Bab Seratus Lima Puluh: Memukul Li Tai (Bagian Kedua)
Li Shimin adalah seorang yang penuh curiga. Akar sifat ini berasal dari kenyataan bahwa ia telah melakukan pemberontakan dua kali seumur hidupnya: sekali memberontak terhadap Yang Guang, dan sekali lagi terhadap ayahnya, Li Yuan. Pemberontakan yang dilakukan oleh Li Yin setengah bulan yang lalu semakin memperparah kecurigaannya.
Bahkan putranya sendiri saja tega memberontak kepadanya, apalagi orang lain?
Oleh karena itu, orang-orang yang masih dapat dipercayai oleh Li Shimin saat ini, selain Permaisuri Zhangsun yang telah tiada, hanyalah keempat anak yang ditinggalkan oleh sang permaisuri.
Namun, sekarang Gaoming tiba-tiba mengatakan bahwa Li Tai adalah anak Zhangsun Wuji. Hal ini membuat Li Shimin merasa sangat terkejut sekaligus tidak percaya.
"Mungkinkah Guanyinbi juga telah menipuku?"
Sebenarnya, wajar jika Li Shimin berpikir demikian. Jika orang lain yang mengatakan bahwa Li Tai bukan darah dagingnya, mungkin ia sudah langsung menyeret orang itu untuk dipenggal. Namun, sialnya, orang yang mengucapkan kata-kata itu adalah Gaoming, sehingga Li Shimin pun tebersit pikiran seperti itu.
Ia begitu mempercayai Gaoming.
Zhangsun Wuji juga menyadari perubahan pada raut wajah Li Shimin, seketika ekspresinya berubah drastis. Tepat saat ia hendak membuka mulut untuk menjelaskan sesuatu, Li Shimin melotot tajam kepadanya.
Melihat pemandangan ini, Zhangsun Wuji hanya bisa memilih untuk bungkam, meski dalam hatinya ia merasa sangat dirugikan dan dizalimi.
"Ini benar-benar fitnah yang teramat besar!"
Tepat pada saat itu, Li Yin kembali bersuara.
"Kakak sulung, bagaimana Kaka tahu bahwa dia adalah anak Paman?"
Melihat ekspresi terkejut di wajah Li Yin, Gaoming seketika mengerutkan keningnya.
"Bukankah itu sudah sangat jelas? Kenapa? Kau tidak tahu?"
Begitu suara Gaoming mereda, Li Yin langsung menggelengkan kepalanya bagaikan mainan kerincingan.
"Aku tidak tahu!"
Ini adalah sebuah rahasia besar yang mencengangkan!
Li Yin langsung merasa sangat bersemangat. Ia menyambar cambuk dari tangan Gaoming dan melayangkan beberapa cambukan berturut-turut ke tubuh Li Tai sambil melontarkan cacian.
"Bagus sekali, si gemuk sialan! Biasanya kau memanfaatkan kasih sayang Ayah Baginda untuk bertindak semena-mena di hadapanku, tidak menyangka kau juga akan mengalami hari seperti ini! Mulai sekarang aku akan menghajarmu tiga kali sehari, aku... Eh, dia pingsan lagi! Aku akan pergi mengambil air!"
Usai berkata demikian, Li Yin berlari dengan penuh semangat untuk mengambil air. Kali ini gerakannya sangat cekatan, dalam waktu kurang dari sepuluh embusan napas ia sudah kembali sambil membawa seember air. Setibanya di sana, ia langsung menyiramkan seember air itu ke kepala Li Tai tanpa ragu.
"Ugh, uhuk, uhuk..."
Melihat Li Tai yang meronta-ronta tanpa henti, Li Yin tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, Li Tai, oh, Li Tai! Kau juga punya hari seperti ini, aku..."
Tepat ketika ia mengangkat cambuk kudanya dan bersiap untuk memberi Li Tai beberapa cambukan lagi, Gaoming langsung menarik tangan Li Yin yang memegang cambuk, lalu menatapnya dengan tatapan penuh ketidakpercayaan.
"Anak Keenam, katakan... si gemuk sialan ini adalah Li Tai? Pangeran Wei, Li Tai?"
"Eh..."
Melihat ekspresi terkejut di wajah Gaoming, Li Yin justru mengerutkan keningnya.
"Bukankah itu sudah sangat jelas? Kenapa? Kau tidak tahu?"
Begitu suara Li Yin mereda, giliran Gaoming yang menggelengkan kepalanya bagaikan mainan kerincingan.
"Aku tidak tahu!"
"..."
Li Yin tercengang. Li Shimin, yang berdiri di balik tembok dekat gerbang halaman, pun ikut tercengang. Melihat ekspresi kaget di wajah Li Shimin, Zhangsun Wuji langsung menepuk wajahnya sendiri dengan telapak tangannya.
"Aku sudah menduga pasti akan jadi begini."
Sebenarnya, sejak Gaoming mengatakan bahwa Li Yin adalah putranya tadi, Zhangsun Wuji sudah tahu bahwa Gaoming pasti salah paham. Sebab ia teringat, saat Gaoming mencegatnya dan Li Tai di depan pintu aula besar beberapa waktu lalu, nada bicara pemuda itu secara samar-samar memang menyiratkan hal tersebut, hanya saja ia tidak terlalu memerhatikannya saat itu.
Namun, untunglah kesalahpahaman ini telah teratasi, bisa dibilang ini hanya kepanikan palsu.
Wajah Li Shimin saat ini tampak sedikit kemerahan. Melihat Zhangsun Wuji sedang tersenyum kearahnya, ia pun membalas dengan tatapan penuh permintaan maaf, sementara dalam hati ia diam-diam memohon ampun kepada Permaisuri Zhangsun.
"Maafkan aku, Guanyinbi, Ayah lah yang telah salah paham kepadamu."
Memikirkan hal tersebut, Li Shimin tiba-tiba merasa cukup geli.
"Tidak disangka bocah Gaoming ini ternyata sama sekali tidak mengenali Qingque. Sebaliknya, si Anak Keenam justru menyimpan kebencian yang begitu besar terhadap Qingque!"
Apa yang dipikirkan Li Shimin sama sekali tidak keliru. Kebencian Li Yin terhadap Li Tai bukan sekadar besar lagi, melainkan sudah melampaui batas. Namun pada saat ini, ia justru benar-benar kebingungan dan tercengang.
"K-Kakak sulung, katakan bahwa Kaka tidak tahu kalau dia adalah Li Tai! Nyaliku kecil, jangan menakut-nakutiku!"
Sambil berkata demikian, tangan Li Yin mulai bergetar hebat. Tampaknya rasa takut dan kebencian pemuda ini terhadap Li Tai berada di tingkat yang sama.
Melihat pemandangan ini, Gaoming sontak menghela napas.
"Hah... Aku benar-benar tidak tahu kalau dia adalah Li Tai!"
Usai berkata demikian, Gaoming mengangkat bahunya dengan pasrah. Ekspresi santai itu bahkan membuat Li Yin merasa ingin menangis.
"Kakak sulung, urusan hari ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Nanti kalau Ayah Baginda bertanya, tolong jangan sebut-sebut namaku, kumohon..."
Begitu suaranya mereda, Gaoming langsung meliriknya dengan tatapan meremehkan.
"Cih, pengecut penakut! Kemana perginya keberanianmu tadi? Sudah, sudahlah, seorang pria berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Urusan ini aku yang menanggung, tidak ada hubungannya denganmu!"
Mendengar ucapan Gaoming tersebut, Li Yin seketika merasa lega dan gembira.
"Wah, terima kasih, Kakak!"
Setelah itu, Li Yin kembali memasang senyum penuh penjilatan ke arah Li Tai.
"Itu... Kakak Keempat, hehe... Sebagai orang besar, tentu Anda tidak akan mempermasalahkan kesalahan orang kecil. Semua ini tadi hanya salah paham, kan?"
"Ugh, ugh, ugh..."
Melihat Li Tai yang masih meronta sambil mengeluarkan suara "ugh, ugh", Li Yin buru-buru mencabut gumpalan kain yang menyumpal mulut pria itu. Begitu kain itu terlepas dari mulutnya, Li Tai langsung berteriak murka.
"Ah... Li Chengqian, Li Yin! Aku akan membunuh kalian! Aku akan bunuh kalian, arghhh..."
Jika tatapan mata bisa membunuh, barangkali Gaoming dan Li Yin sudah mati berkali-kali. Menghadapi Li Tai yang sedang mengamuk, Li Yin merasa terkejut dan langsung mundur dua langkah.
"Kakak Keempat, aku..."
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Gaoming langsung merebut gumpalan kain dari tangan Li Yin dan menyumpalkannya kembali ke mulut Li Tai.
"Ugh, ugh, ugh, ugh..."
Li Tai kembali terbungkam dan tidak bisa berkata-kata. Namun, kali ini ia cukup pintar untuk tidak meronta-ronta dengan liar, sebab ia tahu semakin ia memberontak, ikatan tali di tubuhnya akan semakin mengencangkan diri dan terasa menyakitkan. Alhasil, ia hanya bisa terus menatap Gaoming dan Li Yin dengan tatapan penuh niat membunuh.
Sayangnya, Gaoming sama sekali tidak gentar oleh tatapan tersebut. Ia justru kembali melangkah mendekati Li Tai dengan santai, lalu mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk wajah gemuk pria itu.
"Si gemuk, jangan salahkan aku. Situasi hari ini bisa jadi kacau begini, sebagian besar tanggung jawab ada di pihakmu. Dalam dua bulan terakhir, frekuensi kita bertemu sepertinya tidak kurang dari belasan kali. Jika saja kau mau memanggilku sebagai Kakak Sulung, situasinya tidak akan berakhir seperti sekarang. Benar kan?"
"Ugh, ugh, ugh, ugh..."
Melihat sorot mata Li Tai yang penuh kebencian, Gaoming kembali menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Hai, sepertinya kau tidak menyukai cara bicara seperti ini. Baik kalau begitu, aku ganti cara lain!"
Sambil berkata demikian, Gaoming mengulurkan telapak tangannya ke arah Li Yin.
"Anak Keenam, berikan cambuknya padaku."
"Tapi Kakak..."
"Tapi apa! Kubilang berikan cambuknya padaku!"
Melihat Gaoming yang membelalakkan mata dengan geram, Li Yin tidak berani membantah lagi dan buru-buru menyerahkan cambuk itu ke tangan Gaoming. Usai memegang cambuk tersebut, Gaoming langsung melayangkan satu cambukan keras ke tubuh Li Tai.
Mungkin karena terlalu terbawa emosi, Gaoming memukul dengan tenaga yang sangat besar. Sekali cambukan mendarat, sebuah bekas luka berdarah langsung muncul di tubuh Li Tai, jauh berbeda dari cambukan-cambukan sebelumnya.
Rasa sakit yang luar biasa itu justru membuat Li Tai semakin tersadar dan sama sekali tidak membuatnya pingsan. Air matanya langsung tumpah seketika.
"Uh... uarghhh..."
Melihat Li Tai yang sudah bercucuran air mata dan air hidung, Gaoming baru mengangguk puas.
"Sekarang, apa kau sudah mau mendengarkanku dengan baik?"
Kali ini Li Tai benar-benar tidak berani bersikap keras kepala lagi. Sambil meneteskan air mata, ia mengangguk dengan penuh semangat sementara mulutnya masih mengeluarkan suara "ugh" pelan, persis seperti seekor anak anjing yang malang.
Melihat pemandangan tersebut, Gaoming kembali menghela napas.
"Hah... Kakakmu ini selalu mengutamakan prinsip persuasi dengan kebajikan. Berakhir menjadi seperti ini sebenarnya sama sekali bukan niat awalku. Apakah kau mengerti hal ini?"
Li Tai kembali mengangguk.
"Mm, mm, mm!"
Ia tidak berani untuk tidak mengangguk, sebab cambuk di tangan Gaoming masih terus melambai-lambai di udara!
Melihat situasi itu, Zhangsun Wuji yang berada di luar halaman bersiap untuk melangkah masuk, namun Li Shimin menarik lengannya dan menggelengkan kepala. Menyadari Li Shimin melarangnya, Zhangsun Wuji terpaksa mengurungkan niat dan mundur kembali.
Pada saat itu, Gaoming kembali membuka suara.
"Dulu aku selalu tidak paham mengapa kau selalu mencari-cari masalah denganu. Tapi sekarang aku sudah mengerti. Kau melakukan itu karena ingin merebut posisi putra mahkota dariku, aku tidak salah, kan?"
Mendengar perkataan Gaoming, Li Tai terdiam seribu bahasa. Ia berpikir bahwa toh masalah ini sudah menjadi rahasia umum di antara mereka, lagipula di sekitar sini tidak ada orang lain, sehingga tidak ada gunanya lagi berbohong kepada Gaoming.
Melihat Li Tai yang terdiam, Gaoming kembali mengangguk.
"Hm, sebenarnya kau mengaku atau tidak pun tidak penting, sebab semua orang sudah tahu akan hal itu, termasuk si orang tua di istana sana juga sangat mengetahuinya. Si gemuk, kau pikir dengan mengandalkan kasih sayang dari Ayah Baginda, kau bisa berambisi merebut posisi putra mahkota? Tapi tahukah kau, orang yang paling tidak ingin memberikan posisi putra mahkota itu kepadamu justru adalah Ayah Baginda sendiri!"
Mendengar ucapan Gaoming tersebut, mata Li Tai serta-merta membelalak lebar, memperlihatkan ekspresi tidak percaya yang teramat sangat. Melihat ekspresi tersebut, Gaoming kembali menggelengkan kepalanya.
"Inilah yang dinamakan orang yang berada di dalam situasi tersesat, sementara orang di luar melihat dengan jernih. Si gemuk, coba kau pikirkan, bagaimana cara orang tua kita mendapatkan takhtanya? Benar, takhta itu didapatnya dengan cara merampas! Ia telah memelopori sebuah contoh yang buruk, oleh karena itu ia tidak akan pernah membiarkan kesalahan itu terus berlanjut!"
Sampai di sini, Gaoming tersenyum ke arah Li Tai.
"Si gemuk, bayangkan ini. Orang tua kita merebut takhta dari generasi sebelumnya, dan karena ia telah melakukannya, kau pun merasa berhak untuk merebutnya juga. Jika kau berhasil, maka anakmu kelak pasti akan berpikir dengan cara yang sama. Menurutmu, jika hal ini terus berlanjut, akan jadi apa Dinasti Tang kita?"
Begitu suara Gaoming terhenti, tatapan mata Li Tai berubah menjadi kosong total.
Li Tai adalah seorang yang cerdas sekaligus memiliki talenta yang tinggi, jika tidak demikian, mustahil ia mampu menyusun karya besar seperti *Kuo Di Zhi*. Orang-orang zaman dahulu menjunjung tinggi tiga pencapaian abadi, yaitu menegakkan kebajikan, menorehkan karya tulis, dan menorehkan jasa besar. Li Tai berhasil merampungkan salah satunya sebelum usianya mencapai tiga puluh tahun, yang membuktikan bahwa ia memang memiliki kemampuan nyata.
Seseorang yang benar-benar kompeten tentu tidak akan terlalu bodoh, setidaknya Li Tai bukanlah orang bodoh. Oleh karena itu, ketika ia memahami makna di balik ucapan Gaoming, akalnya mendadak lumpuh seketika oleh kebenaran yang telak itu.
"Bagaimana... bagaimana bisa jadi begini?"