Bab 122 Mengakhiri Hidup Sendiri
"Untuk apa aku datang? Kamu tanya untuk apa aku datang? Apa yang telah kamu lakukan pada pelayanku? Asal kamu tahu, selama ini aku sudah mencoba memaklumi segala perilakumu, kamu sama sekali tidak menepati janji-janjimu. Aku hanya ingin bersabar dan memendam semuanya, namun aku tidak menyangka kamu bertindak semakin keterlaluan hingga tega membunuh pelayanku."
Nyonya Besar menatap Tuan Liu di hadapannya dengan penuh amarah.
"Masih berani bicara? Coba lihat pelayanmu itu, kelakuannya sama saja denganmu. Jelas-jelas hanya seorang pelayan, tapi bersikap seolah dirinyalah tuannya. Berani-beraninya dia menunjuk-nunjuk wajahku dan memaki dengan kasar. Coba katakan, di kediaman ini ada begitu banyak pelayan, jika aku tidak memberinya pelajaran, bagaimana orang lain memandangku? Bagaimana aku bisa memimpin keluarga Liu?"
Tuan Liu sama sekali tidak merasa dirinya bersalah.
"Memimpin keluarga? Coba lihat dirimu sendiri, apa kamu masih terlihat seperti kepala keluarga? Sepanjang hari hanya mendekam di kamar perempuan penggoda itu, tidak pernah keluar rumah, urusan bisnis tidak diurus, urusan rumah tangga pun diabaikan. Sekarang rumah ini sudah berantakan. Coba lihat, apakah masih ada orang yang datang berkunjung? Apakah ada yang datang untuk berbisnis atau bekerja sama? Setiap kali ada orang datang, kamu selalu tidak ada di tempat. Kamu terus saja meringkuk di kamar Nyonya Kedua. Apa kamu tidak takut umurmu habis dihisap olehnya?"
Nyonya Besar akhirnya meluapkan seluruh kemarahan yang selama ini ia pendam.
"Nyonya Besar, jangan memfitnahku. Tuan tinggal di kamark juga untuk mengurus urusan rumah tangga, dan kami sedang mendiskusikan bagaimana menjalankan serta mengatur kediaman Liu ke depannya, bukan hanya bersenang-senang saja. Lagipula, Tuan merasa bahagia dan nyaman berada di sisiku. Selama belasan tahun bersama Nyonya Besar, Tuan bahkan tidak tahu bagaimana hari-hari itu berlalu, dan sudah lama sekali Tuan tidak merasakan kebahagiaan atau kehidupan suami istri yang normal. Jadi, Tuan hanya sedang mencari kembali kebahagiaan yang hilang selama belasan tahun ini."
Liu Ruyan meringkuk di balik selimut, hanya menyisakan wajahnya yang terlihat.
Nyonya Besar adalah orang yang paling tidak ingin ditemui oleh Liu Ruyan saat ini; mendengar suaranya saja sudah membuatnya merasa muak. Ia tidak menyangka, setelah setengah bulan tidak bertemu, wanita itu bahkan tidak lagi berpura-pura dan bicara sesuka hatinya.
"Liu Ruyan, aku sedang bicara dengan Tuan, tidak ada urusannya denganmu, tutup mulutmu!" Nyonya Besar meliriknya tajam.
"Tuan, lihatlah, dia hanyalah Nyonya Besar yang sudah jatuh, tapi masih berani memerintahku. Apakah di rumah ini aku sudah tidak punya kedudukan lagi? Mengapa sekarang dia yang harus mendikteku?" Liu Ruyan tampak sangat tersakiti, ia menatap Tuan Liu dengan penuh harap agar dibela.
"Nyonya Besar, bagaimanapun dia adalah istri kedua. Kalian berdua sekarang memiliki kedudukan yang setara, tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain. Ke depannya, bicaralah dengan sopan padanya."
"Tuan, aku bicara soal urusan penting, kamu malah tidak peduli. Tapi begitu mendengar soal Liu Ruyan, kamu langsung bersemangat. Apa kamu masih punya nurani? Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa kamu sudah diguna-guna oleh hantu? Mungkinkah Liu Ruyan benar-benar siluman rubah yang telah merenggut hati dan jiwamu? Lihat dirimu sekarang, betapa kurus dan lemahnya kamu. Jika kamu terus bermalas-malasan di atas ranjangnya, mungkin tak lama lagi kamu akan masuk ke liang lahat."
Nyonya Besar benar-benar meledak, ia menunjuk Tuan Liu dengan penuh amarah.
"Cukup! Jangan bicara lagi di sini. Hati-hati nasibmu akan sama dengan pelayan itu. Mengingat kita sudah menjadi suami istri selama belasan tahun, aku tidak ingin sampai melakukan hal itu padamu, tapi sebaiknya kamu tahu diri." Tuan Liu menatap Nyonya Besar dengan nada mengancam.
"Apa? Aku benar-benar tidak menyangka Tuan bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Jika memang begitu, lebih baik Tuan bunuh saja aku sekarang juga. Membiarkanku hidup melihat keluarga Liu hancur perlahan, aku tidak sanggup menanggungnya." Hati Nyonya Besar sudah mati.
Ia merasa hidup tak lagi berarti. Putri kesayangannya telah tiada, kakaknya diasingkan dan entah berada di mana, bahkan tidak pernah sekalipun datang menjenguk. Kini, keluarga Liu telah menjadi seperti ini. Padahal ia sudah bersusah payah mendukung Tuan Liu hingga keluarga Liu sebesar ini, tak disangka pada akhirnya semua sia-sia. Hanya dalam waktu setengah bulan, seorang wanita penggoda telah membuat keluarga Liu hancur lebur.
Ia tidak tahu apa lagi gunanya hidup, karena perubahan Tuan Liu begitu drastis hingga di luar dugaannya. Selama setengah bulan ini, Tuan Liu bahkan tidak menemui tamu yang datang untuk berbisnis, melainkan terus bersembunyi di kamar Liu Ruyan, menikmati belaian lembutnya. Ia tidak tahu di mana letak kesalahannya. Setelah kehilangan Liu Qing'er, ia merasa hidupnya kehilangan harapan, dan kini ia pun tak lagi memiliki keberanian untuk terus hidup.
"Hah, membunuhmu lalu membiarkan semua orang menyalahkanku? Ingin membiarkan orang melihat Tuan keluarga Liu membunuh istrinya sendiri? Ingin membiarkan semua orang menertawakan dan menunjuk-nunjukku?" Tuan Liu merasa Nyonya Besar hanya sedang mengancamnya.
"Tuan tidak perlu repot-repot mengotori tangan sendiri. Jika Tuan tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sendiri."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Nyonya Besar membanting pintu dan pergi. Melihat sikap Nyonya Besar, Tuan Liu merasa cemas. Ia segera mengambil mantel dan mengenakan sepatunya.
"Tuan, apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Liu Ruyan melihat tindakan Tuan Liu.
"Aku harus menyusulnya. Kata-katanya tadi jelas menunjukkan ia sedang marah. Jika terjadi sesuatu yang buruk, itu akan gawat." Tuan Liu bergegas menuju pintu.
"Tuan, itu hanyalah taktiknya untuk memancing emosi Anda. Tenang saja, dia pasti tidak akan melakukan apa-apa. Kalau dia benar-benar ingin melakukan sesuatu, dia pasti sudah melakukannya sejak lama, tidak perlu repot-repot datang melapor pada Anda. Lagipula, sudah lebih dari setengah bulan berlalu." Liu Ruyan segera menarik tangan Tuan Liu, sementara satu tangannya menutupi selimut, nyaris memperlihatkan belahan dadanya.
"Tapi, bagaimana jika kali ini dia bersungguh-sungguh?" Tuan Liu masih merasa khawatir karena nada bicara Nyonya Besar tadi terdengar sangat tegas.
"Tuan Liu, apakah sekarang di matamu dia masih yang paling penting? Aku sudah menemanimu selama sepuluh hari lebih, apakah aku tidak penting bagimu? Dia memang menemanimu belasan tahun, tapi coba katakan, selama belasan tahun ini, apakah aku tidak melayanimu dengan baik? Selama setengah bulan ini aku siang malam berusaha memanjakanmu, apakah usahaku masih kurang dibandingkan dia?" Liu Ruyan tiba-tiba menangis dengan pilu.
"Bukan begitu, Ruyan. Kamu tahu aku tidak bermaksud begitu. Bagaimanapun, kami sudah menjadi suami istri sekian lama. Lagi pula, sikapnya tadi benar-benar membuatku takut terjadi sesuatu padanya. Jika benar terjadi sesuatu, aku pasti akan dicaci oleh dunia." Tuan Liu menoleh, menjelaskan dengan tergesa-gesa karena takut Liu Ruyan salah paham.
"Tuan, dia tidak akan melakukan apa-apa. Sesama wanita, aku tahu dia hanya sedang memancing emosi Anda. Jadi, tetaplah di sini menemaniku, ya?"
Tuan Liu menoleh kembali menatap wanita yang hampir menangis di belakangnya itu, hatinya pun melunak seketika. Di mata Liu Ruyan, masih tampak sisa-sisa air mata.