Di tanah tandus di barat, beredar sebuah legenda: ketika Langit Agung menghembuskan cahaya dan panas terakhirnya, malam kelam akan datang bagai binatang buas dari jurang, menelan seluruh dunia ke dalam kegelapan. Namun, sejak kerajaan besar Tang terpecah dan runtuh, adakah satu hari pun di dunia ini yang bukan malam jurang? ... Berjalanlah di tepi senja menuju malam jurang, saksikan beragam rupa hidup manusia. Kini, izinkanlah aku mengisahkan sebuah cerita kepadamu...
Pada tahun kesembilan masa pemerintahan kekaisaran Zhou, salju turun lebih awal di Kota Yangliu, sebuah kota perbatasan di barat laut. Salju itu benar-benar tidak tepat waktu; padahal saat itu sudah bulan kedelapan dan gandum di ladang telah tumbuh setinggi dada orang dewasa. Namun, salju yang tiba-tiba itu menutupi seluruh kehijauan dengan warna putih yang kelabu. Warna putih menyelimuti setiap sudut kota, seolah-olah juga menyelimuti wajah dan hati dari dua ratus delapan belas keluarga yang tinggal di sana.
Tak seorang pun dapat merasa bahagia.
Dan yang paling tidak bisa merasa bahagia adalah Jenderal Penjaga Kota, Qi An.
Tiga tahun yang lalu, setelah Jenderal Penjaga Kota yang lama meninggal dunia, sesuai aturan warisan jabatan di perbatasan Dinasti Zhou, Qi An yang saat itu baru berusia empat belas tahun mewarisi posisi itu. Selama tiga tahun ini, meski hidupnya tidak bergelimang kemewahan, karena Kota Yangliu termasuk kota yang makmur di antara kota-kota miskin di barat laut, Qi An tetap hidup dengan nyaman dan tenteram.
Namun, salju kali ini mengacaukan semua ketenangannya. Tak usah membicarakan dirinya sendiri, bagaimana nasib persediaan makanan untuk dua ratus delapan belas keluarga di kota?
Ia sudah memikirkan berbagai cara. Begitu salju mulai turun, ia langsung memerintahkan orang menulis surat permohonan bantuan dan mengirimnya ke kediaman Adipati Penjaga Utara, penguasa seluruh barat laut. Di wilayah barat laut tidak ada pembagian wilayah administratif, enam puluh satu kota besar dan kecil semuanya diatur oleh istana Adipati Penj