Bab Lima Puluh Delapan: Penyesalan
Reaksi para menteri sebenarnya sudah bisa diduga oleh Gao Ming. Namun, itu memang sengaja dilakukannya agar tak ada lagi yang berani menantangnya untuk berbalas pantun seperti sebelumnya. Misalnya saja tadi di balairung istana, Zhangsun Wuji menggunakan pantun untuk mempersulit dirinya. Meski Gao Ming berhasil menjawabnya dengan keberuntungan, tapi bagaimana kalau hal serupa terulang? Maka kali ini, Gao Ming langsung mengeluarkan sebuah pantun abadi yang sulit tertandingi, pesannya sangat jelas—“Kalau mau menantangku berbalas pantun, baiklah, tapi jawab dulu pantun abadi ini!”
Tak diragukan lagi, cara ini memang terkesan kasar, tapi sangat efektif. Yang terpenting, sejak saat itu, nama Gao Ming sebagai “pencipta” pantun ini akan tertanam kuat di Dinasti Tang. Setiap kali orang membicarakan pantun, pasti mereka akan teringat pada namanya.
Karena itulah, Gao Ming sempat berpikir bahwa selama ini kata-kata Konfusius dan Mencius selalu didahului dengan “Kata Sang Guru”, maka dirinya juga harus punya gelar yang gagah. “Tapi Konfusius bermarga Kong, jadi disebut Kongzi. Aku seumur hidup bermarga Li, masa harus dipanggil Lizi? Astaga, aku malah jadi seperti buah plum!”
Saat Gao Ming melamun memikirkan hal itu, para pelayan sudah mengangkatnya ke Istana Timur dan menurunkan tandunya.
“Yang Mulia Putra Mahkota, kita sudah sampai!”
“Hmm.” Gao Ming mengangguk lalu turun dari tandu dan masuk ke Istana Timur. Belum jauh melangkah, ia sudah mendengar suara tawa riang gadis-gadis dari taman sebelah.
“Mendengar suara itu, sepertinya Wan’er dan Si Zi. Dua gadis itu tampaknya sangat bahagia…”
Menyadari hal itu, senyum tipis pun mengembang di wajah Gao Ming. Ia pun melangkah menuju taman sebelah. Begitu ia masuk, matanya langsung menangkap sosok Su Wan’er dan Li Mingda yang tengah duduk di ayunan. Sementara Shishu dan Shijian mendorong ayunan dari belakang, membuat kedua gadis itu tertawa ceria setiap ayunan naik dan turun.
Melihat pemandangan itu, Gao Ming pun ikut tersenyum.
“Pantas saja mereka begitu bahagia, rupanya sedang bermain ayunan.”
Di masa Dinasti Tang, ayunan memang menjadi hiburan favorit, terutama bagi para perempuan yang hidup terkurung di dalam istana. Bermain ayunan bisa mengusir kebosanan dan membawa keceriaan.
Saat itu, Su Wan’er juga melihat Gao Ming. Ia segera menghentikan ayunan, lalu berjalan mendekat dan membungkuk memberi hormat.
“Suamiku baru saja pulang dari sidang istana, pasti lapar, ya? Aku akan menyuruh orang menyiapkan makan siang.”
Belum selesai Su Wan’er berbicara, Gao Ming sudah menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Tak perlu, masih pagi, tak usah terburu-buru!”
Setelah berkata demikian, Gao Ming duduk di meja batu di dekatnya. Melihat Su Wan’er masih berdiri di sampingnya, ia melambaikan tangan.
“Kau lanjutkan saja bermain dengan Si Zi, jangan biarkan dia bosan. Pergilah!”
Baru saja ucapan Gao Ming selesai, Li Mingda sudah berlari mendekat, langsung memeluk lengan kakaknya seraya tertawa riang.
“Kakak, kau sudah pulang!”
Melihat senyuman lebar di wajah adiknya, Gao Ming pun ikut tersenyum. Ia lalu mengangkat telunjuknya dan menggores lembut hidung mungil Li Mingda.
“Seharusnya kakak yang menanyakan itu padamu, Nakal! Dua hari tak kelihatan batang hidungmu!”
Li Mingda yang hidungnya digores segera melepas pelukan, lalu manyun dan membalikkan badan.
“Kakak jahat, Si Zi tak mau bicara dengan kakak lagi!”
Melihat adiknya ngambek, Gao Ming jadi geli sendiri, buru-buru meminta maaf dari belakang.
“Baiklah, baiklah, kakak tahu salah. Kalau Si Zi tak mau bicara, kakak bisa-bisa menangis, lho!”
Mendengar itu, Li Mingda yang tadinya mau pura-pura marah langsung tertawa geli.
“Kakak memang pintar membujukku, aku tak percaya, hihihi…”
Melihat adiknya kembali ceria, Gao Ming pun mengangkat bahu, lalu menariknya untuk duduk di pangkuannya.
“Bagaimana, di tempat Lirizhi asyik tidak?”
Mendengar pertanyaan Gao Ming, Li Mingda malah menggeleng.
“Tak seru. Jenderal Agung mati gara-gara kakak, kakak perempuanku sibuk menjahit dan mengajar keponakan, Si Zi hampir mati bosan.”
Jenderal Agung yang disebut Li Mingda sebenarnya adalah burung beo yang dulu dibawa Gao Ming ke kediaman putri, lalu mati di sana. Burung beo itu milik Kaisar Li Shimin, namun sang Kaisar tak mempermasalahkannya dan Gao Ming pun melupakan kejadian itu. Baru sekarang Li Mingda mengungkitnya lagi, barulah Gao Ming sadar bahwa burung itu adalah teman main Li Mingda. Ia pun jadi sedikit canggung dan menggaruk hidungnya.
“Kalau di tempat Lirizhi membosankan, kau bisa kembali ke sini. Kakak bisa menemanimu bermain.”
Baru saja Gao Ming selesai bicara, Li Mingda kembali manyun.
“Tapi sekarang kakak harus menghadap sidang pagi dan sibuk sekali, Si Zi takut mengganggu kakak.”
Mendengar itu, Gao Ming jadi terdiam.
Ia ingat dulu pernah berjanji pada Li Mingda, bahkan berjanji dengan kelingking, bahwa ia akan menemaninya meski harus bolos sidang pagi. Namun ia malah mengingkari janji itu dan lupa sama sekali. Yang paling membuatnya merasa bersalah, Li Mingda sangat pengertian. Ia tahu kakaknya sibuk, jadi tak mau mengganggu dan memilih sendiri pergi ke tempat Lirizhi. Mengingat itu, Gao Ming pun tak kuasa menahan helaan napas.
“Si Zi, kakak sudah lupa janji pada kamu. Kakak salah, maukah kau memaafkan kakak?”
Setelah mendengar itu, Li Mingda menggeleng.
“Si Zi tahu kakak adalah putra mahkota, kakak punya banyak urusan penting. Si Zi tidak pernah marah pada kakak.”
Mendengar itu, Gao Ming semakin terharu. Ia pun langsung memeluk adik kecilnya.
“Maaf ya, Si Zi. Tapi tenang saja, besok kakak tidak akan pergi ke istana. Kakak akan mengajakmu jalan-jalan ke kota Chang’an, bagaimana?”
“Baik!” jawab Li Mingda tanpa pikir panjang. Namun setelah menjawab, wajahnya kembali suram.
“Tapi… tapi kakak kan punya banyak urusan…”
Belum sempat Li Mingda menyelesaikan kalimatnya, Gao Ming sudah memotong dengan lambaian tangan.
“Peduli amat dengan urusan besar itu! Tak ada yang lebih penting daripada adikku sendiri! Besok setelah sarapan, kita berdua jalan-jalan ke Chang’an sampai malam, bagaimana?”
“Baik, hihihi…”
Melihat Li Mingda kembali ceria, Gao Ming pun ikut tersenyum.
“Ayo, kita main ayunan. Kakak yang dorong dari belakang!”
“Baik!”
Su Wan’er yang berdiri di samping menatap mereka dengan senyum bahagia. Melihat Gao Ming dan Li Mingda berseri-seri bermain ayunan, ia menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia lalu memanggil Shishu dan Shijian.
“Shijian, kau pergilah ke dapur istana dan suruh mereka siapkan makan siang. Shishu, bawa beberapa kue dan teh ke sini.”
“Baik!”
Baru saja Su Wan’er selesai memberi perintah, suara Gao Ming terdengar dari belakang.
“Istriku, cepat kemari main ayunan! Aku bisa mendorong kalian berdua sekaligus, ayo cepat!”
“Baik, Suamiku!”
Mendengar suara tawa keras Gao Ming, Su Wan’er pun mengangkat sedikit roknya dan berlari kecil ke arah ayunan.
Tak lama kemudian, suara tawa riang Su Wan’er dan Li Mingda kembali menggema di halaman kecil itu, bercampur dengan teriakan keras Gao Ming.
“Kakak, ayunkan lebih kencang lagi, hahaha…”
“Hahaha… Suamiku, jangan dipaksakan, kau masih kuat, kan?”
“Lelaki tak boleh bilang tidak bisa! Jangan remehkan otot sang putra mahkota, aaaa…”