Bab Tiga Puluh Delapan: Rumah Lelang
Es tak mencair dan Es Nanmu Abadi telah selesai menyatu. Setelah Es Nanmu Abadi pulih, terdapat bintik cahaya yang memancarkan kilau di tengah bola es yang jernih dan tembus pandang, sekaligus memancarkan hawa dingin yang berlapis-lapis. Mo Xiye mengamati bintik cahaya itu dengan saksama. Sekelompok cahaya berkelebat di dalam bintik tersebut, dan akhirnya, bagaikan memiliki jiwa, Es Nanmu Abadi melayang keluar dari telapak tangannya, menggesek-gesek pipinya dua kali sebelum terbang kembali ke genggamannya.
"Sepertinya ada orang di luar gua, Tuan," ujar Qi Shengtian mengingatkan. Mo Xiye lantas berhenti dan tidak lagi mempermainkan Es Nanmu Abadi di tangannya. Ia melesat terbang keluar dari gua. Di luar gua berdiri seorang pelayan dao yang membungkuk memberi hormat kepada Mo Xiye dan berkata:
"Apakah benar ini Dewi Mo Xiye? Kudengar baru-baru ini ada sebuah pelelangan. Tuan saya mendapatkan sebuah undangan dan berharap Anda bisa menemaninya pergi ke pelelangan tersebut. Ini adalah surat dari beliau."
Pelayan dao itu mengerjap-nerjap mata, menunggu dengan tenang sementara Mo Xiye memeriksa surat tersebut. Mo Xiye membuka surat itu, mengeluarkan lembaran kertas dari amlop, lalu mulai membacanya.
"Rekan Dao, orang tua ini adalah Master Chen yang Anda bantu beberapa hari lalu. Belakangan ini, ada pelelangan yang diadakan oleh penguasa kota di Kota Taihua. Orang tua ini kebetulan memegang satu surat undangan dan telah mengumpulkan cukup banyak batu spiritual beberapa hari ini. Mengingat kebaikan Rekan Dao, aku menulis surat ini. Jika Anda memutuskan untuk datang, pada jam Yin, di Distrik Timur Kota Taihua, Jalan 33, aku akan menunggu Anda di sana." Mo Xiye berpikir dalam hati, Master Chen ini orangnya cukup baik juga. Di bagian paling bawah amplop terdapat dua baris kalimat tambahan: "Peluangan mewajibkan setiap orang memakai topeng. Aku memakai penutup kepala, penutup kepala panda. Bersiaplah juga agar nanti tidak salah mengenali orang."
"Juga, sebagai jaga-jaga, mari kita buat sandi rahasia. Gunakan saja namamu."
Mo Xiye meraba-raba kantong penyimpanan miliknya sejenak, dan akhirnya menemukan sebuah topeng berbentuk rubah di antara tumpukan batu spiritual setinggi bukit. Topeng ini bahkan sudah ia siapkan sejak meninggalkan Sekte Lima Elemen.
Mengenakan topeng di tempat pelelangan sebenarnya adalah hal yang lumrah. Sebab, di dalam pelelangan, mustahil untuk menghindari para kultivator yang merasa iri, sehingga umumnya para kultivator diwajibkan memakai topeng. Ketika seorang kultivator berhasil membeli barang yang diinginkan, mereka juga dapat melewati jalur rahasia untuk pergi lebih awal guna menghindari pertemuan langsung.
Pada jam Yin, di sudut Jalan 33, Distrik Timur Kota Taihua, seorang pria yang mengenakan penutup kepala panda berdiri dengan tenang. Tiba-tiba, punggungnya ditepuk. Ia berbalik dan mendapati seorang gadis berdiri di belakangnya, mengenakan topeng berbentuk rubah.
"Sandi, sebutkan sandinya dulu."
Gadis itu membuka mulutnya, memperlihatkan gigi taringnya yang putih bersih, lalu mengucapkan kata demi kata: "Mo... Mo Xi—" Setengah detik kemudian, Master Chen buru-buru membuat gestur "Sst—". Ia berbisik, "Sandi yang kusebutkan adalah 'namamu', bukan namamu sungguhan. Sudahlah, biarkan saja."
Gadis itu hanya merespons dengan kata 'oh' secara santai. Melihat sikapnya yang acuh tak acuh, Master Chen mendesah dengan perasaan geregetan, lalu mulai menceritakan kisahnya sendiri. Waktu menuju pelelangan masih sangat lama, namun mereka berencana untuk mengambil tempat duduk lebih awal. Keduanya berjalan perlahan menuju sebuah bangunan yang tampak tidak mencolok.
Di dalam bangunan tersebut terdapat sebuah lubang tanah yang dasarnya tidak kelihatan, entah mengarah ke mana. Keduanya turun ke dalam lubang tanah dan meraba-raba jalan maju secara perlahan. Demi menjaga privasi para kultivator, pihak pelelangan secara khusus membangun enam jalur lubang tanah, dan ini hanyalah salah satunya. Di tengah perjalanan meraba-raba itu, Master Chen menceritakan masa lalunya.
Dulu, Master Chen hanyalah seorang pemagang pembuat artefak dengan tingkat kultivasi yang rendah. Suatu ketika, sebuah pelelangan yang terbuka untuk semua kultivator diadakan di Kota Taihua. Saat itu ia masih muda dan bodoh, serta belum memahami betapa kejamnya dunia luar.
Dalam pelelangan tersebut, seorang kultivator yang duduk di sebelah karena merasa terlalu bosan menunggu dimulainya acara, mengajaknya mengobrol. Keduanya berkomunikasi menggunakan transmisi kesadaran ilahi dan merasa percakapan mereka sangat menyenangkan. Di tengah obrolan itu, Master Chen secara tidak sengaja membocorkan nama aslinya, meski saat itu ia tidak ambil pusing.
Di pelelangan tersebut, muncul sekumpulan batu mentah batu giok. Batu mentah yang dibeli oleh Master Chen setelah dibelah ternyata disangka sebagai giok hijau kekaisaran oleh semua orang, bahkan ia sendiri juga berpikir demikian.
Belakangan barulah ia tahu bahwa itu sebenarnya adalah Mandolan, bukanlah giok hijau kekaisaran. Mandolan sangat langka dan merupakan benih tanaman yang unik. Mandolan yang sudah dewasa memiliki tingkat kecerdasan setara anak berusia delapan tahun, serta mampu mengubah penampakan wajah. Karena merupakan ciptaan langit dan bumi, benda itu bahkan dapat membantu dalam pembuatan artefak dan pil obat. Hal ini baru ia ketahui setelah sekian lama mempelajarinya secara perlahan dari beberapa buku kuno.
Batu mentah giok hijau kekaisaran dipenuhi oleh elemen kayu, yang sangat bermanfaat bagi kultivator beratribut kayu. Sebelum pelelangan usai, sudah ada kultivator yang datang mencarinya untuk membelinya.
Namun, ia tidak membutuhkannya dan tidak berniat menjualnya. Jadi, sekalipun ada kultivator yang mencarinya, ia tetap tidak menjualnya. Dan kultivator yang sebelumnya mengobrol akrab dengannya itu, beberapa hari kemudian datang mencarinya bersama beberapa kultivator lain. Meskipun saat itu ia memiliki seorang guru yang merupakan seorang master pembuat artefak, dan meskipun nama besar sang guru sama sekali tidak berguna, ia tetap dipukuli dengan sangat babak belur. Hal ini menyebabkan tingkat kultivasinya mandek untuk waktu yang lama, dan baru kemudian ia merenungkannya perlahan-lahan hingga menyadari garis besar alasannya.
Mo Xiye mengangguk dengan sikap menerima nasihat. Kenyataannya, ia telah melakukan persiapan yang matang sejak lama. Agar tidak mencolok, ia bahkan menyuruh Qi Shengtian menyembunyikan wujudnya dan bersembunyi di tempat gelap.
Sambil bercakap-cakap, mereka telah keluar dari lubang tanah. Bagian dalam lubang tanah tersebut cukup luas, mampu menampung hingga ribuan orang. Pada saat itu, para kultivator yang datang masih sedikit, hanya dua atau tiga orang saja. Seiring berjalannya waktu detik demi detik, semakin banyak kultivator yang bergabung.
Jika diamati, semuanya mengenakan topeng dengan berbagai rupa makhluk buas. Pada saat inilah pelelangan akhirnya resmi dimulai. Juru lelangnya adalah seorang pria paruh baya dengan suara yang menggelegar nyaring layaknya lonceng besar.
"Kalian pasti sudah lama menunggu, jadi tanpa bertele-tele lagi, kita langsung lelang barang pertama." Juru lelang di atas panggung mengeluarkan barang pertama.
"Lima puluh lembar jimat, harga awal seratus ribu batu spiritual, setiap kenaikan tidak boleh kurang dari dua ratus batu spiritual."
"Seratus ribu seratus batu spiritual!"
"Seratus ribu tiga ratus batu spiritual!"
Semua orang saling berebut, harga jimat terus merangkak naik hingga mencapai seratus sebelas ribu batu spiritual, dan suara penawaran di belakang mulai mereda.
"Eh, kenapa jimat-jimat ini terlihat mirip seperti buatan tanganku?" Mo Xiye menatap kelima puluh lembar jimat itu dengan rasa heran.
"Bukankah ini jimat-jimat yang kau jual kepada pemilik toko kuali pil itu?" Dewi Feiyue memiliki mata yang tajam dan langsung menyadari hal tersebut.
Mo Xiye: "..."
"Barang kedua, Kayu Kristal Langit." Juru lelang tersulut oleh antusiasme orang-orang dan memperkenalkan barang kedua dengan penuh semangat. Bagaimanapun, semakin tinggi harga jual suatu barang, semakin tinggi pula komisi yang ia dapatkan.
"Kayu Kristal Langit, seluruh bagian kayu ini memancarkan kilau kristal. Bisa diletakkan di dalam gua hunian sebagai pajangan, tentu saja bisa juga digunakan sebagai bahan pembuat artefak. Harga awal lima ribu batu spiritual, setiap kenaikan tidak boleh kurang dari dua ratus batu spiritual."
Jumlah orang yang menawar kali ini merosot tajam. Dipikir-pikir memang benar, lagipula tidak ada orang yang akan membuang perhatian pada benda yang tidak berguna bagi mereka. Mo Xiye ikut serta dalam penawaran tersebut, dan setelah menaikkan harga dua kali, ia akhirnya berhasil memboyongnya dengan harga tujuh ribu enam ratus batu spiritual.
"Barang ketiga, silakan tebak oleh kalian—" Juru lelang sengaja menciptakan rasa penasaran. Ia membuka celah kecil pada kotak di sampingnya, dan dari celah tersebut terpancar cahaya warna-warni yang menyilaukan.
Semua orang menahan napas, menatap kotak itu lekat-lekat karena takut melewatkan harta karun apa pun. Juru lelang tahu bahwa waktunya sudah pas dan tidak lagi bertele-tele, lalu langsung membuka tutup kotak tersebut. Seketika itu juga, udara dipenuhi oleh aroma harum yang samar-samar. Di dalam kotak tersusun berbagai ukuran pil obat. Dari tampilannya, tingkat kualitasnya pun tidak rendah.
"Satu kotak pil obat, totalnya tiga puluh butir. Paling tinggi pil tingkat lima, paling rendah pil tingkat tiga. Mutunya berkisar antara pil rasa tingkat empat bawah hingga pil rasa tingkat lima menengah. Harga penawaran lima puluh ribu batu spiritual, setiap kenaikan tidak boleh kurang dari empat ribu batu spiritual."
"Lima puluh lima ribu batu spiritual!"
Semua orang buru-buru menoleh ke sumber suara. Terlihat sesosok pria yang mengenakan topeng putih berbentuk manusia sedang duduk menyilangkan kaki, lalu bertanya dengan santai: "Tidak ada lagi yang menawar?" Seolah-olah ia sama sekali tidak memandang batu spiritual sebagai hal yang berharga.
Semua orang seolah ditekan oleh aura angkuh tersebut dan terdiam seribu bahasa. Bahkan tidak ada satupun yang menaikkan harga. Setelah juru lelang sengaja mengulur waktu selama setengah menit dan tidak ada seorang pun yang menyahut, juru lelang menghela napas dalam-dalam secara diam-diam dan memulai pelelangan barang berikutnya.
Mo Xiye mengirimkan transmisi kesadaran ilahi kepada Qi Shengtian: "Orang ini cukup menarik. Dia berhasil menakuti orang lain agar mundur hanya dengan mengandalkan aura kenaikan lima puluh ribu batu spiritual secara langsung. Tapi sebenarnya tidak ada yang tahu berapa banyak batu spiritual yang masih dia miliki. Bisa jadi dia hanya punya lima puluh lima ribu batu spiritual, atau mungkin juga lebih."
Qi Shengtian merespons: "Memang benar. Sekotak pil obat ini nilainya lebih dari lima puluh lima ribu batu spiritual. Bahkan jika seseorang ingin menjebak orang lain agar mengeluarkan lebih banyak batu spiritual pun mereka tidak akan berani. Kalau-kalau setelah menaikkan harga ternyata tidak ada yang menyusul, maka habislah riwayatnya. Orang yang tidak mampu membayar batu spiritual akan dijual ke pelelangan sebagai budak. Tentu saja, situasinya akan berbeda jika kekuatan orang itu sangat tangguh."
Dalam barang-barang berikutnya, tidak ada satupun yang menarik minat Mo Xiye. Kalaupun ada, jumlah batu spiritualnya tidak akan cukup untuk ia hamburkan.
"Oh, datang, sudah datang." Master Chen menatap barang lelang berikutnya dengan mata berbinar-binar.
Melihat ekspresi Master Chen, Mo Xiye ikut memperhatikan barang lelang itu dengan rasa penasaran, menunggu penjelasan dari juru lelang.
"Baja Besi Misterius, bahan pembuat artefak bermutu tinggi yang dapat digunakan untuk menempa artefak tingkat surga. Menjadi pilihan utama tanpa tandingan. Di sini terdapat lima kati Baja Besi Misterius. Harga awal lima puluh ribu batu spiritual, setiap kenaikan tidak boleh kurang dari lima ribu batu spiritual."
Hanya sedikit orang yang hadir di tempat ini yang memiliki kemampuan menempa artefak, sehingga tidak banyak orang yang ikut menawar. Mengenai niat sengaja mendongkrak harga, itu tentu saja lebih tidak mungkin lagi, karena sebelumnya sudah ada contoh kultivator yang ingin sengaja menaikkan harga namun justru berbalik terjebak sendiri. Terlebih lagi para kultivator mengenakan topeng dan tidak saling mengenali, sehingga tidak ada perlunya membuat kekacauan.
Master Chen akhirnya berhasil mendapatkan Baja Besi Misterius sesuai harapannya. Setelah memperoleh barang kesayangannya, Master Chen berpamitan kepada Mo Xiye dan pergi lebih awal.
Mo Xiye berniat menunggu hingga pelelangan berakhir baru beranjak pergi. Tujuannya adalah untuk menonton keramaian sekaligus melihat apakah ada barang yang menarik minatnya.
Waktu berlalu secara perlahan, dan pelelangan akhirnya pun hampir mencapai penghujung.
"Pedang Es Misterius Langit, artefak tingkat surga, harga awal lima puluh ribu batu spiritual, setiap kenaikan tidak boleh kurang dari tiga ribu batu spiritual."
Pelelangan yang berlangsung hingga saat ini telah membuat banyak kultivator pergi dengan rasa puas. Sebagian besar kultivator yang tersisa hanya ingin menonton keramaian. Mo Xiye menghitung jumlah batu spiritual di dalam kantong penyimpanannya, dan ternyata masih cukup.
"Enam belas ribu batu spiritual."
Mo Xiye berniat meniru tindakan kultivator sebelumnya, yaitu langsung menaikkan harga ke titik di mana orang lain tidak berani sembarangan menawar. Untungnya, banyak kultivator yang sudah pergi, dan sebagian besar kultivator yang masih berada di tempat juga sedang mengalami kesulitan keuangan, sehingga tidak ada yang menaikkan harga untuk sementara waktu.
Melihat dirinya berhasil mendapatkan barang kesayangan, Mo Xiye tidak tinggal lebih lama lagi dan melesat pergi meninggalkan lokasi melalui lubang tanah.