Bab 12: Teror di Gunung Mang
Saat itu musim gugur telah merasuk, daun-daun di pohon berguguran satu per satu, ranting-ranting kering dengan bebas berjejal di hadapan, siap menghadang siapa saja yang melintas. Hutan menjulang tinggi dan rendah, rapat dan renggang, setelah melangkah cukup jauh, tanah di bawah kaki terasa lembap dan lunak, ditutupi oleh tumpukan daun kering dan rerumputan, di mana-mana tampak kayu dan daun membusuk, belitan sulur dan semak belukar yang merayap acak-acakan, ada yang sudah lama mati, ada pula yang masih subur, semuanya membuat perjalanan menjadi sulit. Semakin masuk ke dalam, pepohonan semakin rapat, tinggi, rendah, besar, kecil, membentuk gelombang lautan hutan yang beriak lembut.
Hutan terasa sunyi dan suram, duri-duri semak belukar menonjol keluar, sekali lengah bisa melukai kulit yang terbuka. Berbagai jamur langka benar-benar banyak ditemukan, membuat Yinyue sangat senang, dan dia pun ikut bahagia.
Tanpa sadar, mereka telah memasuki jantung Hutan Rimba yang bahkan para pemburu kawakan pun enggan memasukinya. Tak lama kemudian, ia mendengar suara dengusan berat dari hutan di depan, semakin lama semakin dekat dan keras!
Tiba-tiba, semak-semak di depan terbelah! Dari dalam muncul seekor badak hitam raksasa, tubuhnya mengilap, getaran langkahnya mengguncang tanah, matanya galak, seolah-olah dirasuki kutukan, dengan kegilaan melesat ke arah mereka.
"Sepertinya ini Raja Badak! Yinyue, lari cepat!" Melihat makhluk raksasa itu melaju dengan kecepatan mengerikan, ia menarik Yinyue ke belakang dan maju menghadapi, pedang Naga Terbang di tangannya berkilat pekat menebas ke arah tenggorokan Raja Badak. Namun, hewan itu ternyata sangat cerdik, melompat menghindari serangan tersebut.
Sambil berlari, Yinyue tak lupa membidik dan melepaskan dua anak panah berturut-turut, melesat dengan deras ke arah Raja Badak. Meski terkena anak panah, Raja Badak tetap memburu dirinya tanpa mengalihkan sasaran. Ia tak berani lengah, segera melompat ke balik pohon besar di samping. Belum sempat menarik napas, Raja Badak kembali menerjang dengan raungan dahsyat.
Tubrukan keras membuat pohon besar tempat ia berlindung berguncang hebat. Ia menenangkan diri, memanfaatkan kesempatan, membidik mata kiri Raja Badak dan menusukkan pedang! Kulit badak yang tebal dan keras, terutama di bahu dan pinggang yang berlipat-lipat, membuat senjata sulit menembus tubuhnya.
Mata kiri Raja Badak langsung berlumuran darah, membuatnya semakin murka, melompat dengan amarah membuncah.
Deru dan raungan sengsara Raja Badak membuat jantungnya bergetar! Ketika menoleh, ia melihat sebatang panah menancap di rongga mata kanan Raja Badak, darah menetes sepanjang batangnya. Ia berseru gembira pada Yinyue, "Kerja bagus!"
Kini kedua mata Raja Badak buta. Sebenarnya, sebelum terluka pun, penglihatannya sudah buruk, namun cedera pada kedua matanya menyebabkan kekuatan serangnya menurun drastis. Dalam sekejap, ia memanfaatkan peluang singkat nan berharga itu, melompat ke punggung Raja Badak dan menancapkan pedang panjang yang telah dipenuhi tenaga dalam ke bagian lunak di tengkoraknya. Raja Badak yang kesakitan terus mengamuk, berusaha membantingnya dengan menggoyangkan kepala dan punggung. Ia pun menggunakan momentum itu untuk mencabut pedang, menusuk tenggorokannya, lalu melompat turun dengan cekatan.
Raja Badak berlari liar sebentar lalu menghilang entah ke mana. Jika tidak segera menghentikan pendarahan, kemungkinan ia akan mati kehabisan darah.
Mereka pun segera memutuskan untuk kembali dan bergabung dengan rombongan utama. Namun belum jauh melangkah, mereka sudah dikepung oleh kawanan badak yang mengamuk dan menyerbu dari segala arah. Semakin lama jumlah badak bertambah, suara raungan mereka memekakkan telinga, sangat mengerikan.
Meskipun badak-badak itu tak sebuas Raja Badak, namun menyerang bersama-sama tetap tidak bisa diremehkan. Ditambah lagi, mereka berada di lahan basah terbuka, pepohonan berjarak ratusan meter tanpa tempat bersembunyi, membuat pelarian menjadi sangat sulit di tengah kawanan badak yang padat. Mereka berdua sudah berjuang sekuat tenaga namun tak mampu menahan serbuan kawanan badak yang semakin banyak.
Tak disangka, mereka berdua malah terdesak oleh kecerdikan kawanan badak ke sebuah kubangan lumpur tersembunyi yang tidak mudah terdeteksi. Bersama belasan badak lainnya, mereka perlahan tenggelam. Untungnya, ia memperhatikan rerumputan air yang tumbuh lebat, sudah waspada sejak awal. Begitu mulai tenggelam, ia segera melompat ke punggung salah satu badak dan menarik Yinyue yang penuh lumpur ke atas.
Kuda tunggangan mereka, Hitam Laju dan Angin Merah, yang juga punya insting tajam, menyusul mereka mengikuti jejak aroma tuannya. Keduanya pun melompat ke punggung kuda, melesat cepat bagai angin, akhirnya berhasil lolos dari serangan kawanan badak.
Kini, setelah diingat-ingat, mungkin kawasan hutan itu adalah Hutan Badak.
Biasanya badak tidak menyerang manusia tanpa sebab. Jelas, kawanan badak itu mengamuk demi membalas dendam pada Raja Badak. Namun, Raja Badak sendiri jelas-jelas lebih dulu menyerang mereka, dan matanya yang penuh kebencian serta serangannya yang membabi buta seolah-olah ia dirasuki kutukan, seperti memiliki dendam besar pada mereka.
Ada sesuatu yang aneh dengan kejadian ini.
Konon, makhluk buas dan makhluk air yang telah menjadi raja biasanya menjaga harta karun langka. Jangan-jangan, Raja Badak ini juga menjaga pusaka alam tertentu? Melihat kegilaannya menyerang manusia, mungkin harta itu sudah dirampas manusia, dan ia mencium aroma manusia dari diri mereka berdua hingga menyerang tanpa kendali.
Orang yang mampu mencuri harta itu pasti bukan orang biasa. Siapakah gerangan yang punya kemampuan sehebat itu? Dan pusaka macam apa yang dijaga Raja Badak?
Namun, itu semua hanyalah dugaan semata. Belum terbukti kebenarannya.
Tiba-tiba, suara gemuruh air di sampingnya memutuskan lamunan Xiao Yan.
Ia mendongak dan tersenyum. Rupanya Hitam Laju dan Angin Merah merasa tubuh mereka kotor, keduanya turun ke air untuk membersihkan diri. Suara air yang gaduh itu ternyata berasal dari mandi mereka.
Xiao Yan segera menghampiri mereka. Ia lebih dulu menggosok Hitam Laju dengan seksama. Saat hendak membersihkan Angin Merah, kuda kesayangannya itu justru memalingkan kepala dan meringkik tak puas, seolah-olah menolak disentuh.
Ternyata, Angin Merah cemburu! Dua kuda jantan tampan itu pun ternyata punya sifat cemburuan. Jika saja Hitam Laju seekor kuda betina, entah bagaimana Angin Merah akan bertingkah, mungkin makin genit atau berlagak keren.
Xiao Yan pun tertawa terbahak-bahak.
Tak lama, kedua kuda gagah yang selalu menjaga kebersihan itu naik ke darat, mengibaskan sisa air di tubuh, lalu berdiri di dekat api unggun, berjalan bolak-balik untuk menghangatkan dan mengeringkan bulu mereka yang masih agak lembap.
"Uda! Pakaianku sudah kering belum?" teriak Wu Yinyue dari dalam kolam.
"Hampir semua sudah kering!" Xiao Yan menjawab sambil meraba pakaian di tangannya.
"Bagus! Taruh saja di atas batu di tepi kolam! Kali ini, biar aku yang mengeringkan pakaianmu!" sahut Wu Yinyue, sambil berenang ke tepi.
Xiao Yan menaruh pakaian lalu menjauh, menjaga sopan santun.
Setelah mengenakan pakaiannya dan berjalan ke api unggun, Wu Yinyue mengelus kepala Hitam Laju, lalu menyuruh Xiao Yan mandi juga di kolam itu.
Namun Xiao Yan menolak, "Tak perlu, aku tidak sampai terperosok sepertimu, tadi sudah sedikit membersihkan diri, sudah cukup."
Wu Yinyue sedikit manyun, namun segera tersenyum dan sibuk mengatur api. Ia bahkan menyiapkan makanan sederhana, lalu duduk bersantai, merasa cukup puas dengan hasil perburuan hari itu.
"Uda, apa kau mencium bau telur busuk?" Wu Yinyue mengganti topik.
"Ya, memang tercium, sepertinya dari air kolam ini," jawab Xiao Yan, agak heran.
Wu Yinyue dengan bangga berkata, "Orang bijak mencintai gunung, orang cerdas mencintai air. Rupanya aku punya keduanya! Air kolam ini mengandung hidrogen sulfida, artinya ini adalah air belerang, atau mata air belerang. Mandi dengan air seperti ini bisa menyembuhkan penyakit kulit. Tak menyangka, di tengah hutan belantara ada mata air belerang! Mungkin ini akibat letusan gunung berapi, mungkin pula di sini ada kawah. Nanti setelah kembali, kita suruh orang menyelidiki sekitar sini, siapa tahu ada tambang belerang! Dulu sudah beberapa kali cari tambang belerang tapi gagal, ternyata pepatah benar, usaha keras belum tentu membuahkan hasil, namun kadang rezeki datang tanpa diduga."
"Belerang? Jika tak salah, kau pernah bilang bahan peledak andalanmu itu butuh belerang! Kali ini, kau benar-benar mendapat untung dari musibah! Setelah kembali nanti, kau bisa pamer lagi dengan alat barumu! Haha!" Mata Xiao Yan berbinar, sangat senang, namun tetap menggoda Yinyue.
"Ah, dasar! Mana ada aku suka pamer? Aku hanya ingin berbagi ilmu, khawatir kau tak mengerti, makanya aku ajari dengan sabar! Kukira kau murid yang bisa dididik, ternyata tak tahu cara menerima nasihat," Wu Yinyue tertawa dengan sombong, semakin puas hati. "Ya! Dipadukan dengan batu nitrat dan arang, pasti jadi sangat dahsyat! Nanti kau pasti tercengang. Aku juga bisa membuat mainan kecil-kecilan. Tak disangka, hari ini malah dapat kejutan, benar saja, nasib Raja Penakluk Selatan sepertimu memang bisa mengusir segala makhluk jahat!"
Saat Wu Yinyue berbicara penuh semangat, sekitar tiga ratus depa dari mereka, di batang pohon tua, sebuah sosok hijau gelap melesat tanpa suara di puncak pohon, seolah melangkah di tanah datar, lalu lenyap di lautan hutan yang luas.