Bab 45: Liu Qing'er Melompat ke Sungai untuk Bunuh Diri
Ketika tiba di kamar tidur Pangeran Ketiga, seluruh pelayan perempuan di dalam ruangan sibuk dengan berbagai pekerjaan; ada yang berlari membawa baskom, ada pula yang tergesa-gesa menyalakan api.
“Sebenarnya sekarang keadaannya bagaimana?”
Baru saja melangkah ke pelataran utama kediaman Pangeran Ketiga, suara Permaisuri menggema masuk.
“Hormat kami kepada Baginda Permaisuri, Pangeran Ketiga mungkin karena hatinya gelisah, kini ia demam tinggi dan belum juga turun. Sudah banyak tabib istana yang dipanggil.”
Para pelayan begitu melihat Permaisuri, langsung berlutut dan melapor dengan tergesa-gesa.
“Tabib istana lamban sekali? Kenapa bisa sampai demam? Anak ini benar-benar membuat orang khawatir.” Permaisuri berkerut alisnya, lalu mendorong pintu dan masuk ke kamar tidur Pangeran.
“Tabib sedang dalam perjalanan, sebentar lagi akan tiba,” ujar salah satu pelayan.
Permaisuri berjalan mendekat ke ranjang, mendapati sang Pangeran terbaring dengan mata terpejam rapat, di dahinya tergeletak selembar sapu tangan.
Wajahnya kemerahan, kening dan pipinya basah oleh butiran keringat yang terus bermunculan.
“Tidak mungkin, ini pasti tidak benar. Qing’er tidak akan mengalami hal seperti itu.”
Dengan hati penuh iba, Permaisuri menunduk di sisi ranjang, menatap sang putra yang tampak lesu dan tak berdaya, hatinya diliputi duka mendalam.
Mulut sang Pangeran terus-menerus bergumam, seperti sedang mengalami mimpi buruk, alisnya mengerut, kepala dan tubuhnya pun bergerak gelisah.
“Apa? Xun’er, kau bilang apa?”
Mendengar gumaman sang Pangeran, Permaisuri menundukkan tubuhnya, menempelkan telinga ke bibir putranya, berusaha mendengarkan lebih jelas.
“Qing’er, tidak, aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Tuan Muda Yuan, jangan, jangan…”
Mendengar ucapannya, wajah Permaisuri berubah serius, lalu menatap para pelayan di sampingnya.
“Sudah berapa lama Pangeran dalam keadaan seperti ini? Apakah kalian tahu apa yang diucapkannya?”
“Hormat kami, Baginda Permaisuri. Semuanya terjadi karena kabar putri keluarga Liu, Nona Qing’er, yang mengakhiri hidupnya. Setelah mendengar itu, Pangeran langsung seperti ini. Kami pun tak paham apa yang sebenarnya terjadi.”
Para pelayan, tampak ketakutan, berlutut dan menjawab dengan suara gemetar.
“Kenapa Pangeran bisa mengenalnya? Urusan Putri Sulung keluarga Liu itu memang terlalu ekstrem, aku pun merasa menyesal, tapi apa hubungannya dengan Pangeran?”
Permaisuri mengerutkan kening, tampak bingung dan gelisah.
“Ayo, katakan sejujurnya, apakah Pangeran benar-benar mengenal Putri keluarga Liu itu? Apa hubungan mereka berdua?”
“Tabib sudah datang!”
Saat itu juga, tabib istana masuk tergesa-gesa membawa kotak obat.
“Cepat periksa keadaan Pangeran, demamnya belum juga turun.”
Permaisuri menunjuk ke arah ranjang, tabib segera bergegas menghampiri. Sambil itu, Permaisuri menatap tajam para pelayan yang masih berlutut.
“Baginda, kami juga tidak tahu pasti. Beberapa hari lalu, Putri Sulung keluarga Liu, Qing’er, tiba-tiba datang ke istana. Waktu itu ia ingin bertemu Pangeran, namun Pangeran tidak mengijinkannya masuk. Ia menunggu semalaman di depan pintu, baru keesokan harinya dipanggil masuk oleh Pangeran. Setelah itu mereka berdua pergi bersama, dan esoknya hanya Pangeran yang kembali. Sebelumnya, Nona Liu tidak pernah datang ke istana, jadi kami pun tidak mengenalnya.”
“Benar, Baginda Permaisuri, dulu kami belum pernah bertemu dengan Nona Liu, itu pun pertama dan terakhir kalinya. Jadi kami tidak tahu hubungan mereka. Tapi hari ini, setelah mendengar Nona Liu bunuh diri di sungai, Pangeran langsung jadi seperti kehilangan jiwa.”
Mendengar penjelasan para pelayan, Permaisuri semakin mengerutkan kening.
“Jaga baik-baik Pangeran, rawat dia dengan sungguh-sungguh. Jika ia sadar, segera beri tahu aku. Aku harus menanyakannya sendiri.”
Selesai berkata demikian, Permaisuri pergi dengan wajah murka, diikuti pengasuh setianya.
Sementara itu, tabib istana sibuk melakukan akupunktur dan menurunkan panas dengan berbagai cara.
Empat jam kemudian, demam Pangeran Ketiga akhirnya turun.
Namun selama itu pula, kesadarannya mengabur, dan ia terus-menerus memanggil seseorang.
“Qing’er, Qing’er, mengapa kau begitu bodoh? Kenapa kau tidak menungguku? Aku pasti akan menyelamatkanmu, aku sedang berusaha…”
Tak seorang pun tahu, dalam sehari, Pangeran Ketiga telah menerima dua pukulan berat berturut-turut.
Di waktu yang sama, seluruh keluarga Liu dipenuhi oleh isak tangis duka.
Perayaan pembukaan usaha yang baru saja diadakan, kini terasa seperti kenangan yang sudah sangat jauh.
“Qing’er, putriku yang berharga, mengapa kau begitu gegabah? Bukankah semua bisa dibicarakan baik-baik? Mengapa kau begitu tidak bertanggung jawab pada hidupmu sendiri? Kalau kau pergi seperti ini, bagaimana dengan ibumu?”
Nyonya Besar keluarga Liu tersungkur di lantai, menatap tubuh Qing’er yang terbujur kaku dan dingin di atas ranjang, menangis sejadi-jadinya.
“Qing’er, mengapa kau sebodoh ini? Tak adakah cara lain selain ini? Ibu tahu ibu telah salah, Xiaoyu juga sudah siuman, ia masih hidup, mengapa kau tetap bersikeras? Anakku yang bodoh…”
Siapa sangka, kemarin Qing’er masih hidup dan ceria, kini ia sudah menjadi jasad dingin yang tak bernyawa.
Tak ada yang menyangka, Qing’er akan setegas itu, rela mengakhiri hidupnya demi menolak perjodohan dengan Tuan Muda keluarga Yuan.
Di saat seperti ini, yang paling gembira justru keluarga cabang kedua dan ketiga.
Keluarga cabang kedua.
“Ibu, bukankah benar adanya kebaikan dibalas kebaikan, kejahatan dibalas kejahatan? Bahkan langit pun tak tahan melihatnya, langit pun merasa selama Qing’er ada di rumah ini, kami takkan pernah bangkit. Karena itu langit mengambil nyawanya.”
Die’er berjalan mondar-mandir di kamar. Setelah tahu kakaknya terjun ke sungai, di wajahnya tak terlihat sedikit pun kesedihan, malah tersirat kegembiraan. Nada bicaranya pun tenang, seolah-olah ini memang hal yang diharapkannya.
“Ih, Die’er, bagaimanapun itu tetap nyawa seseorang. Tak kusangka Qing’er begitu keras kepala, sampai rela kehilangan nyawa daripada tunduk pada ayahmu.”
Liu Ruyan berbicara sambil menghela napas. Walau tahu kehadiran Qing’er hanya menjadi beban bagi Die’er di keluarga, tetap saja itu nyawa manusia. Begitu saja menghilang, ia tak bisa menahan rasa sedih di hatinya.
“Ibu, kenapa mesti bersedih? Kematian Qing’er justru menguntungkan bagiku, bukankah Tuan Muda Yuan tetap akan menikahi putri keluarga Liu? Sekarang giliran aku, Tuan Muda Yuan adalah pria idamanku. Menikah dengannya, aku pun bisa naik derajat!”
Die’er berkata dengan penuh rasa puas.
“Haa…”
Melihat sikap anaknya, Liu Ruyan hanya bisa diam dan menghela napas.
Die’er kini merasa jalannya terbuka lebar. Qing’er telah tiada, kini ia menjadi putri sulung keluarga Liu. Ia tidak bisa menahan kegembiraannya.
Meski seluruh kediaman Liu dipenuhi tangisan duka, meski sang Tuan Besar dan Nyonya Besar harus menanggung derita mengantar anak ke liang lahat, Die’er sama sekali tak peduli. Yang penting baginya hanyalah masa depannya sendiri.
Keluarga cabang ketiga.
“Ibu, tahukah kau? Semalam, Qing’er benar-benar nekat terjun ke sungai…”