Bab 126: Sarat Makna
"Masuklah! Ayahku ada di dalam..." bisik Shen Zhen. Sikapnya kini sangat kontras dengan keceriaannya tadi, seolah-olah ia menyimpan rasa takut yang tak terlukiskan terhadap sosok di dalam ruang kerja itu.
"Shen Zhen, kau juga masuklah." Tepat pada saat itu, sebuah suara terdengar dari dalam ruang kerja. Nadanya tenang dan berwibawa, tanpa sedikit pun kesan emosional.
Shen Zhen mengerucutkan bibirnya, menatap Li Lin dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa menatapku begitu..." Li Lin merasa bingung.
Shen Zhen menghela napas, lalu berbalik dan mendorong pintu ruang kerja hingga terbuka.
"Masuklah!" Seorang pria paruh baya yang duduk di dalam ruang kerja tersenyum tipis saat melihat Li Lin dan Shen Zhen di ambang pintu.
Li Lin mengangguk, melirik Shen Zhen sejenak, baru kemudian gadis itu dengan enggan melangkah masuk ke dalam ruangan.
Pria paruh baya di dalam ruang kerja itu memiliki alis yang tajam dan mata yang bercahaya. Ia tampak sangat tampan dalam balutan jubah ungu. Duduk di sana, ia memancarkan aura seorang cendekiawan yang lembut dan elegan. Dengan rambut pendek yang tertata rapi, ia memegang sebuah buku spiritual yang sedang dibacanya. Sambil menatap Shen Zhen yang tampak menciut, ia berkata dengan senyum penuh arti, "Mengapa menunduk, Nona Muda yang baru saja meraih peringkat kedua?"
Shen Zhen memutar bola matanya, entah apa yang sedang ia pikirkan, namun ia tetap bungkam.
Pria itu terkekeh, lalu mengalihkan pandangannya kepada Li Lin. Setelah mengamatinya sejenak, ia tersenyum, "Kau Li Lin?"
"Salam, Paman." Li Lin melangkah maju untuk memberi hormat. Bagaimanapun, pria di depannya ini sangat layak dihormati.
Ia bukan sekadar ayah Shen Zhen atau orang yang lebih tua bagi Li Lin. Ia adalah satu-satunya penguasa Kota Hongsang yang bukan berasal dari marga Sanghong sejak kota itu pertama kali didirikan!
Sepanjang sejarah, posisi penguasa Kota Hongsang selalu dipegang oleh anggota keluarga Sanghong. Namun, lima belas tahun lalu, seorang pria bernama Shen Xinglin mengambil alih posisi tersebut sebagai penguasa kedelapan.
Pria itulah ayah Shen Zhen, yang kini duduk di depannya.
"Haha, bagus!" Shen Xinglin tertawa. Tanpa ada tekanan dari seorang penguasa, ia justru tampak seperti pria paruh baya yang tenang. Ia meletakkan buku spiritualnya dan menatap Li Lin dengan ramah, "Jangan berdiri saja, duduklah!"
Tak lama kemudian, sebuah meja dan sepasang kursi muncul di dalam ruangan, lengkap dengan peralatan minum teh di atasnya.
Pupil mata Li Lin mengecil. Ia menyadari bahwa meja, kursi, dan peralatan teh itu dipanggil langsung dari buku spiritual. Seberapa mewah seseorang hingga rela menulis buku spiritual khusus hanya untuk menyeduh teh?
Meja itu berwarna cokelat kemerahan dan mengeluarkan aroma kayu kuno. Hanya ada dua buah kursi yang tersedia.
Shen Xinglin duduk di salah satu kursi, mengambil teko teh, dan tanpa mendongak berkata, "Mengapa tidak duduk?"
"Baik." Li Lin tidak berbasa-basi, ia menarik kursi dan duduk di hadapan Shen Xinglin.
Suasana ruang kerja menjadi sunyi.
Shen Xinglin dan Li Lin duduk berhadapan, sementara Shen Zhen berdiri di samping sambil menundukkan kepala. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar suara air teh yang dituang ke dalam cangkir.
Li Lin memperhatikan Shen Xinglin yang menyeduh teh dengan cekatan tanpa mengeluarkan suara. Biasanya, seorang pemuda akan merasa gelisah saat duduk di depan seorang penguasa kota, namun Li Lin tetap tenang. Meski begitu, ada kilatan makna yang tak terbaca di matanya.
Akhirnya, tuangan teh pertama selesai.
Shen Xinglin menuangkan secangkir untuk Li Lin dan berkata sambil tersenyum, "Ini adalah teh istimewa yang kudapatkan saat berkelana ke wilayah utara bertahun-tahun lalu. Namanya 'Teh Bintang Perak'. Sayangnya, akibat perang di utara beberapa tahun silam, tempat asal teh ini hancur total. Harga teh ini di pasaran terus melonjak. Karena tidak ada pilihan lain, aku terpaksa menulis buku spiritual tentang 'Teh Bintang Perak' ini berdasarkan ingatanku. Meski tidak bisa menyamai rasa aslinya, kemiripannya sudah mencapai tujuh atau delapan puluh persen. Silakan, cobalah!"
Li Lin menerima cangkir teh itu, menyesapnya sedikit, lalu mengangguk, "Hmm, teh yang enak."
Teh yang enak, setidaknya itulah yang bisa ia rasakan.
Bagaimanapun, Li Lin tidak terlalu mengerti soal teh, jadi mengangguk dan memuji adalah pilihan yang tepat saat ini.
Shen Xinglin tersenyum, seolah mengerti apa yang dipikirkan Li Lin, namun ia tidak berkomentar. Ia menuangkan teh untuk dirinya sendiri, menatap air teh berwarna kuning pucat di dalam cangkir, lalu berkata dengan santai, "Li Lin, kudengar kau menyukai putriku?"
*Pfft!*
Li Lin segera menutup mulutnya, hampir memuntahkan teh istimewa itu.
"Li Lin, kudengar kau menyukai putriku?"
Suara Shen Xinglin terdengar sangat datar dan tenang, bahkan mengandung kesan yang dalam.
Sementara Li Lin membelalakkan mata, tertegun tak mampu berkata-kata.
Di sampingnya, tubuh Shen Zhen gemetar. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, namun setelah Shen Xinglin meliriknya sekilas, sang pembuat onar di akademi itu langsung lemas seperti balon yang kehilangan udara.
Hening.
Sunyi.
Udara di dalam ruang kerja seolah membeku.
Setelah sekian lama, Li Lin tertawa getir, "Paman, lelucon ini tidak lucu."
Shen Xinglin mengangkat cangkir tehnya dan menyesapnya, "Aku tidak pernah bercanda."
"Kalau begitu, siapa murid paling pintar di akademi?" tanya Li Lin.
"Yang jelas bukan gadis bodoh bernama Shen Zhen itu," jawab Shen Xinglin.
Li Lin mengangguk setuju, "Paman, aku percaya kau tidak sedang bercanda."
Shen Zhen: "..."
***
"Haha, sebenarnya Lichen yang memberitahuku. Dia bilang kalian berdua telah meresmikan hubungan setelah ujian kali ini. Apakah itu benar?" Melihat Li Lin yang masih tampak canggung, Shen Xinglin tersenyum tipis.
"Aku tahu! Pasti wanita menyebalkan Sanghong Lichen itu!" Shen Zhen akhirnya tidak tahan lagi. Ia mendongak dengan wajah kesal, namun setelah dipelototi oleh Shen Xinglin, ia kembali menunduk sambil terus bergumam, "Menyebalkan! Beraninya dia menjebak orang yang meraih peringkat kedua sepertiku! Hmph! Pria sejati tidak akan membiarkan dendam ini berlalu begitu saja!"
"Sepertinya kau tidak ada hubungannya dengan pria sejati..." bisik Li Lin sambil menggigit tepi cangkir tehnya.
Shen Zhen melotot ke arahnya.
"Ehem." Li Lin berdeham dua kali, lalu mendongak dan berkata, "Paman, sepertinya ada kesalahpahaman. Sebenarnya, Shen Zhen dia menyukai..."
"Aku menyukaimu!" Tiba-tiba Shen Zhen melompat dan memeluk lengan Li Lin dengan sangat mesra.
Li Lin terperangah.
Sial, ini gawat. Ayahmu ada di depan mata, bisakah kau bersikap sedikit lebih sopan, Nona?
"Apa yang kau lakukan?" bisik Li Lin dengan nada rendah.
"Itu seharusnya pertanyaanku! Apakah kau tadi berniat membocorkan rahasiaku?!" Shen Zhen menunduk sambil menggeretakkan gigi.
Li Lin merasa pening, "Kalau tidak dijelaskan dengan jelas, ini akan sangat merepotkan."
Awalnya, Li Lin mengira bahwa dengan mengungkapkan kecenderungan seksual Shen Zhen yang tidak biasa, masalah akan selesai, namun gadis itu tampak sangat menentangnya.
"Tidak peduli! Kalau Ayah tahu tentang hal itu... aku... aku... aku akan tamat!"
"Paman itu orang yang berpikiran terbuka, tenang saja!"
"Tidak peduli! Pokoknya tidak boleh membocorkannya!"
Keduanya saling menatap selama beberapa detik, terdiam.
Sebaliknya, Shen Xinglin menghela napas dan tersenyum, "Sudahlah, Zhen'er, lepaskan dulu Li Lin. Jangan anggap ayahmu ini tidak ada!"
Li Lin dan Shen Zhen tertegun mendengar kalimat itu.
"Tunggu, ada yang aneh. Sejak aku tidak sengaja membakar buku salinan spiritual Ayah saat berumur delapan tahun, dia tidak pernah lagi memanggilku Zhen'er..." Shen Zhen menatap ayahnya dengan curiga.
"Kenapa aku merasa Paman baru saja mengucapkannya dengan perasaan lega..." Li Lin juga merasa bingung.
Shen Xinglin melanjutkan dengan senyum lebar, "Baik, baik, baik!" Setelah mengucapkannya tiga kali, sang penguasa kota mengeluarkan sebuah giok berwarna ungu dari balik jubahnya. Giok itu berbentuk oval dengan ukiran naga yang tampak hidup, sekilas saja sudah terlihat sebagai barang berharga.
"Kemarilah, Li Lin, giok ini untukmu." Shen Xinglin menyerahkan giok ungu itu kepada Li Lin dengan tatapan haru, "Giok ini diberikan oleh mendiang mertuaku saat aku menikahi ibu Zhen'er. Sekarang, aku menyerahkan giok berharga ini kepadamu. Kuharap kau bisa menjaganya dengan baik."
Li Lin dan Shen Zhen merasa seolah disambar petir di siang bolong. Li Lin bahkan hampir menjatuhkan giok ungu yang indah itu dari tangannya.
"Ayahanda..." Shen Zhen ingin memprotes dengan cemas, namun Shen Xinglin menghentikannya.
Shen Xinglin menuangkan teh lagi untuk dirinya sendiri dan berkata dengan santai, "Gadis Zhen'er ini memang nakal dan manja karena ibunya terlalu memanjakannya. Umur tiga tahun dia mencabut janggut kepala pelayan kediamanku, umur enam tahun dia mencuri cangkir kesayangan Kepala Akademi Sanghong lalu menghancurkannya... Umur delapan tahun dia membakar habis koleksi buku salinan spiritualku. Hah, segala kenakalannya tak terhitung banyaknya. Lin'er, kau harus bersiap mental."
Lin... Lin'er?
Wajah Li Lin menegang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Awalnya kupikir aku harus mengurus si pembawa sial ini... ehem, maksudku, mengurus gadis ini seumur hidupku. Tak disangka, seorang pemberani sepertimu muncul saat ini... maksudku, kau adalah pria bertanggung jawab yang baik. Aku yakin Zhen'er akan bahagia jika diserahkan kepadamu... setidaknya, aku bisa mendapatkan kebahagiaanku kembali," desah Shen Xinglin dengan nada santai.