dari luar kota. Suaminya bekerja di bidang teknologi informasi dan telah lama bekerja di Singapura. Sudah dapat ditebak, karyawan yang ditugaskan ke luar negeri umumnya menerima gaji ganda; jika ia menghasilkan empat ratus ribu yuan RMB di dalam negeri, dengan penempatan jangka panjang di luar negeri, gaji tahunannya bisa mencapai delapan ratus ribu yuan RMB.
Tentu saja mereka adalah pasangan muda yang mapan.
Aku dan Jiang Xi sempat penasaran dan bertanya mengapa mereka tidak menetap saja di Singapura.
Pria itu menjawab bahwa dibandingkan dengan di sana, ia tetap merasa hidup di Tiongkok jauh lebih baik, lagipula tekanan hidup di Singapura juga sangat tinggi.
Saat itulah kami memahami pandangan yang berbeda dari setiap orang mengenai Singapura. Sebelumnya, orang-orang di sekitar kami selalu menyebut Singapura bagaikan negara surga—meskipun kecil, sistem hukumnya sangat ketat, pengelolaannya disiplin, dan kualitas sumber daya manusianya tinggi.
Namun, dari pengalaman langsung pasangan muda ini, terbukti bahwa kenyataannya mungkin tidak seindah itu.
Setelah perundingan berlangsung beberapa saat, sang pria dengan nada bicara yang sangat ramah berkata, "Kami memang menyukai rumah ini, tetapi kami hanya mampu membayar hingga tujuh juta seratus lima puluh ribu. Lebih dari itu, kami benar-benar tidak sanggup. Ini pun kami harus menjual satu properti kami terlebih dahulu baru bisa membeli rumah ini."
Memang benar, generasi muda masa kini yang mampu membeli rumah senilai tujuh juta yuan dengan mengandalkan jerih payah sendiri ibarat jarum dalam tumpukan jerami. Kebanyakan dari mereka harus menjual satu properti yang dimiliki lalu menambah sedikit uang untuk membeli yang baru. Kendati demikian, mereka tetaplah yang terbaik di antara yang beruntung.
Bagiku pribadi, tujuh juta seratus lima puluh ribu sebenarnya sudah bukan jumlah yang sedikit, tetapi tampaknya itu masih belum mencapai harga yang diharapkan dalam hati Jiang Xi.
Jiang Xi berkata sambil tersenyum, "Begini, harga tujuh juta seratus lima puluh ribu tentu tidak akan saya lepas. Kalau mau dijual dengan harga segitu, sudah sejak lama terjual kepada orang lain dan tidak akan menunggu sampai bertemu kalian. Saya bersikeras mempertahankan harga tujuh juta tiga ratus ribu makanya bisa bertahan sampai sekarang. Namun, yang perlu saya beritahukan kepada kalian, sekarang harga tujuh juta tiga ratus ribu pun tidak akan saya lepas lagi, karena calon pembeli lain sudah menawar tujuh juta empat ratus ribu. Tidak mungkin saya menolak tawaran tujuh juta empat ratus ribu lalu menjualnya kepada kalian dengan harga tujuh juta seratus lima puluh ribu, bukan?"
Begitu Jiang Xi melontarkan ucapan itu, semua orang tertegun. Ekspresi di wajah setiap orang berbeda-beda, masing-masing menebak apakah perkataannya itu benar atau hanya gertakan.
Tepat pada saat itu, ponsel Jiang Xi berdering. Telepon itu dari Xiao Zhang, agen dari agensi properti Lianjia yang sudah membuat janji sebelumnya.
Jiang Xi mengangkat telepon tersebut tanpa menyalakan pengeras suara, sehingga kami semua tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh penelepon di seberang sana. Kami hanya mendengar Jiang Xi berkata, "Oh! Saya mengerti. Urusan di sini belum selesai, tapi sepertinya sebentar lagi. Begitu selesai, saya langsung pergi ke tempat Anda."
Begitu ia mengatakan itu, Xiao Zhang di ujung telepon langsung menyadari bahwa kami telah diserobot oleh agen lain. Ia lantas berbicara tanpa henti kepada Jiang Xi. Meskipun kami tidak bisa mendengar kata-katanya, kami dapat merasakan betapa ia mendesak dan takut Jiang Xi keburu menjual rumah tersebut.
Jiang Xi membiarkannya berbicara sejenak sebelum berkata, "Percuma Anda bicara banyak kepada saya, karena saat ini ada beberapa pihak yang ingin membeli rumah ini..."
Beberapa pihak? Yang kulihat hanya ada dua pihak.
"Oleh karena itu, sekarang di bawah tujuh juta empat ratus lima puluh ribu tidak akan saya jual."
Pihak di seberang sana kembali mendesak beberapa saat, entah apa yang dikatakannya, hingga kami mendengar Jiang Xi berkata, "Saya sudahi dulu pembicaraannya. Sampaikan saja kepada klien Anda seperti ini: di bawah tujuh juta empat ratus lima puluh ribu tidak akan dijual."
Setelah berkata demikian, Jiang Xi langsung menutup teleponnya, lalu menoleh kepada orang-orang di ruangan itu dan berkata, "Agen dari pihak sebelah bilang tawarannya hampir mencapai tujuh juta empat ratus ribu. Saya tidak bergeming. Sekarang harganya tujuh juta empat ratus lima puluh ribu. Siapa yang tawarannya paling sesuai, kepada dialah rumah ini akan dijual. Kalian harus segera mengambil keputusan. Jika tidak bisa, kami harus segera pergi karena kami tidak boleh menunda penjualan kami, benar kan?"
Jiang Xi berbicara sambil berdiri, memasang ekspresi serius disertai aura ketegasan yang tak terbantahkan.
Menjual rumah saja bisa memancarkan wibawa seperti itu. Jelas ia bisa melihat bahwa pasangan muda ini memang berniat sungguh-sungguh untuk membelinya.
Wanita dari pihak pembeli berkata, "Harga ini sedikit melebihi anggaran kami. Kami suami istri harus berdiskusi terlebih dahulu."
Jiang Xi menjawab, "Silakan berdiskusi sepuasnya!"
Maka, pasangan suami istri itu pun pergi ke ruangan lain di bawah pengaturan agen Xiao Li.
Begitu mereka keluar, aku bertanya kepada Jiang Xi, "Apakah pihak sebelah benar-benar sudah menawar tujuh juta empat ratus ribu?"
Jiang Xi melirikku dengan ekor matanya dan berkata dengan suara pelan, "Diam!"
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. "Baik, Sayang!"
Aku sama sekali tidak menyangka, dalam waktu singkat seperti itu, Xiao Li tiba-tiba masuk kembali. Untung saja Jiang Xi tadi tidak menjawab pertakuanku, kalau tidak, suara yang sedikit saja lebih keras pasti akan terdengar oleh Xiao Li.
Xiao Li berkata sambil tersenyum, "Kak, coba lihat apakah harganya tidak bisa dibuat sedikit lebih longgar? Klien saya ini tidak mudah untuk bisa membeli rumah seperti ini. Pasangan muda, uangnya tidak begitu banyak. Anggaran awal mereka sebenarnya hanya tujuh juta. Namun, mereka sangat menyukai rumah tiga kamar milik Kakak ini karena nantinya ada kamar untuk orang tua, jadi mereka sangat ingin membelinya. Tolong turunkan sedikit harganya, jangan terlalu kaku begitu!"
Jiang Xi berkata sambil tersenyum, "Xiao Li, kalau bukan karena menghargai jerih payahmu menjemput kami dan membelikan mainan untuk putriku, aku sudah pergi dari tadi. Xiao Zhang dari Lianjia sudah meneleponku berapa kali, mereka bahkan sudah menawar tujuh juta empat ratus ribu. Tidak mungkin aku menjualnya di sini seharga tujuh juta seratus lima puluh ribu, kan?"
Mendengar ucapan Jiang Xi, ekspresi Xiao Li langsung berubah cemas karena takut transaksi ini gagal. Ia segera merendahkan nada bicaranya dan berkata, "Kak, kalau begitu berikan saya harga terendah terakhir. Berapa batas minimal potongan harganya agar bisa dilepas? Saya akan sampaikan kepada mereka. Kalau tidak bisa juga, silakan Kakak pergi."
Kalimat terakhir "kalau tidak bisa juga, silakan Kakak pergi" ini juga merupakan strategi para agen properti. Belakangan, setelah sering menemani urusan properti Jiang Xi, aku baru tahu bahwa agen properti tidak akan pernah membiarkan pemilik rumah dan pembeli pergi selama masih ada satu dari sepuluh ribu harapan.
Jiang Xi dengan sangat tenang berkata, "Demi menghargaimu, harga terendahnya adalah tujuh juta empat ratus ribu. Kurang satu sen pun, mutlak tidak boleh! Orang lain saja sudah menawar harga segitu, kalau aku menjualnya lebih rendah lagi, bukankah aku bodoh?"
"Baik, saya mengerti, Kak. Saya akan pergi berunding dengan mereka ya. Kalian jangan buru-buru, tunggu saya di sini ya. Selama saya belum kembali, kalian jangan pergi. Selama saya belum kembali, berarti masih ada harapan ya!"
"Baik! Aku tunggu!" kata Jiang Xi sambil tersenym kepada Xiao Li.
Giliran kali ini, ketika Xiao Li pergi cukup lama dan belum juga kembali, aku tidak dapat menahan diri untuk bertanya, "Tujuh juta empat ratus ribu itu sudah jauh lebih tinggi dari harga pasaran. Apakah benar-benar bisa terjual?"
Jiang Xi memutar bola matanya, seolah baru hendak menjawabku ketika 江东西 (Jiang Dongxi) yang sedari dulu bermain boneka Barbie tiba-tiba menyela, "Papa, Mama sedang mengurus urusan besar, jadi Papa tidak boleh terus-terusan bertanya."
Aku, "..."
"Pft!" Jiang Xi tidak kuasa menahan tawa.
Aku memasang wajah cemberut lalu melirik tajam ke arah Jiang Dongxi.
Jiang Dongxi langsung merangkul lenganku dengan senyum ceria dan merengek, "Duh, maksudku adalah, urusan kecil seperti membeli rumah ini serahkan saja kepada Mama untuk menyelesaikannya. Tugas Papa adalah melakukan hal yang lebih besar!"
Aku meliriknya dari sudut mata. "Apa hal yang lebih besar itu?"
Ia tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Tentu saja menemani putri sulungmu bermain! Mana ada urusan lain yang lebih penting daripada aku? Betul kan?"
Aku tadinya ingin menjitaknya, namun melihat wajah kecilnya yang sangat mirip denganku, sepasang mata besar yang berkilauan, serta senyum penuh kemenangan itu, aku merasa putri sulungku adalah anak paling menggemaskan di dunia ini. "Apa pun yang kau katakan selalu benar!"
Aduh! Kalimat ini sepertinya sudah terlalu sering diucapkan hingga tanpa sadar terlontar begitu saja.
"Ha-ha-ha-ha!"
Jiang Xi dan Jiang Dongxi sama-sama tertawa lepas! Masih apa lagi yang kuharapkan? Asalkan dua orang yang paling penting dalam hidupku ini bahagia, itu sudah cukup!
Tidak lama kemudian, Xiao Li masuk kembali. Dengan ekspresi serius ia berkata kepada Jiang Xi, "Kak, klien benar-benar tidak sanggup membayar tujuh juta empat ratus ribu. Paling banyak mereka hanya bisa menawar tujuh juta dua ratus ribu, itu sudah batas maksimalnya."
Begitu ucapan Xiao Li selesai, Jiang Xi langsung berdiri. Dengan sedikit ekspresi tidak senang di wajahnya ia berkata, "Duh, kalau tidak bisa seharusnya bilang dari tadi! Kalau begitu kami harus segera pergi, klien di sebelah sudah menunggu kami terlalu lama! Saya jadi merasa tidak enak!"
Setelah berkata demikian, ia langsung menarik lenganku dan lengan Jiang Dongxi, lalu melangkah keluar tanpa ragu-ragu.
Agen Xiao Li langsung mencegah, "Jangan dong, Kak. Jangan pergi dulu. Benar-benar sudah tidak ada ruang untuk berdiskusi lagi, Kak?"
Sekalipun ia memanggil "Kak" berkali-kali sekarang, Jiang Xi tetap pura-pura tidak mendengar dan terus menarik kami berjalan keluar. Namun aku juga bisa melihat bahwa langkah kakinya tidak terlalu cepat. Meskipun tampak berjalan terus, langkahnya pelan, dan aku tahu ia sebenarnya tidak benar-benar berniat pergi.
Xiao Li mencegat lengannya di dekat pintu. "Kak, tunggu sebentar lagi ya. Saya akan coba tawar lagi untuk Kakak!"
Jiang Xi berkata, "Saya benar-benar sudah tidak ingin menunggu. Di sana begitu sampai langsung teken kontrak, untuk apa saya buang-buang waktu di sini? Kalau sampai klien di sana keburu kabur, siapa yang akan mengganti kerugian saya?"
"Lima menit saja, Kak. Cukuplah beri saya waktu lima menit. Setelah lima menit kalau masih tidak bisa, saya persilakan Kakak pergi. Kak, lihatlah betapa lelahnya saya dan betapa tulusnya niat saya, berikanlah saya waktu lima menit ini, ya? Tolonglah saya, anggap saja memohon pada adikmu ini, Xiao Li."
Jiang Xi melihat jam di ponselnya dan berkata, "Sekarang pukul tiga lewat dua puluh. Lima menit lagi kalau di sini belum ada kejelasan, saya pasti akan pergi!"
"Baik, baik, baik, Kak. Tunggu ya, saya akan segera kembali!"
Maka, kami bertiga pun berdiri di dekat pintu, tampak seolah-olah bersiap untuk pergi setiap saat, atau mungkin masuk kembali...
Belum ada lima menit, Xiao Li berlari tergesa-gesa menghampiri kami dengan napas tersengat-sengat dan berkata, "Kak, saya sudah berhasil menawarnya sampai tujuh juta tiga ratus delapan puluh lima ribu. Kak, ini sudah batas maksimalnya. Hargailah saya, harga ini benar-benar tidak rendah, Kak. Kalau Kakak pergi ke tempat klien yang lain, belum tentu mereka benar-benar mau memberi harga segitu. Agen kadang-kadang juga suka menggiring opini saja. Bagaimana, Kak? Ambillah harga ini, juallah sekarang. Lihatlah saya sudah bekerja keras selama beberapa hari ini, Kakak juga tidak akan rugi hanya karena selisih satu-dua puluh ribu. Lagi pula, harga awal yang Kakak sebutkan kepada saya adalah tujuh juta tiga ratus ribu. Biasanya untuk rumah senilai ini, potongan harga sebanyak lima belas juta... ah, maksud saya lima belas puluh ribu (maksudnya seratus lima puluh ribu) adalah hal yang wajar. Saya tebak harga yang ada di dalam hati Kakak semula untuk dijual adalah sekitar tujuh juta seratus lima puluh ribu. Hari ini Kakak menjualnya seharga tujuh juta tiga ratus delapan puluh ribu, saya telah membantu Kakak menjualnya lebih mahal dua puluh tiga ribu, Kak. Harga diri dan jasa saya ini sudah cukup, kan?"
Xiao Li pasti sedang mencari pengakuan atas jasanya sendiri. Bagaimana mengatakannya ya? Pertama-tama, tentu saja karena keteguhan mental Jiang Xi. Kedua, Xiao Li memang mendesak kedua belah pihak hingga batas maksimal, pihak mana yang bisa ditekan harganya akan ia kejar. Karena harga di pihak Jiang Xi tidak bisa diturunkan, ia hanya bisa mendesak pihak pembeli. Dari sudut pandang itu, Xiao Li memang memiliki jasa yang besar. Bagaimanapun, berhasil membujuk pembeli untuk mengeluarkan uang lebih banyak bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh agen yang tidak berpengalaman.
Begitu Xiao Li selesai berbicara, aku melihat sedikit perubahan halus pada ekspresi wajah Jiang Xi. Ia tampak ingin tersenyum tetapi ditahan, lalu berkata, "Begini saja, saya akan berdiskusi dulu dengan suami saya, beberapa menit lagi saya beri jawaban."
"Baik, baik, baik, Kak!"
Xiao Li buru-buru menggiring Jiang Xi masuk ke sebuah ruangan, sementara aku dan Jiang Dongxi mengikuti di belakang.
Xiao Li berkata, "Silakan berdiskusi, saya dan klien akan menunggu di luar. Saya juga harus menjaga klien agar mereka tidak kabur, hehe!"
"Pergilah, pergilah!" kata Jiang Xi sambil tersenyum.
Begitu di dalam ruangan hanya tersisa kami bertiga, Jiang Xi akhirnya tidak dapat menahan diri untuk tersenyum lebar.
Melihat senyumannya, aku tentu mengerti, dan aku pun ikut tersenyum, tetapi aku tidak berani berbicara.
Kali ini ia yang berbicara lebih dulu, "Harga ini, saya sangat puas."
Dalam waktu singkat itu, Xiao Li tiba-tiba mendorong pintu terbuka dan berkata dengan tergesa-gesa, "Kak, apakah kalian sudah memutuskan? Kalau tidak bisa, klien juga mau pergi!"
Jiang Xi langsung berkata dengan suara nyaring, "Teken kontrak!"
"Baiklah! Terima kasih, Kak!"
Xiao Li segera bergegas membawa kembali pasangan pembeli itu ke dalam ruangan.
Wajah pasangan suami istri itu tampak kurang begitu cerah, namun terlihat pasrah dan menerima.
Wanita dari pihak pembeli berkata, "Kakak ini benar-benar berpendirian kuat ya. Begitu tahu kami menyukai rumahnya, dengan dalih apa pun harganya tidak mau diturunkan."
Jiang Xi menjawab sambil tersenyum, "Oh, bukan begitu. Alasannya utamanya karena rumah saya memang bagus dan sama sekali tidak sulit untuk dijual. Pihak klien yang lain pun memberikan penawaran harga yang tinggi. Hanya saja saya berpikir kita sudah berunding begitu lama, maka dengan harga yang sama saya utamakan untuk menjualnya kepada kalian terlebih dahulu!"
Mendengar perkataan itu, pasangan tersebut terdiam.
Sang suami berkata kepada istrinya, "Masih mempermasalahkan hal ini untuk apa lagi? Sudah dibeli ya sudahlah, risikonya cicilan bulanan kita bertambah sedikit saja."
Terlihat jelas bahwa pasangan tersebut tidak berhasil membeli rumah sesuai dengan anggaran yang mereka harapkan dan merasa sedikit kecewa, tetapi jika harus melepaskan rumah ini mereka pun tidak rela. Oleh karena itu, dengan tekad bulat mereka membelinya.
Hal-hal semacam ini, menurutku sudah bukan lagi urusan yang patut kami pikirkan sebagai penjual. Kami pun bukan orang suci yang memikirkan cara menghemat uang mereka. Karena mereka sudah bersedia membeli, rupanya mereka masih sanggup menanggungnya.
Demikianlah, setelah itu kedua belah pihak berhasil menandatangani kontrak dengan lancar. Pihak pembeli membayar uang muka sebesar seratus ribu yuan kepada kami, lalu kami pun pergi. Selanjutnya, tinggal menunggu pihak agen membantu pembeli mengurus proses KPR. Ketika prosesnya selesai dan tiba saatnya menandatangani perjanjian kredit, Jiang Xi cukup datang sendirian karena sertifikat rumah atas namanya seorang diri dan tidak memerlukan kehadiran.
Dalam perjalanan pulang, Jiang Xi mengirim pesan kepada Xiao Zhang untuk memberitahukan bahwa rumah tersebut telah terjual. Xiao Zhang menelepon dengan nada sangat kecewa, seolah-olah masih ingin menyalahkan Jiang Xi beberapa patah kata.
"Kak, bagaimana bisa begitu? Klien saya sudah menunggu Kakak selama beberapa jam di sini!"
Jiang Xi hanya mengucapkan satu kalimat, dan pihak di seberang langsung berhenti mengeluh. Ia berkata, "Saya menjualnya seharga tujuh juta tiga ratus delapan puluh lima ribu!"
Pihak di seberang tertegun sejenak, lalu suara yang keluar memancarkan emosi yang rumit—campuran antara penyesalan dan keterkejutan. "Duh, kalau begitu harga jualnya memang tinggi sekali ya."
Jiang Xi berkata, "Betul. Sekalipun saya pergi menemui klien Anda, klien Anda tidak mungkin memberikan harga setinggi itu. Sebelumnya Anda bilang pihak sana hanya sanggup menawar tujuh juta seratus ribu, jadi untuk apa saya pergi ke sana lagi? Benar kan?"
Xiao Zhang berkata, "Baiklah, Kak, saya mengerti. Nanti kalau ada teman Kakak yang ingin beli atau jual rumah, jangan lupa perkenalkan kepada saya ya!"
Jiang Xi berkata, "Kalau soal itu tidak masalah!"
"Terima kasih, Kak!"
"Sama-sama!"
Setelah saling mengucapkan terima kasih, Jiang Xi akhirnya menutup teleponnya.
Ia berkata, "Agen dari Woaiwojia dan Lianjia relatif memiliki kualitas yang cukup tinggi. Jangan pernah mencari agen-agen kecil. Selain itu, Lianjia tidak bisa memberi diskon, sedangkan Woaiwojia bisa diskon. Barusan pihak pembeli membayarkan biaya komisi kepada Woaiwojia, setelah dipotong diskon lima puluh persen, mereka membayar lebih dari delapan puluh lima ribu. Jika di Lianjia, diskon maksimal hanya sembilan puluh persen, dan biaya komisinya bisa mencapai sekitar seratus enam puluh ribu."
Aduh! Mendengarnya membuat hatiku terasa sesak. Membeli sebuah rumah, biaya komisi yang harus dibayarkan saja sudah cukup untuk membeli sebuah mobil mewah.
Mengenai industri agen perantara ini, kupikir kehadirannya memang baik, tetapi rasanya kok tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan sebanyak itu. Tentu saja, aku sangat menghormati para petugas agen karena mereka memang bekerja sangat keras, dan uang yang bisa mereka dapatkan pun tidak sebanyak itu.
Aku menghormati setiap pekerja dari berbagai bidang, dan pepatah bahwa di setiap bidang selalu ada orang yang unggul itu memang benar, tergantung apakah seseorang benar-benar mau bekerja keras atau tidak!
Rumah seharga lebih dari tujuh juta yuan ini terjual dengan sangat cepat dan lancar.
Begitu kami naik kereta, aku bertanya kepada Jiang Xi, "Apakah benar seperti yang dikatakan agen Xiao Li tadi, kita berhasil menjualnya lebih mahal dua puluh tiga ribu?"
Mendengar topik itu, sepasang mata Jiang Xi memancarkan kilatan penuh rasa bangga.
Ia mengangkat dagunya, tersenyum simpul, dan berkata, "Mungkin lebih dari itu, loh. Tawaran awal saya memang tujuh juta tiga ratus ribu, tetapi sebenarnya saya sudah siap mental. Rumah yang semahal ini tidak mudah terjual, jadi kalau orang menawar dua puluh juta... eh, maksudnya dua puluh puluh ribu (maksudnya dua ratus ribu) itu hal yang wajar. Soal laku atau tidaknya, itu tergantung dari seberapa terdesaknya pemilik rumah. Nah, kita kan waktu itu juga lumayan terburu-buru ingin menjualnya, jadi kalau benar-benar tidak ada yang beli, mungkin harga tujuh juta seratus ribu pun akan saya lepas, bahkan tujuh juta juga mungkin. Oleh karena itu..."
"Oleh karena itu kita benar-benar untung banyak ya! Kalau dipikir-pikir, bilang untung tiga puluh atau empat puluh ribu juga benar ya!"
Jiang Xi tersenyum kecil dan berkata, "Mungkin karena sedang beruntung saja!"
Aku langsung menyela, "Tidak, tidak, tidak. Menurutku kali ini bukan masalah keberuntungan, melainkan strategi yang kamu terapkan sangat bagus."
Pertama-tama, di awal saat berada di Nanjing, begitu ia melihat ada orang yang berminat membeli, ia langsung menelepon setiap agen dan memberitahu mereka seolah-olah memberi sinyal bahwa rumah kami akan segera terjual dan mereka harus bergegas jika masih ada kesempatan. Setelah menelepon ke sana ke mari, ia berhasil memancing calon pembeli kedua. Ini jelas merupakan hasil dari rekayasa langkahnya. Jika ia tidak memancing calon pembeli kedua yang sesungguhnya, sama sekali tidak mungkin skenario menaikkan harga di tempat bisa dimainkan hari ini, dan akibatnya kita akan berada di posisi yang pasif di mana kendali dipegang oleh pembeli. Sekarang situasinya berbeda, seandainya negosiasi dengan pembeli ini gagal, pembeli yang lain tetap menjadi peluang bagi kita.
Kedua, selama proses perundingan berlangsung, ia selalu mampu menilai secara akurat nilai rumah kami. Sejujurnya, tidak ada orang yang bodoh. Kalau rumah kami tidak bagus, orang lain tidak akan mau membelinya dengan harga di atas pasaran. Kemudian, jasa terbesar patut disematkan pada kemampuannya memprediksi secara akurat psikologi pihak pembeli. Ia tampaknya sangat jeli melihat bahwa calon pembeli tersebut benar-benar berniat membeli rumah kami, sehingga ketika menaikkan harga ia tidak ragu-ragu sama sekali dan sikap mentalnya selalu tenang—sepenuhnya menampilkan kesan bahwa jika kalian tidak beli masih ada orang lain yang mau, dan kami tidak bergantung sepenuhnya kepada kalian untuk menjualnya. Dari sudut pandang ini, dalam perang psikologis, pihak sebelah sudah kalah separuhnya.
Selain itu, ia bukanlah orang yang terlalu serakah. Setelah harga naik sampai ke batas yang ia inginkan, ia tetap memberikan ruang bagi pihak pembeli untuk menawar sedikit demi sedikit. Ia tidak bersikeras mempertahankan angka tujuh juta empat ratus lima puluh ribu rupiah, melainkan mengendurkannya lima puluh ribu terlebih dahulu, lalu ketika pihak pembeli menawar lagi dua puluh ribu, ia menyetujuinya. Pada saat ia akhirnya sepakat, pihak pembeli pun merasa lega dan menganggap potongan harga yang diperoleh tidaklah mudah didapat sehingga patut disyukuri!
Justru berkat segala kecerdasan yang ia tunjukkan itulah rumah kami berhasil terjual dengan harga yang begitu bagus.
"Sayang, mengapa kamu bisa begitu luar biasa? Dibandingkan denganmu, aku ini jauh tertinggal. Kalau aku yang mengurusnya, sama sekali tidak mungkin bisa menjual rumah ini dengan harga setinggi itu."
Jiang Xi mengulurkan lengannya dan merangkul leherku bagaikan seorang bos besar, lalu tersenyum manis seraya berkata, "Bukankah sudah kubilang padamu, tanpa izinku tidak boleh merendahkan diri sendiri. Aku punya kelebihan, dan kamu juga punya kelebihan. Kekurangan terbesar kamulah isi kepalamu yang terkadang agak kaku, sedangkan kelebihan besarmu..."
Ia tiba-tiba tersenyum nakal.
Aku semakin penasaran. "Apa kelebihan besarku?"
Ia tersenyum penuh makna lagi dan berkata, "Di dalam rumah ini, kamu tidak pernah mengekang sayapku, bahkan diam-diam mendukung dan membiarkanku terbang bebas. Oleh karena itu, ketika menghadapi urusan besar, aku bisa terbang tinggi. Tanpa kepercayaan dan dukunganmu, aku tidak mungkin bisa menyelesaikan segala sesuatunya dengan begitu baik!"
Benarkah? Aku tidak tahu apakah ucapan Jiang Xi ini tulus atau sekadar untuk menghiburku.
Kadangkala di dalam benakku sering muncul sebuah pertanyaan: seandainya dulu Jiang Xi tidak menikah denganku melainkan dengan pria lain, apakah hidupnya benar-benar tidak akan sebaik sekarang? Aku sebenarnya agak ragu untuk percaya, tetapi aku juga tidak mau memikirkannya secara mendalam. Pokoknya, aku merasa dalam hidup ini aku telah mendapati durian runtuh, dan aku cukup bersenang-senang dalam hati saja.
Tiba waktunya makan malam, ketika kami bertiga sedang makan di dalam kereta, Jiang Xi tiba-tiba teringat akan suatu hal.
"Aduh, rumah Cheng Ke kan masih atas nama miliki ku. Urusan ini harus segera diselesaikan."
"Kenapa?" Aku tidak mengerti maksudnya.
"Bukankah negara akan segera memberlakukan pajak properti? Untuk apa aku mencatatkan begitu banyak properti atas namaku? Telepon Cheng Ke sekarang, tanyakan apakah rumah itu mau dijual atau dipindahtangankan, cepat urus. Jangan biarkan namamu... maksudku namaku tersita di sana. Kebijakan negara berubah sewaktu-waktu, jangan sampai suatu hari nanti rumahnya malah memengaruhi niatku membeli rumah. Harga rumah di Yanjiao sekarang sudah mencapai tiga puluh ribu per meter persegi. Rumah seluas tujuh puluh enam meter persegi miliknya itu sekarang sudah bisa laku dua ratus dua puluh atau dua ratus tiga puluh ribu."
"Baiklah, aku akan meneleponnya sekarang!"
Lagi pula duduk di dalam kereta terasa membosankan, jadi aku pun memanggil nomor telepon Cheng Ke.
Cheng Ke mengangkat telepon dengan nada suara yang terdengar cukup menyenangkan. "Halo! Dong!"
"Cih! Bisa tidak jangan memanggilku dengan nada yang begitu menjijikkan? Lagi pula panggilan 'Dong' ini hanya boleh diucapkan oleh istriku seorang!"
Cheng Ke berkata sambil tersenyum, "Kalau begitu aku panggil apa? 'Dong-ku'?"
"Pergi sana! Kalau sampai Dan mendengarnya dan mencemburuiku, bagaimana?" Suasana hatiku sedang bagus, jadi aku meladeninya bercanda.
Ia tetap tersenyum dan berkata, "Dan-ku sudah sejak lama tahu bahwa kamu adalah cinta sejatiku, sementara dirinya hanyalah ban serep seumur hidup."
"Sudahlah, kamu tidak takut Dan cemburu, tapi aku takut Xi tidak senang. Xi itu orangnya tidak bisa mentolerir pasir sedikit pun, dan kerang besar sepertimu ini pun tidak boleh ada di matanya."
Nada bicaranya tiba-tiba berubah. "Sudahlah, diberi sedikit pujian langsung besar kepala ya. Benar-benar diberi sedikit sinar matahari langsung bersinar terang, diberi sedikit kesempatan langsung pamer kemesraan!"
"Kamu sendiri apa pantas berkata begitu?" Nada bicaraku ikut berubah.
Ia langsung tertawa terbahak-bahak. "Kamu sudah hidup berbahagia sekian lama, aku kan baru bahagia beberapa tahun ini, kenapa tidak boleh pamer? Ngomong-ngomong, aku benar-benar harus berterima kasih kepada istrimu, Jin Dan sangat baik kepadaku!"
Aku berkata, "Dalam hal memilih suami, Jin Dan sudah mengarungi lautan manusia dan tidak menemukan siapa pun, hingga akhirnya beruntung menemukan satu kapal yang hampir tenggelam untuk disandari. Tentu saja begitu naik kapal ia langsung menempel erat dan tidak mau turun lagi!"
Cheng Ke tertawa sampai suaranya bergetar. "Kamu sendiri yang kapal hampir tenggelam! Ha-ha-ha!"
"Ha-ha-ha!" Aku pun ikut tertawa.
Setelah cukup tertawa, aku berkata, "Mari kita bicarakan hal yang serius. Bagaimana rencana penyelesaian rumahmu di Yanjiao? Jiang Xi bilang dia tidak ingin rumahmu menyita jatah kuota kepemilikan keluarga kami, agar tidak menimbulkan masalah ketika pajak properti kelak diberlakukan. Lagian kamu ini, meskipun sekarang kamu sudah menjadi menantu konglomerat dan tidak kekurangan uang sebanyak itu, kamu tidak boleh mengabaikannya begitu saja. Bahkan uang sewa pun tidak kamu ambil, melainkan kami yang membantuku... eh, membantumu menagihnya. Rumah itu sekarang nilainya sudah mencapai dua ratus dua puluh atau dua ratus tiga puluh ribu."
Cheng Ke tertegun sejenak. "Sudah semahal itu ya? Bagus sekali..."
Ia menenangkan emosinya, lalu nada bicaranya tiba-tiba menjadi serius dan berkata, "Jiang Dong, biar kukatakan sejujurnya, rumah itu bahkan belum pernah kulihat bentuknya. Lagian dulu aku hanya menitipkan uang tiga ratus ribuan yuan kepadamu di sana, dan sekarang harganya sudah naik sedemikian tinggi. Kalau aku mengambilnya kembali, rasanya aku merasa bersalah di lubuk hatiku!"
"Apa yang kamu bicarakan ini? Kita kan bersaudara, siapa dengan siapa?"
"Bukan begitu, Jiang Dong, dengarkan aku. Kamu... adalah penyelamat nyawaku. Kamu memberiku kesempatan untuk terlahir kembali, dan istrimu memberiku kesempatan untuk kembali merasakan kebahagiaan. Aku merasa seumur hidup ini aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikan kalian suami istri. Rumah itu, atau lebih tepatnya uang tiga ratus ribuan yuan itu, anggap saja sebagai balas budiku kepada kalian. Tentu saja, kalau aku hidup dalam kemiskinan pasti aku akan memintanya kembali. Sekarang, berkat pertolongan kalian suami istri, hidupku sudah mapan, jadi aku sama sekali tidak berniat mengambil kembali rumah itu."
Aku langsung menyela dengan nada tegas, "Kamu punya pemikiran seperti itu tidak baik. Antara kita sebagai saudara bagaimana bisa dinilai dengan uang? Kalau aku mengambil rumahmu, atau dengan kata lain mengambil tiga ratus delapan puluh ribu yuan milikmu itu, lantas aku ini menjadi orang apa, Jiang Dong?"
"Tidak, Jiang Dong, jangan salah paham. Ini hanyalah ungkapan ketulusan hatiku, dan juga agar perasaanku bisa sedikit lebih tenang."
"Perasaanmu tenang, lalu bagaimana dengan aku dan Jiang Xi? Kami yang malah akan merasa tidak tenang."
Cheng Ke kembali tertawa. "Apa yang membuat kalian tidak tenang? Terimalah dengan senang hati, itu memang sudah hak kalian."
"Mana bisa..."
Aku baru saja hendak mendebbatnya lagi. Bagaimanapun, aku merasa rumah itu tidak boleh kami miliki. Dulu sudah disepakati bahwa kami hanya membantu membelikannya, dan jika sekarang tidak dikembalikan padanya, lantas kami ini menjadi orang apa?
Namun kali ini, sebelum aku sempat berbicara, Jiang Xi langsung merebut ponsel dari tanganku. Posisinya sangat dekat denganku, sehingga meskipun pengeras suara tidak dinyalakan, ia tetap mendengarkan perkataan Cheng Ke.
Ia mengangkat telepon itu dan berkata dengan nada ketus, "Cheng Ke, kamu merendahkan siapa, hah?"
Cheng Ke tertegun sejenak dan buru-buru bertanya, "Bagaimana bisa aku merendahkan kalian?"
Jiang Xi berkata, "Hari ini kami baru saja menjual rumah seharga lebih dari tujuh juta tiga ratus ribu. Siapa yang sudi mendambakan rumahmu yang harganya hanya dua jutaan itu? Sekarang kamu sudah hidup mapan, dan kami pun tidak miskin. Berhenti banyak omong, cepat urus rumahmu sana. Entah mau dibalik nama atau mau dijual, terserah padamu. Pokoknya kalau masih menyita jatah kuota keluarga kami, nanti kami mau beli rumah kedua, ketiga, keempat jadi terhambat karenanya. Jangan sampai kamu menghalangi urusan kami."
"Baik, baik, baik, aku mengerti. Kalian sekarang rupanya sudah hebat ya, bahkan rumah seharga dua juta pun tidak dipedulikan lagi."
"Bukannya begitu. Kalau rumah dua jutaan itu hasil kerja keras kami sendiri, tentu saja aku akan menghargai dan menyayanginya. Tetapi rumah itu dibeli dengan modalmu sendiri dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami satu sen pun. Itu bukan milik kami, jadi kami tidak punya waktu luang untuk mengincarnya. Daripada memikirkannya, lebih baik kami mengurus properti milik sendiri. Apakah kamu paham?"
"Paham, paham!"
Hanya dengan beberapa patah kata, Cheng Ke langsung diyakinkan oleh Jiang Xi.
"Sudah sana, aku mengerti. Tolong bantu pasang iklan untuk dijual ya!"
"Oke! Nanti kalau sudah laku uangnya ditransfer padamu!"
"Baik!"
Setelah mengobrol singkat beberapa patah kata lagi, kami pun menutup telepon.
Urusan ini akhirnya beres begitu saja.
............
Proses administrasi di Beijing paling tidak memerlukan waktu sepuluh hingga setengah bulan, jadi aku dan Jiang Xi kembali ke Nanjing untuk menjalani hari-hari seperti biasa.
Namun, ada satu hal yang tidak biasa. Suatu hari, Jiang Xi tiba-tiba menjerit histeris dari dalam kamar tidur ke arahku yang sedang bekerja di ruang keluarga, hingga jeritannya yang mencabik jiwa itu berhasil membuat sekujur tubuhku terperanjat kaget di tengah-tengah konsentrasi memperbaiki kutu perangkat lunak (bug).