Bab Dua Belas: Menjenguk Chang Le
Setelah turun dari kereta, wajah Su Wan’er terus memerah, terlebih saat ia merasakan tangan besar Gao Ming yang merangkul pinggangnya dan mengusap lembut, rasa malu itu makin sulit ia bendung.
“Kakanda, tanganmu…”
Suaranya sangat pelan, bahkan Gao Ming yang berada paling dekat dengannya pun nyaris tak bisa mendengarnya.
Namun Gao Ming sama sekali tak berniat melepaskan tangannya dari pinggang Su Wan’er, pura-pura tidak mendengar, dan sambil tetap merangkul pinggang istrinya, ia menoleh kepada kedua pelayan di samping mereka dan mengangguk.
“Kalian bernama Shi Shu dan Shi Jian, kan? Jangan berdiri diam saja, cepat panggilkan orang di dalam!”
“Baik!”
Mendapat perintah dari Gao Ming, dua pelayan itu pun segera berlari mengetuk pintu kediaman sang putri. Sementara itu, Gao Ming kembali tersenyum pada Su Wan’er.
“Ayo, adik Su, kita masuk.”
Mendengar sebutan itu, wajah Su Wan’er pun semakin merah padam.
Gao Ming tahu ia sudah cukup menggoda sang istri. Menggoda istri memang harus tahu batas; jika terlalu berlebihan, bisa-bisa malah dirinya yang kena batunya.
Saat itu, pintu kediaman sang putri pun terbuka. Begitu para pelayan tahu yang datang adalah putra mahkota, sekelompok dayang segera menyambut dan serentak membungkuk hormat kepada Gao Ming.
“Hormat kami, Yang Mulia Putra Mahkota!”
Menyaksikan ini, Gao Ming pun mengangguk ramah dan melambaikan tangan.
“Sudahlah, aku ke sini hanya ingin menjenguk Putri Changle. Kalian tidak perlu banyak basa-basi, silakan undur diri.”
“Baik, Yang Mulia!”
Bagi Gao Ming, pemandangan seperti ini bukan pertama kalinya ia lihat. Ia pun sudah sangat terbiasa menghadapi situasi semacam ini.
Setelah menerima perintah, para dayang itu mundur dan berdiri berjajar di kedua sisi pintu, menundukkan kepala menatap ujung kaki masing-masing.
Melihat itu, Gao Ming tak kuasa menahan diri untuk sedikit merenung.
“Dinasti Tang memang benar-benar kerajaan feodal dengan tatanan kelas yang sangat ketat. Untung saja aku jadi putra mahkota, kalau tidak, mungkin sekarang akulah yang harus menunduk seperti itu.”
Pikiran untuk semakin mengukuhkan posisinya pun semakin menguat dalam benaknya.
Sambil melamun, langkah Gao Ming tak terhenti. Ia merangkul Su Wan’er dan masuk ke kediaman sang putri. Begitu mereka masuk, beberapa dayang di pintu mulai berbisik-bisik.
“Aneh, bukannya katanya hubungan putra mahkota dengan permaisuri kurang harmonis? Tapi ini kelihatannya baik-baik saja, kan?”
“Baik-baik saja apanya? Ini jelas-jelas sangat mesra. Lihat saja raut bahagia permaisuri, senyumnya manis sekali!”
“Betul, betul. Rupanya gosip itu memang tak bisa dipercaya…”
Sementara para dayang sibuk bergosip, Gao Ming sudah membawa Su Wan’er menuju bagian dalam kediaman sang putri. Saat mereka tiba, seorang dayang di pintu dalam segera mengumumkan,
“Yang Mulia Putra Mahkota tiba!”
Baru saja ucapan itu terdengar, pintu kamar di sisi kiri dalam pun terbuka. Seorang pria berbalut jubah sutra hitam keluar dengan wajah kaku. Melihatnya, Gao Ming langsung terpaku.
Bukankah itu Li Shimin?
Orang yang baru saja keluar dari kamar itu memang Li Shimin. Ia tak berkata apa-apa, hanya menatap Gao Ming dengan sorot mata tidak ramah.
Melihat ini, Gao Ming langsung merasa tak enak.
“Sial, sepertinya Ayahanda mau menuntut balas setelah semuanya berlalu!”
Meski sempat terpaku, Su Wan’er justru bereaksi sangat cepat. Begitu melihat Li Shimin mendekat, ia langsung membungkuk anggun dan memanggil,
“Ayahanda.”
Li Shimin pun mengangguk, mengisyaratkan sapaan.
Melihat itu, sudut bibir Gao Ming sedikit berkedut. Ia pun buru-buru ikut membungkuk hormat dan menyapa,
“Salam hormat putra kepada Ayahanda!”
Bagi Gao Ming, memanggil “Ayahanda” jelas jauh lebih mudah daripada “Ayah”. Ucapannya pun cukup lancar. Namun Li Shimin tampak tak puas, hanya berdehem dingin tanpa melihat Gao Ming, lalu berjalan keluar begitu saja.
Setelah Li Shimin pergi, Gao Ming baru berani mengangkat kepala, bibirnya kembali berkedut.
“Masih saja membeda-bedakan. Memangnya aku pernah berbuat salah padanya?”
Saat itu, seorang pria lain keluar dari kamar. Ia membungkuk hormat kepada Gao Ming.
“Chong, memberi hormat kepada Kakanda.”
Chong?
Mendengar panggilan itu, Gao Ming langsung menebak siapa pria itu.
Zhangsun Chong!
Zhangsun Chong adalah putra Zhangsun Wuji, yang merupakan kakak dari Permaisuri Zhangsun. Secara silsilah, Gao Ming harus memanggilnya sepupu. Namun karena ia menikahi Putri Changle, sekarang Zhangsun Chong harus memanggil Gao Ming “Kakanda”.
Hubungan ini memang cukup rumit.
Tapi Gao Ming datang ke sini bukan untuk mengurai silsilah keluarga, melainkan menjenguk Li Lizhi. Maka saat mendengar sapaan Zhangsun Chong, ia hanya tersenyum tipis.
“Tak perlu bersopan-santun. Aku dengar adik perempuan sedang kurang sehat, jadi khusus datang menjenguk.”
Mendengar ucapan Gao Ming, senyum tipis pun muncul di wajah Zhangsun Chong.
“Terima kasih banyak atas perhatian Kakanda. Silakan masuk.”
Setelah berkata begitu, ia mempersilakan Gao Ming dan Su Wan’er masuk ke dalam. Kali ini, Zhangsun Chong tidak ikut masuk, hanya berdiri di luar. Gao Ming pun tidak memanggilnya dan langsung masuk sambil tetap merangkul Su Wan’er.
Begitu memasuki ruangan, Gao Ming melihat seorang wanita muda bersandar di tepi ranjang, usianya sekitar dua puluh tahun, parasnya mirip dengan Li Shimin.
Melihat Gao Ming masuk, wanita itu langsung tersenyum.
“Kakanda datang berkunjung, mohon maaf Lizhi tak bisa bangkit menyambut.”
Melihat wanita anggun dan cantik di hadapannya, Gao Ming segera menyadari bahwa inilah Putri Changle, lalu ia pun tersenyum.
“Adik, tak usah terlalu formal. Bagaimana keadaanmu? Apakah tabib istana sudah datang?”
Li Lizhi tampak agak heran mendengar pertanyaan itu.
“Tabib istana baru saja ikut Ayahanda keluar. Kakanda tidak melihatnya tadi?”
Mendengar itu, Gao Ming langsung menepuk dahinya, seolah-olah baru sadar.
“Eh, sekarang kau bilang begitu, aku jadi ingat. Tadi memang ada pria berkumis kecil keluar bersama. Wajahnya saja sudah tampak tidak ramah, tapi saat itu perhatianku semua tertuju pada Ayahanda sampai tak memperhatikannya.”
Mendengar jawabannya, Li Lizhi langsung ternganga.
“Ayahanda?”
Melihat wajah terkejut Li Lizhi, Gao Ming mengangguk mantap.
“Iya, yang baru saja keluar itu, pria bertubuh agak gemuk dan berwajah muram. Saat aku bertemu, ia seperti sedang menagih utang beras seratus kati, padahal aku cuma mengembalikan tiga kati dedak saja…”
Belum selesai berbicara, Li Lizhi sudah tak tahan menahan tawa.
“Pria gemuk berwajah muram, hihi… mana ada orang yang menggambarkan Ayahanda seperti itu… ehem…”
“Hihi…”
“Hahaha…”
Mendengar tiga tawa berbeda, Gao Ming tertegun, lalu menatap Li Lizhi dengan heran.
“Eh, adik, ruangmu ini tidak terlalu besar, tapi kenapa bisa bergema seperti itu?”
Melihat tingkahnya yang sengaja melucu, Li Lizhi pun kembali tertawa.
“Nampaknya Kakanda memang sudah berubah, beberapa bulan tak berjumpa, kini sudah pandai bercanda dengan adik.”
Sambil tersenyum, ia menoleh ke arah tirai dan memanggil,
“Zhinu, Sizhi, kalian keluar saja, Kakanda sudah menyadarinya.”