Bab 64: Petunjuk
Keesokan harinya, ketika Ho Xi terbangun, hanya perahu keluarganya yang masih berlabuh di seluruh Dermaga Daun Persik.
Dia melirik ke luar, langit baru saja memerah fajar.
"Ibu, apakah mereka sudah pergi mengangkat jala sepagi ini?"
Yang berseri-seri memeras kain untuk mengelap wajah putrinya, menjawab lembut, "Hampir tak ada yang benar-benar tidur nyenyak tadi malam. Pagi-pagi begini semua sudah keluar mencari kabar. Ada yang harus mengatur keluarga mereka dulu, ada pula yang pulang ke kampung untuk memberi tahu keluarga."
Ho Xi mengangguk, merapikan diri dan hendak membantu ibunya menyiapkan sarapan.
"Tak perlu, biar ibu saja," ujar Yang sambil cekatan memasukkan beberapa ekor udang segar ke dalam bubur nasi, lalu menambahkan beberapa tunas sayuran ke dalamnya.
Sambil tersenyum pada Ho Xi, Yang berkata, "Beberapa pot toge kita ini, setiap hari cukup untuk kita makan, bahkan bisa dibagikan ke tetangga sebagai pelengkap rasa. Banyak yang memuji idemu. Beberapa keluarga juga mulai menanam daun bawang, bawang putih, dan toge di depan perahu mereka."
Ho Xi tersenyum, lalu jongkok di haluan untuk menyiram beberapa pot bawang dan bawang putih.
Melihat itu, Yang merasa hatinya hangat. Sejak memelihara Xi dan Nian, rumah ini benar-benar semakin terasa sebagai rumah.
"Xi, bagaimana kalau kamu tukar tempat tidur dengan pamanmu? Kamu tidur di haluan saja. Setiap pagi ibu bangun menyiapkan sarapan pasti berisik, mengganggumu." Namun buritan juga kurang nyaman, banyak peti ikan, baunya amis. Atau mungkin pindah ke kabin tengah saja?
"Tidak apa-apa, Bu. Aku tidur nyenyak kok, haluan sudah cukup nyaman. Pagi-pagi ibu juga tidak menggangguku."
Anak yang pengertian, apa lagi yang bisa Yang lakukan. "Baiklah. Kalau ibu mengganggumu, bilang saja ya."
Ho Xi mengangguk.
Sejak kedatangannya, keluarga mereka memang bangun lebih siang daripada yang lain. Yang dan Ho Erhuai sengaja menyesuaikan jadwal demi membiarkan Ho Xi lebih banyak beristirahat.
Tak lama kemudian, Yang Fu dan Ho Erhuai juga bangun. Setelah sekeluarga sarapan dan merundingkan rencana hari itu, mereka mendayung perahu ke kota.
Hari ini hasil tangkapan tak banyak, satu keranjang ikan pun belum penuh. Ho Xi pun meminta Ho Erhuai pergi sendiri ke pasar ikan untuk menjual hasil tangkapan, sementara Yang tetap di perahu menjaga Nian dan menyiapkan masakan ayam serta bebek. Ho Xi sendiri menggandeng Yang Fu ke dermaga luar kota untuk mencari informasi.
Semalam ia sudah memikirkannya. Perjalanan ke Huaian kali ini tak mungkin dilakukan sia-sia. Mereka harus mencari cara agar biaya perjalanan bisa kembali.
Ia tidak tahu persis dermaga mana saja yang dilewati sepanjang kanal, juga tidak paham kondisi Huaian. Maka ia memutuskan untuk mencari tahu terlebih dahulu.
Di dermaga luar kota, Ho Zhong sedang mengawasi para pekerja membongkar dan memuat barang, tampak sangat sibuk.
Baru setelah seluruh barang selesai diangkut dan perahu berangkat, ia menerima kendi air dari bawahannya, meneguk beberapa kali dengan lahap, dan akhirnya merasa agak lega.
Sambil mengusap sisa air di sudut bibir, ia melihat dua anak yang menatapnya penuh semangat.
Ia tersenyum, menyerahkan kendi pada bawahannya, lalu melambaikan tangan pada Ho Xi dan Yang Fu.
Ho Xi segera menggandeng Yang Fu mendekat, menengadah dan tersenyum, "Pengurus Ho."
Ho Zhong membalas dengan senyum, "Kalian datang lagi? Bukankah sekarang sudah punya uang, masih mau memuat barang juga?"
Yang Fu agak malu, keluarganya jelas bukan orang berpunya.
Tapi Ho Xi hanya tersenyum, "Waktu itu aku pernah bilang ingin membawa udang buatan rumah kami untuk Pengurus Ho. Hari ini aku bawa tiga macam. Mohon Pengurus Ho mencicipi rasanya."
Sambil bicara, ia mengeluarkan tiga toples udang dari keranjang yang dibawa Yang Fu—udang pedas, udang panggang, dan udang kering, masing-masing satu kati.
"Meminta saya mencicipi? Tak perlu bayar?" Ho Zhong menggoda.
"Tidak perlu bayar," jawab Ho Xi.
Ho Zhong lalu menunjuk Ho Xi dengan senyum penuh arti, anak cerdik ini pasti ada sesuatu yang ingin ditanyakan lagi.
"Waktu itu saus telur kepitingnya enak, majikan kami juga suka, ingin membeli untuk keluarga," ujar Ho Xi, berbinar.
"Baguslah. Setelah saya cicipi udangnya, kalau memang enak, nanti saya pesan lebih banyak."
"Beberapa waktu lagi ya," jawab Ho Xi, "perahu kami akan dikerahkan untuk mengangkut pajak beras ke gudang Huaian. Harus tunggu beberapa waktu baru bisa mengolah udang dan kepiting lagi."
"Oh? Bagaimana ceritanya? Perahu nelayan juga dikerahkan?" tanya Ho Zhong penasaran.
Ho Xi lalu menceritakan keadaan mereka.
Usai mendengar, Ho Zhong diam sejenak, lalu bertanya, "Jadi kalian ingin mencari tahu informasi tentang Huaian dari saya?"
Ho Xi mengangguk, "Kami biasanya hanya menangkap ikan di sekitar ibu kota, belum pernah ke tempat lain. Perjalanan ke utara ini, kami tidak tahu bagaimana kondisi perairan, keadaan sepanjang jalan, dan Huaian sendiri seperti apa. Pengurus Ho sering ikut perahu ke berbagai tempat, jadi ingin bertanya-tanya."
Ho Zhong menatap Ho Xi, merasa kagum atas kecerdikannya. Anak ini sudah tahu harus bersiap sejak dini.
Ia pun mengajak mereka ke tempat teduh untuk duduk, dan tanpa memperlakukan mereka seperti anak kecil, ia menjelaskan dengan rinci kondisi kanal dari ibu kota sampai Huaian.
Ia memberitahukan kota-kota apa saja yang dilewati, masing-masing seperti apa kondisinya. Lalu, jika melanjutkan ke utara, dari gudang Huaian ke pelabuhan Tianjin, dan ke gudang Tongzhou, semuanya ia jelaskan.
"Huaian bersama Yangzhou, Suzhou, dan Hangzhou, dikenal sebagai empat kota besar di jalur selatan kanal, menjadi simpul lalu lintas utara-selatan, mengendalikan 'tenggorokan tujuh provinsi', posisinya sangat strategis. Dari dulu hingga sekarang, Huaian selalu menjadi pusat perniagaan dan distribusi, khususnya dalam pengangkutan beras dan garam."
Ternyata Huaian memang sama pentingnya seperti yang pernah didengar Ho Xi. Ia mendengarkan dengan seksama.
"Perahu dari utara dan selatan berkumpul di Huaian, para pedagang juga ramai di sana. Pada masa sebelumnya, Huaian adalah titik transit utama pengiriman hasil bumi dari selatan ke utara."
Ho Xi mengangguk, sesekali bertanya satu dua hal.
"Pengurus Ho..."
"Panggil saja Paman Ho," ujar Ho Zhong, ia benar-benar menyukai anak cerdas ini. Yang tua juga tampak jujur dan baik.
"Paman Ho." Mereka pun serempak memanggil.
Ho Zhong tersenyum dan mengangguk, "Tanyakan saja apa yang ingin kalian tahu."
Ho Xi pun bertanya, "Saya pikir perjalanan kali ini akan memakan waktu lama, selain mengganggu waktu menangkap ikan, juga tak dapat penghasilan tambahan. Setibanya di Huaian, setelah bongkar muatan, kami harus pulang dengan perahu kosong. Maka saya ingin tahu, apakah boleh membeli barang dari sana untuk dijual kembali? Apakah itu melanggar aturan? Apakah sepanjang jalan ada pungutan pajak dagang?"
Yang Fu tertegun, menatap Ho Xi dengan bingung. Apa benar bisa membawa barang dari utara untuk dijual? Bukankah perahu mereka sudah dikerahkan?
Ho Zhong semakin kagum pada kecerdikan anak ini, sungguh mampu berpikir jauh ke depan.
Dengan suara lembut ia menjelaskan, "Pada masa sebelumnya, perahu pengangkut beras juga tidak mendapatkan penghasilan tambahan. Maka petani, nelayan, dan pasukan pengangkut beras sering diam-diam membawa barang dagangan dari selatan ke utara untuk dijual. Setelah bongkar muatan, mereka membeli hasil bumi dari utara untuk dijual kembali ke selatan. Dengan cara pertukaran barang seperti ini, mereka bisa mendapat sedikit tambahan penghasilan."
Mendengar itu, mata Ho Xi langsung berbinar, berpandangan dengan Yang Fu, keduanya tampak bersemangat.
"Apakah nanti ada petugas yang memeriksa perahu? Apakah akan dipungut pajak dagang?"
Ho Zhong tertawa, lalu mengangguk ke arah dermaga sebagai penjelasan.
"Lihat para awak kapal besar itu. Sekali berlayar, ada yang hanya beberapa hari sampai sepuluh hari, ada juga yang sampai setengah tahun atau setahun. Segala macam situasi di sungai bisa terjadi, mereka benar-benar bertaruh nyawa demi mencari nafkah. Selain gaji bulanan, banyak yang membawa barang dagangan kecil-kecilan untuk ditukar di selatan dan utara. Asalkan tidak mengganggu tugas utama, para pemilik kapal biasanya menutup mata."
"Pada masa lalu, pasukan pengangkut beras pun memanfaatkan kesempatan pengangkutan untuk diam-diam membawa barang dagangan dan berniaga. Pemerintah membolehkan para pekerja membawa sejumlah barang tertentu tanpa dipungut pajak, agar dapat membantu biaya hidup dan ongkos selama perjalanan."
Usai berkata demikian, melihat kedua anak itu matanya semakin berbinar, Ho Zhong pun tak kuasa menahan tawa.