Bab 21: Perkataan Para Dayang Istana
“Aku bukan orang jahat, hari ini aku datang ke istana ini untuk melapor tugas, tetapi yang kalian bicarakan itu, apakah Perdana Menteri Wei yang berada di sisi Baginda?” ujar Liu Qing’er berpura-pura tenang.
“Hush, pelan-pelan Nona, jangan sembarangan bicara seperti itu. Kami juga hanya mendengar sepintas saja. Kalau kau memang masuk istana untuk urusan resmi, jangan pernah mengaku punya kaitan apa pun dengan urusan ini. Kalau sampai tersebar, bisa-bisa nyawamu jadi taruhan. Lagi pula, ini adalah rahasia terbesar di istana saat ini. Kalau kau sampai keceplosan, kami pun tak bisa menolongmu,” bisik para dayang itu sambil memberi isyarat agar Qing’er diam.
“Benarkah yang kalian maksud adalah soal itu? Tak kusangka Tuan Wei bisa mengalami sesuatu seperti ini,” Qing’er kembali bertanya, penasaran.
“Kami pun tidak tahu pasti, yang jelas urusan ini tak boleh keluar dari mulut siapa pun. Baginda sangat murka, jadi sebaiknya jangan tahu apa-apa. Kami juga harus segera pergi mencuci pakaian, kau lanjutkan saja urusanmu,” ujar mereka cepat-cepat, lalu segera beranjak pergi agar tak terseret masalah.
Tinggallah Liu Qing’er seorang diri, termangu memikirkan apa yang baru saja didengarnya. Hatinya bergetar, tak menyangka. Jika benar yang mereka bicarakan adalah pamannya sendiri, ini bisa menjadi bencana.
Awalnya ia berharap sang paman dapat membantunya. Namun jika hari ini pamannya benar-benar mendapat masalah, ibunya pun kehilangan sandaran keluarga. Jika itu terjadi, apakah ayahnya masih akan memperlakukan ibunya dengan penuh pertimbangan? Masihkah beliau patuh dan tunduk pada ibunya?
Qing’er tak bisa menahan kegelisahan di hatinya. Tadi ia mengira akan menemukan jejak pamannya, malah mendengar kabar buruk seperti ini.
Namun ia sudah terlanjur masuk ke dalam istana, tak ada jalan lain selain terus melangkah meski hati penuh kekhawatiran.
Beberapa langkah kemudian, ia menyadari betapa luasnya istana ini. Jika tidak ada yang menuntun, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan orang yang dicari.
Akhirnya ia memutuskan melangkah ke arah keramaian, berharap dapat bertanya. Kebetulan ia melihat seorang pria sedang memetik bunga di salah satu pohon.
“Permisi, aku ingin meminta bantuanmu, bolehkah?” Qing’er memberanikan diri, lalu mendekati pria itu.
Pria yang sedang memetik bunga di atas pohon mendengar suara perempuan dari bawah. Ia menunduk, lalu melihat Qing’er berdiri di bawah pohon.
“Tadi kau bilang apa? Siapa dirimu? Kau mencari siapa?” tanya pria tampan itu dari atas, menatap Qing’er dengan penuh selidik. Wajah asing itu belum pernah ia lihat di istana. Namun mendengar pertanyaannya, membuatnya penasaran.
“Tuan, apakah telingamu kurang baik? Ataukah kau ingin aku mengulangi lagi apa yang barusan kukatakan?” ujar Qing’er dengan nada tak senang. Penampilannya terlihat berpendidikan, tapi tampaknya pendengarannya kurang tajam.
“Aneh, bukankah kau yang perlu bantuan dariku? Tapi kenapa sikapmu seperti ingin marah saja? Begini caramu meminta pertolongan?” balas pria di atas pohon dengan nada kurang senang. Wajah yang tadinya heran kini berubah masam.
“Baiklah, ini salahku. Aku memang agak terburu-buru, soalnya aku ingin mencari seseorang,” Qing’er berusaha menahan diri. Semula ia mengira pria ini berwatak lembut, ternyata mudah tersinggung.
“Siapa yang kau cari? Ini wilayah larangan istana, kau datang mencari siapa? Bagaimana caramu bisa masuk ke sini?” tanya pria itu, kini melompat turun dari pohon, berdiri di hadapan Qing’er.
“Tentu saja aku boleh masuk, meski memang kesempatan masuk istana sangat terbatas. Karena itu aku tidak ingin tersesat dan kesulitan mencari orang. Sebenarnya aku ingin mencari Tuan Wei di istana ini, kau tahu? Perdana Menteri yang selalu mendampingi Baginda,” jelas Qing’er.
Pria itu menatap Qing’er, seolah tak percaya bahwa perempuan ini sedang mencari pejabat yang kini tengah tersandung masalah besar.
“Kau mencarinya? Untuk apa? Kau tidak tahu masalah besar apa yang menimpanya? Kalau tidak ada urusan penting, lebih baik segera pergi. Siapa pun yang terlibat dengannya, pasti celaka,” ujarnya tiba-tiba dengan nada dingin, membuat Qing’er merinding.
“Maksudmu apa? Dia pamanku, keluargaku sendiri! Masalah apa yang menimpanya? Kenapa tidak terdengar sedikit pun? Apa mungkin dia hanya dijebak? Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Qing’er gelisah, langsung maju dan menggenggam lengan baju pria itu, tak mampu menahan ketakutan.
Semula ia datang untuk meminta bantuan pamannya. Tak disangka, kini justru mendengar kabar buruk itu.
“Ini urusan rahasia istana, jadi aku tentu tak bisa memberitahumu. Kalau aku ceritakan, aku pun bisa terseret. Yang perlu kau tahu, pamanu sedang bermasalah. Kalau benar dia keluargamu, sebaiknya segera jauhi dan jangan sampai keluargamu ikut terseret,” tegas pria itu, raut wajahnya serius, jelas ia tidak sedang bercanda. Terngiang kembali omongan para dayang tadi, Qing’er semakin yakin masalah itu benar-benar terjadi.
“Tuan Hao, aku percaya pada ucapanmu. Tapi bisakah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimanapun, dia pamanku sendiri, aku sangat mengkhawatirkannya,” ujar Qing’er, hatinya penuh kegelisahan.
“Tak banyak yang bisa kukatakan. Aku ini orang dalam istana, jadi sebaiknya kau segera pergi, jangan berlama-lama di sini,” kata pria itu, lalu berbalik hendak pergi. Namun Qing’er buru-buru menarik ujung bajunya, tak rela melepaskan kesempatan.
“Tuan, kumohon sekali, tolonglah aku. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan pamanku sekarang,” rintih Qing’er.
Pria itu menoleh, menatap Qing’er dengan ketidaksenangan.
“Sudah kubilang, aku tak ingin terlibat urusanmu. Semuanya sudah jelas kukatakan, kau juga bukan anak kecil lagi, masak tidak bisa mengerti?” ujarnya, lalu menarik paksa tangannya dari genggaman Qing’er.
“Tuan, di istana ini aku tak kenal siapa-siapa, hanya dirimu satu-satunya. Mungkin memang takdir kita bertemu hari ini. Aku yakin kau orang baik. Tolonglah aku, aku tak meminta banyak, hanya ingin tahu apakah pamanku masih selamat,” suara Qing’er mulai bergetar, air mata menetes di pipinya.
Pria itu tampaknya tak tahan melihat perempuan menangis. Mendengar suara tangis tertahan Qing’er, ia pun jadi panik.
“Nona, bicaralah baik-baik, jangan menangis. Aku paling tak tahan melihat perempuan menangis. Sepertinya aku yang sial bertemu denganmu hari ini. Baiklah, akan kuceritakan padamu,” katanya akhirnya.