Bagian Kedua: Li Tianjin, sudah lama tidak bertemu
Li Tianjin, sudah lama tak bertemu.
Ye Jin menengadahkan pandangannya, hanya untuk melihat seorang pemuda penuh wibawa dengan pakaian merah mewah berjalan masuk. Ia adalah Li Tianjin, putra mahkota dari Istana Wangsa Yuanjia yang dulu pernah ditemui Ye Jin saat menghadiri lelang di Kota Yuanjia.
Sudah lama tak bertemu, Li Tianjin kini tampak jauh lebih bersemangat dan juga jauh lebih angkuh dibanding sebelumnya.
Ye Jin sudah memahami, ini memang penyakit umum orang Chu. Sebagai warga dari negara terbesar di dunia, orang Chu selalu memiliki kebanggaan tersendiri, dan kebanggaan itu sering kali tanpa dasar. Di negeri sendiri mungkin tak terlalu tampak, namun saat berada di luar negeri, sifat itu benar-benar kentara.
Setiap kali bertemu orang dari negeri lain, orang Chu selalu merasa dirinya lebih unggul secara alami. Li Tianjin pun tidak terkecuali.
Mengatakan bahwa saudara-saudara keluarga Zhang seperti kepala yang dipajang untuk dijual? Bahwa Luo Tianyang hanya sekadar cukup-cukup saja? Semua orang menganggapnya lucu. Di mata mereka, Luo Tianyang dan saudara keluarga Zhang itu sudah berdiri di puncak dunia. Kalau mereka saja dianggap remeh, lalu diri mereka sendiri ini harus dianggap apa?
“Saudara keluarga Zhang hanya kepala yang dipajang, Luo Tianyang pun hanya sekadar cukup-cukup?” Pria bersuara lantang yang tadi berbicara langsung tertawa sinis, “Kalau begitu, kau ini sebenarnya siapa?”
“Hahaha!” Li Tianjin tertawa keras dengan nada sombong, “Kau ingin tahu latar belakangku? Justru aku tak akan memberitahumu!”
Setelah berkata demikian, ia tak lagi mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Ia berseru memanggil pelayan untuk membawa arak, lalu memilih tempat duduk.
Kebetulan, arah yang ia pilih adalah tepat di pojok barat laut, di mana Ye Jin berada.
Ia melihat ke arah Ye Jin, sama seperti ia telah memperhatikan Ye Jin sejak lama.
“Saudara Ye, sudah lama tak bertemu.” Ucapnya ramah, dengan sikap yang sangat bersahabat, persis seperti ketika mereka pertama kali berjumpa di Kota Yuanjia sebulan lalu.
“Benar, sudah lama sekali.” Ye Jin mengambil satu cangkir lagi dan meletakkannya di hadapan Li Tianjin, lalu menuangkan arak ke dalamnya.
Orang-orang yang melihat Li Tianjin tak menanggapi, pun tak ingin mencari masalah, sehingga mereka memilih makan dan minum di meja masing-masing.
Li Tianjin duduk di hadapan Ye Jin dengan senyum ramah, “Sejak berpisah di Yuanjia, tak terasa sudah beberapa bulan. Saudara Ye, kau baik-baik saja?”
“Cukup baik.” Tentu saja Ye Jin tidak akan bodoh untuk menceritakan kejadian diserang oleh pemuda berbaju hitam dan tetua Dongxuan setelah ia meninggalkan balai lelang Yuanjia. Itu bukan salah siapa-siapa, hanya salah paham pemuda berbaju hitam saja.
“Itu bagus.” Li Tianjin tersenyum. “Dari Ying Tian ke Kekaisaran Besar Chu jaraknya lebih dari enam ribu li. Apa yang membawamu kemari, Saudara Ye? Maaf jika pertanyaanku lancang.”
Kau sendiri sudah menanyakan, batin Ye Jin, namun ia tetap menjawab sopan, “Saudara Li terlalu sopan. Hubungan kita sudah cukup dekat, jadi tak perlu sungkan bertanya. Terus terang saja, aku datang ke sini untuk mengikuti seleksi penerimaan di Panggung Sarjana.”
“Oh begitu?” jawab Li Tianjin. “Kebetulan, aku juga datang ke sini untuk itu.”
“Kalau begitu, mungkin saja kita akan menjadi rekan sekelas di masa depan!” Ye Jin pun tersenyum.
“Hahaha, tentu saja.”
Tanpa menghiraukan tatapan hening dari orang-orang di sekitar, Ye Jin dan Li Tianjin yang lama tak bertemu pun berbincang, menikmati teh dan arak, hingga larut malam baru berpisah.
Malam pertama di pelaminan, lulus ujian negara, bertemu kawan lama di negeri orang, dan hujan turun setelah kemarau panjang—itulah empat kebahagiaan terbesar dalam hidup. Karennya, kedua pemuda itu begitu bahagia malam itu.
Mereka berbincang lama, tentu saja membahas tentang seleksi Panggung Sarjana yang akan segera dimulai. Dengan Li Tianjin yang terkenal banyak tahu, Ye Jin tak mau melewatkan kesempatan, sehingga ia pun menanyakan detail tentang para peserta seleksi kali ini.
Berkat penjelasan rinci Li Tianjin, Ye Jin mendapat gambaran cukup jelas tentang kekuatan para peserta.
Jelas sekali, informasi Li Tianjin masih kalah jauh dibandingkan dengan Xiao Qingchen, putra utama Keluarga Xiao, sehingga ia tak tahu bahwa Yang Wujue dari keluarga Yang juga akan ikut berpartisipasi.
Selain Yang Wujue yang tak ia ketahui, yang paling menonjol tentu saja Xiao Qingchen, putra utama keluarga Xiao, yang di usia sembilan belas sudah mencapai tingkat atas Dongxuan. Jika ia mengerahkan seluruh kemampuannya, kekuatannya hampir setara dengan puncak Dongxuan. Lebih penting lagi, ia penuh perhitungan, tipe orang berbahaya yang suka berkonspirasi.
Berikutnya adalah Luo Tianyang, juga pada tingkat atas Dongxuan, hanya saja sedikit di bawah Xiao Qingchen. Luo Tianyang dikenal ahli dalam ilmu tombak. Meski usianya baru sembilan belas, ia sudah menjadi harapan masa depan keluarga Wang Luo di Beiping.
Zhang Shaobing sudah dikalahkan oleh Luo Tianyang, jadi selain Xiao Qingchen dan Luo Tianyang, hanya Zhang Shaokang yang bisa menjadi ancaman bagi Li Tianjin.
Zhang Shaokang, putra sulung keluarga Zhang dari Han, Xishu, berusia dua puluh tahun, berada pada tingkat awal Dongxuan, ahli dalam penggunaan jimat, dan kekuatannya tak bisa diremehkan.
Dari nama-nama yang sudah diketahui, di luar ketiga orang itu, sisanya tak begitu menonjol.
Pertama, Xiao Qingchen dari keluarga Xiao di Lingxiao Tiandu, adik sepupu jenius tiada dua, Xiao Qingyu, berusia sembilan belas, tingkat atas Dongxuan.
Kedua, Luo Tianyang dari keluarga Luo di Tangguo, Zhongzhou, ahli tombak dari Wang Luo Beiping, berusia sembilan belas, tingkat atas Dongxuan.
Ketiga, Zhang Shaokang dari keluarga Zhang di Han, Xishu, ahli jimat dan ilmu rahasia, berusia dua puluh tahun, tingkat awal Dongxuan.
Sepulang ke kamar, Ye Jin menuliskan nama-nama itu di atas secarik kertas.
Kemampuan penglihatan tajamnya sudah digunakan, dan teknik mendengar dadu pun tak banyak faedah dalam pertempuran nyata. Dengan kekuatannya saat ini, Ye Jin hanya cukup untuk menghadapi Zhang Shaokang, itupun peluang menang dan kalahnya masih lima puluh lima puluh, belum pasti.
Selain itu, tidak ada jaminan tak akan muncul tokoh-tokoh kuat selain nama-nama yang sudah disebutkan. Maka, turnamen kali ini sungguh berat dan penuh tantangan.
Baik Xiao Qingchen, Luo Tianyang, maupun Zhang Shaokang, semuanya adalah rintangan besar di jalan Ye Jin, apalagi jika dibandingkan dengan Yang Wujue yang lebih hebat lagi.
Jika para jenius dunia saja sudah demikian, lalu seperti apa gerangan para tokoh di dalam Istana Suci?
Xiao Qingyu yang memesona dan jenius, Ye Jian yang tiada tanding di dunia persilatan, keduanya adalah figur yang tak terjangkau oleh kebanyakan orang. Dibanding mereka, baik Xiao Qingchen, Luo Tianyang, maupun Yang Wujue yang menggetarkan dunia, tetap terlihat biasa saja.
Adapun tujuan Ye Jin adalah, suatu hari nanti ia bisa mengejar langkah Ye Jian, sehingga saat para tetua di sekte menyebut namanya, tak perlu lagi menyisipkan, “Dia adik Ye Jian.” Sungguh cita-cita yang amat tinggi.
Lusa adalah hari pembukaan seleksi Panggung Sarjana. Yang bisa mengancam Li Tianjin hanya segelintir orang, tetapi yang bisa menjadi ancaman bagi Ye Jin jauh lebih banyak. Maka sebelum turnamen dimulai, ia harus mempersiapkan diri.
Dari penjelasan Li Tianjin, Ye Jin tahu bahwa turnamen ini terbagi dalam dua tahap: pertama ujian teori, lalu duel bela diri. Berdasarkan kebiasaan sebelumnya, ujian teori bisa berlangsung hingga setengah bulan, baru kemudian dilanjutkan dengan duel. Karena itu, sebelum mengikuti duel, Ye Jin berniat mencari tempat berlatih bela diri terlebih dahulu.