Bab 86: Temani Aku Bertahan Bersama
Ketika Ho Xi melihat ada beras ketan di kapal, ia pun memutuskan untuk membuat nasi kepal ketan sebagai sarapan besok. Ia terlebih dahulu menakar beras ketan, mencucinya hingga bersih, lalu mengukusnya. Sambil menunggu, ia mengoyak daging menjadi serat, merebus sayur, memotong asinan, menyiapkan telur asin, dan mengupas udang.
Setelah beras ketan matang, ia mengolesi daun teratai dengan sedikit minyak, kemudian membentangkan nasi ketan di atasnya, menata urutan bahan: sayur, daging ayam dan bebek, udang, asinan, dan telur asin, lalu mengoleskan saus di atas semuanya.
Akhirnya, ia membungkus semuanya rapat-rapat dengan daun teratai, membentuk bola besar. Satu bola nasi ketan yang besar pun jadi.
Ia membuat lebih dari tiga puluh bola nasi, barulah merasa cukup. Esok pagi, tinggal menghangatkannya sebentar, maka sarapan sudah siap.
Yang Fu tidak tahan menahan diri, diam-diam mencicipi satu bola nasi selagi hangat.
Karena terlalu kenyang, ia tidak bisa tidur, lalu menemani Yu Jiang yang berjaga malam sembari mengobrol cukup lama, baru kemudian masuk ke kabin kapal untuk beristirahat.
Tapi bukan hanya mereka yang sulit tidur malam itu. Di Gang Qionghua, Ny. Yang juga gelisah.
Ny. Yang memikirkan hari ini adalah hari Ho Erhuai dan dua anaknya berlayar ke utara mengirim pangan. Ia tak tahu apakah perjalanan mereka lancar, apakah di jalan tidak terjadi apa-apa, sehingga hatinya selalu diliputi kekhawatiran. Seharian ia seperti orang linglung, sulit berkonsentrasi saat bekerja.
Kehidupan di darat memang lebih baik dibanding di kapal, tapi di rumah itu hanya ada ia dan Nian’er saja. Berpisah dari suaminya, juga dari Fu’er dan Xi’er, ia benar-benar merasa tidak terbiasa.
Rasanya amat sepi.
Baginya, yang terbaik adalah keluarga berkumpul lengkap. Jika semua ada di depan mata, barulah hatinya tenang.
Siang hari, ia menggendong Nian’er ke Pasar Ikan untuk membeli udang, kepiting, dan ikan kecil kering untuk masakan. Namun, setibanya di Pasar Ikan, ia baru menyadari pasar sangat sepi karena kapal-kapal milik nelayan telah disita pemerintah. Beberapa hari ini, tidak ada lagi hasil sungai yang dijual.
Kalaupun ada yang menjual ikan, harganya sangat mahal.
Ia menepuk pahanya, menyesal setengah mati. Ia tidak terpikir soal ini sebelumnya. Kalau saja ia sempat menimbun ikan untuk dijual beberapa hari ini, pasti sudah mendapat banyak uang.
Tak mendapatkan apa-apa di Pasar Ikan, Ny. Yang pun berjalan menyusuri kedai teh dan kedai arak, memperhatikan orang lain berbisnis.
Tanpa disangka, perjalanannya itu membuatnya diincar.
Sejak Wu Yaucai menyebar kabar di antara para preman bahwa ia tengah mencari anak perempuan usia enam atau tujuh tahun dan bayi laki-laki beberapa bulan, banyak orang iseng yang mulai mengintai. Siapa saja yang melapor ke Wu Yaucai akan mendapat bayaran cukup besar.
Ada banyak orang yang tidak melakukan apa-apa, hanya menunggu keberuntungan. Begitu melihat ada yang cocok dengan kriteria, mereka langsung melapor, berharap mendapat hadiah.
Apalagi Wu bersaudara mengatakan lebih baik salah tangkap daripada melewatkan. Demi kekayaan dan kejayaan keluarga Wu, Wu Yaucai menjalankan perintah kakaknya dengan penuh semangat.
Alhasil, para preman menjadikan itu sebagai mata pencaharian, khusus mengincar keluarga yang memiliki anak perempuan dan bayi laki-laki, hanya demi upah.
Ny. Yang pun menjadi incaran.
Malam itu, ia sudah cemas memikirkan Ho Erhuai dan kedua anaknya. Setelah menidurkan Nian’er, ia tetap menyalakan lampu di kamar, memilah-milah kacang untuk digoreng esok hari.
Para preman di luar menunggu hingga larut malam, tapi lampu di dalam tak kunjung dipadamkan. Sepanjang malam mereka hanya jadi santapan nyamuk, betis mereka penuh bentol.
Baru menjelang dini hari, Ny. Yang mematikan lampu.
Preman itu hampir tertidur karena menunggu, tapi begitu melihat lampu padam, ia melonjak kegirangan, mengambil batu, berjinjit dan bersiap memanjat pagar.
Melapor hanya dapat beberapa uang, tapi jika berhasil menculik bayi laki-laki untuk dijual, bayaran yang didapat pasti lebih banyak! Siapa yang tahu berapa usia bayi itu, cocok atau tidak, toh nanti bisa direkayasa. Dengan kelihaian lidahnya, ia yakin bisa mendapat banyak uang.
Setelah itu, ia pun bisa bersenang-senang di rumah bordil.
Baru mengulurkan tangan ke atas pagar, tiba-tiba tengkuknya dihantam keras dari belakang!
Belum sempat menjerit, tubuhnya langsung jatuh ke bawah.
Mu Qian memandang jijik pada preman yang terbaring telentang di tanah, penampilannya yang kotor benar-benar membuatnya tak tega melihat. Ia melirik tangannya yang baru saja digunakan memukul, tak tahu sudah terkena kotoran apa saja, membuatnya makin jijik.
Tapi urusan harus tetap beres.
Dengan enggan, ia mengangkat tubuh preman itu ke bahunya, membawanya ke tempat sepi, lalu membangunkannya. Belum sempat diinterogasi, orang itu sudah ketakutan sampai ngompol, dan langsung mengaku segala niat jahatnya.
“Ampuni saya, Tuan, saya tidak membunuh siapa-siapa! Tuan, tolong lepaskan saya! Saya hanya ingin menculik anak laki-laki itu untuk dijual, saya tidak pernah membunuh atau membakar rumah!”
Mu Qian yang membungkus tubuhnya rapat dengan pakaian serba hitam, menyisakan hanya dua mata, tampak seperti utusan maut dari neraka. Preman itu ketakutan sampai suaranya bergetar, bahkan kalimatnya terputus-putus.
Di tanah, air seni menggenang.
“Sungguh saya tidak membunuh, saya tak berani melakukannya. Bukan saya yang membunuh! Tuan, ampunilah saya!”
“Kau akan membawa anak itu ke mana? Siapa yang membunuh?” Mu Yan bertanya dengan suara dingin.
“Saya tidak tahu, saya hanya mendengar kalau mengantarkan anak laki-laki ke sana akan mendapat uang. Bukan saya saja yang mengantarkan.”
“Anak-anak laki-laki itu ke mana?”
“Saya benar-benar tidak tahu! Ampuni saya, Tuan!”
Karena tidak mendapat banyak informasi, Mu Qian memberinya ramuan bisu, memukulnya hingga pingsan lagi, lalu mengangkutnya keluar kota ke tempat gelap, melemparnya di sana dan mengambil tiga tael perak, kemudian pergi.
Katanya hidupmu kekurangan makan dan minum, biar saja dikirim ke sana, dijamin makan tiga kali sehari, selama hidup akan diurus. Tambang itu memang membutuhkan banyak pekerja.
Setelah kembali ke kota, ia melempar tiga tael perak ke kawasan pemukiman kumuh, lalu kembali ke Gang Qionghua, memantau di atap rumah keluarga Ho.
Baru ketika fajar merekah, ia kembali ke kediaman Cheng untuk melapor.
Mu Yan baru saja keluar dari lapangan latihan, tubuhnya bermandikan keringat. Kakeknya pernah berkata, jika tak ingin dipandang rendah, ia harus menjadi lebih kuat. Hanya dengan menjadi lebih unggul, ia tidak akan dibully. Nasihat itu selalu diingatnya.
Ayah kandungnya bertubuh kuat, bisa hidup puluhan tahun lagi tanpa masalah.
Lalu, apa yang harus ia lakukan?
Kakeknya telah tiada, ayah angkatnya juga telah tiada, dan ia tak bisa kembali ke barat daya. Kekuatan di sana juga sudah diserahkan pada ayah kandungnya, sementara di ibu kota, keluarga Mu hanya dianggap bangsawan pinggiran.
Di usia sebelas tahun, Mu Yan masih belum tahu ke mana harus melangkah.
Yang ia tahu, ia harus menjadi kuat.
“Tuan muda, Mu Qian sudah kembali.”
Mu Yan mengangguk, mengambil sapu tangan dari Mu Li, menyeka keringat sambil mendengarkan laporan Mu Qian tentang kejadian semalam.
Mendengar Ny. Yang tertimpa bahaya, tangannya yang menyeka keringat terhenti sesaat.
“Orangnya masih hidup?”
“Hidup, tapi saya sudah mengirimnya ke tambang.”
“Kau tidak takut ia melarikan diri?” Mu Yan menatap tajam.
“Saya hanya minta tiga tael perak, dan minta mereka menjaganya ketat. Begitu masuk ke tangan mereka, tak mungkin bisa kabur.” Membunuhnya malah terlalu murah.
Mu Yan mengerutkan dahi.
Kenapa wanita ayahnya ingin ia mati, kenapa ibu tiri si penipu kecil ingin kakak-beradik itu mati, semuanya demi menghabisi ancaman hingga ke akar. Hanya jika seseorang mati, barulah ancaman benar-benar hilang.
Ia tak punya banyak tenaga untuk menghadapi musuh datang bergelombang, jika mampu membunuh, langsung bunuh. Jika tak mampu, tetap harus melawan, jika lawan tidak mati, bisa jadi ia sendiri yang mati.
“Lain kali, jangan sisakan satu pun.”
Siapa pun yang ingin mereka mati, ia pun akan memastikan mereka mati.
“Baik.”
“Terus pantau mereka.”
“Baik.”
Mu Qian segera pergi dengan sigap.
Mu Yan menengadah, melihat langit yang masih pagi, kabut pun belum sepenuhnya sirna.
Penipu kecil, kau berutang satu nyawa lagi padaku. Kelak, aku pasti akan menagihnya. Kalian berdua harus hidup baik-baik, biar aku bisa melihat sampai sejauh mana kalian melangkah.
Jika kalian tidak ada, aku pun tak punya semangat menjalani hidup seorang diri. Harus ada seseorang yang menemaniku bertahan.
Dan harus membuat mereka yang tidak rela kita hidup, menyaksikan sendiri bahwa kita masih hidup, bahkan lebih baik dari mereka.
Mu Yan meraba dadanya, di sana ada bekas luka panah, disentuh pun masih terasa tajam. Jika dulu arahnya sedikit saja meleset ke bawah, mungkin kini rumput di atas kuburannya sudah lebih tinggi dari manusia.
Tatapan Mu Yan membeku seperti es.
---
Mohon dukungan suaranya~ terima kasih