Bab 130 Lentera Teratai Paling Indah
"Aku juga hanya seorang pelayan, aku tidak bisa memutuskan sendiri. Namun, jika Nyonya Kedua menyukai lentera teratai ini, pasti beliau akan memberikan jawaban untukmu. Tenang saja, bagaimanapun juga, mengingat hubunganmu yang sangat dekat dengan Nona Liu Die’er sebelumnya, aku yakin Nyonya Kedua pasti akan membantumu sekali ini," ucap pelayan itu sambil menatapnya dengan penuh keyakinan.
"Kau saja tidak bisa memutuskan, jadi tentu saja lentera teratai ini tidak bisa kuberikan padamu. Bagaimana jika nanti kau yang merebut perhatian? Jika aku memegang kedua lentera ini, aku bisa menarik perhatian Ayah. Jika aku kehilangan lentera ini dan hanya memiliki lentera teratai biasa seperti milik kalian, mungkin kesempatanku akan hilang. Jadi, kau harus memberiku jawaban yang pasti," ujar Liu Mei’er sambil menghentakkan kakinya.
"Baiklah, baiklah, jangan terburu-buru. Setidaknya biarkan aku membawa lentera teratai ini kembali untuk melapor. Nanti tunggulah di depan pintu kamar Nyonya Kedua, aku akan keluar memberimu kabar," kata pelayan itu seraya mengulurkan tangannya kepada Liu Mei’er.
"Benarkah? Apakah ucapanmu bisa dipegang?" tanya Liu Mei’er sekali lagi.
"Tentu saja bisa dipegang."
Akhirnya, dengan enggan, Liu Mei’er menyerahkan lentera teratai itu. Pelayan tersebut pun dengan riang membawa lentera itu menemui Nyonya Kedua. Liu Mei’er mengikuti di belakangnya dan menunggu di depan pintu kamar Nyonya Kedua.
"Nyonya, Nyonya! Cepat lihat, barang bagus apa yang kubawakan untuk Anda?" seru pelayan itu begitu mendorong pintu.
Saat itu, sang Tuan sedang melukis di ruang kerja, jadi ia tahu hanya Nyonya Kedua yang berada di kamar. Itulah sebabnya ia berani langsung masuk.
"Ada apa? Mengapa terburu-buru sekali? Bukankah kau pergi mengambil lentera teratai? Biar kulihat... Oh, lentera teratai ini sungguh cantik," Liu Ruyan berseri-seri saat melihat lentera di tangan pelayan itu.
"Sudah kubilang lentera teratai tahun ini sangat indah. Dibandingkan dengan tahun lalu yang tampak memalukan, lentera tahun ini benar-benar cantik. Aku sangat senang, lentera ini pasti akan memikat hati Tuan."
Liu Ruyan benar-benar terpesona oleh lentera itu, senyum merekah di wajahnya.
"Namun, Nyonya Kedua, ada satu hal yang harus kusampaikan. Lentera ini bukan milik kita, melainkan milik Nona Ketiga, Liu Mei’er. Aku bertemu dengannya di jalan saat membawa lentera ini. Karena melihat miliknya jauh lebih indah daripada milik kita, aku pun memintanya. Tentu saja aku tidak bisa memintanya secara cuma-cuma, jadi aku membuat kesepakatan dengannya, tapi ia belum setuju sepenuhnya, tergantung bagaimana keputusan Nyonya Kedua," ucap pelayan itu dengan hati-hati.
"Apa? Ini bukan milik kita? Apa artinya buatan kita tahun ini tidak lebih cantik dari miliknya? Lalu, syarat apa yang ia minta?" tanya Liu Ruyan sambil mengamati lentera itu dengan saksama.
"Ia ingin pindah ke kamar yang lebih besar. Aku berpikir, karena Nyonya Besar sudah tidak lagi disukai, kamarnya yang besar itu terasa mubazir jika ditinggali sendirian. Jadi, mungkin bisa ditukar dengan milik Nona Ketiga. Menurutku, jika Nyonya Kedua yang memohon pada Tuan, pasti akan disetujui. Jadi, aku memberinya harapan, namun semua keputusan tetap ada di tangan Nyonya," jelas pelayan itu sambil memperhatikan ekspresi Liu Ruyan.
Liu Ruyan tidak berkata apa-apa, ia hanya tersenyum sambil terus mengagumi lentera tersebut.
"Begitu rupanya? Ternyata kau cukup cerdik juga, tidak sia-sia kau berada di sampingku." Liu Ruyan kemudian terus mengamati lentera itu. "Lentera ini sungguh luar biasa, di luar dugaanku. Tidak disangka ia sampai membuat lentera seindah ini demi menarik perhatian Tuan. Pasti ia telah mengeluarkan banyak uang dan tenaga. Jika kita mengambilnya begitu saja, bukankah ia akan sedih? Permintaannya tidak terlalu berlebihan, jadi setujui saja."
Mendengar keputusan Liu Ruyan, pelayan itu sangat gembira. "Aku tahu Nyonya Kedua adalah orang yang paling pengertian. Aku akan segera memberitahunya."
Liu Ruyan melambaikan tangan, dan pelayan itu pun berlari keluar. Liu Mei’er yang tahu umpannya telah dimakan, segera pergi dengan perasaan senang.
Pelayan itu kembali ke kamar dan mendapati Liu Ruyan sedang memeriksa lentera itu dari berbagai sisi. "Nyonya Kedua, apa yang sedang Anda periksa?"
"Tentu saja, ini barang orang luar. Kita tidak melihat proses pembuatannya secara langsung, bagaimana jika ada jebakan di dalamnya? Jadi, aku harus memeriksanya dengan teliti."
Setelah diperiksa beberapa saat, mereka tidak menemukan keanehan apa pun. Liu Ruyan pun mengangguk puas.
"Tapi, sepertinya ada satu bagian yang kurang," tiba-tiba pelayan itu menunjuk ke arah sumbu lentera.
Mengikuti arah telunjuknya, Liu Ruyan menyadari kejanggalan tersebut. Seharusnya ada tiga sumbu, namun ternyata hanya ada satu.
"Bagaimana bisa pengerjaannya cacat seperti ini? Cepat suruh Liu Mei’er mengambilnya kembali dan memperbaikinya sebelum dikirim ke sini!" perintah Liu Ruyan dengan panik.
"Baik, Nyonya, jangan khawatir, saya akan segera melakukannya." Pelayan itu pun berlari terbirit-birit.
Sementara itu, Liu Mei’er berjalan dengan santai, ia tahu tidak lama lagi pelayan itu akan menyusulnya.
"Nona Ketiga, tunggu sebentar!"
Mendengar suara itu, sudut bibir Liu Mei’er terangkat membentuk senyuman. "Ada apa? Jangan bilang kalian ingin membatalkannya? Tidak boleh begitu, lentera itu sudah kalian ambil, dan tujuanku hanyalah kamar besar itu. Bukankah kita sudah sepakat?"
Pelayan itu melihat ekspresi Liu Mei’er yang tampak cemas, lalu tertawa kecil. "Haha, tenang saja. Aku tidak datang untuk mengembalikan lentera atau membatalkan kesepakatan kamar itu. Hanya saja, lentera ini ada sedikit kekurangan. Sebelum hari gelap, pastikan kau memperbaikinya dan mengirimkannya tepat waktu ke kamar Nyonya Kedua. Jika tidak, jangan salahkan Nyonya Kedua jika ia tidak membantumu." Pelayan itu menunjuk bagian yang kurang pada lentera tersebut.
"Astaga, bagaimana bisa ada kesalahan sebesar ini? Mengapa pengrajinnya begitu ceroboh? Baiklah, aku mengerti. Aku akan segera menemui pengrajin untuk memperbaikinya, dan setelah selesai, aku akan segera mengantarnya kembali. Tenang saja, langkah kakiku cepat, aku tidak akan merusak rencana Nyonya Kedua."
Liu Mei’er segera mengambil lentera itu dan berbalik pergi. Ia kemudian berlari kecil, dan setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, ia bergegas kembali ke kamar di kediaman ketiga.