Bab Sembilan: Jalan Keluar
Ho Xi kembali bermimpi. Kali ini ia bermimpi dirinya tak bisa lagi berlari, tertangkap dan dibawa pulang, lalu dikurung dalam ruang gelap kecil tanpa makan dan minum selama beberapa hari. Hanya dalam beberapa hari saja, ia sudah kelaparan hingga tubuhnya lemah tak berdaya.
Lalu, ia pun mati.
Di aula utama rumah keluarga, terdapat tiga peti mati besar dan kecil, berderet dari ibu, dirinya, hingga adik laki-lakinya.
Sepanjang malam dalam mimpinya, ia menangis hingga suara seraknya hilang.
“Kenapa panas sekali? Masih belum sadar juga! Xi Er, Xi Er!”
Pagi-pagi benar, Ny. Yang sudah bangun, memasak bubur lebih awal, menyiapkan sarapan, seisi keluarga sudah bangun, bahkan perahu-perahu nelayan di sekitar pun sudah berlayar pergi, tapi Xi Er belum juga sadar.
Seluruh keluarga ketakutan.
“Kemarin kau bawa Xi Er ke mana? Kenapa dia sepanjang malam mengigau, hari ini malah demam tinggi begini!” Ny. Yang cemas, menepuk Yang Fu berkali-kali dengan keras.
Mata Yang Fu memerah, memandang Ho Xi yang tak juga bangun, hatinya sangat tersiksa.
Sambil menyeka air mata, ia berkata, “Kami hanya pergi ke kedai teh, mendengar orang-orang berbincang.”
“Pasti mendengar kabar buruk hingga mimpi buruk. Dulu Xi Er bilang datang ke ibukota untuk menumpang saudara, malah nyaris dijual karena saudara tak peduli, makanya ia melarikan diri. Ia pasti sangat ketakutan.”
Alis Ho Erhuai berkerut dalam-dalam, menyesal tak ikut bersama mereka kemarin.
“Lalu harus bagaimana?” Ny. Yang cemas, tangannya saling mengusap.
“Hari ini kita tak usah melaut. Sekarang juga bawa Xi Er ke tabib. Kalau tak sembuh di luar kota, kita bawa ke dalam kota.”
“Baik.”
Keluarga itu pun tergesa-gesa, mendayung perahu kecil menuju kota mencari klinik.
Ho Xi digendong Ho Erhuai ke dalam kota, diperiksa tabib, dipaksa minum ramuan obat, lalu dibawa pulang lagi. Ny. Yang mengganti bajunya, membersihkan tubuhnya, tapi ia tetap tak memberi reaksi apa pun.
Kepalanya terasa berat dan kabur.
Hingga matahari hampir tenggelam, sinar keemasan sore menyebar di Sungai Qinhuai, barulah ia membuka mata.
“Xi Er, Xi Er, kau sudah sadar?” Yang Fu sangat gembira, berseru ke luar, “Kakak, Kakak Ipar, Xi Er sudah sadar!”
“Xi Er sudah sadar?”
Perahu bergoyang ke kiri dan kanan, Ny. Yang memeluk Ho Nian, bersama Ho Erhuai masuk ke kabin dari depan dan belakang perahu.
“Syukurlah, Xi Er, akhirnya kau sadar! Aku dan ayahmu sangat ketakutan,” ujar Ny. Yang penuh sayang, mengelus pipinya, hampir saja menangis.
Meski baru sebentar bersama, ia benar-benar menyukai anak ini, menganggapnya seperti putri kandung sendiri.
Ho Erhuai tersenyum bahagia, tak tahu harus berkata apa, duduk di samping sambil terus menggosok tangan karena gembira.
“Nian Er, kakakmu sudah bangun, lihatlah.”
Ny. Yang menggendong Nian Er membungkuk, Nian Er mengoceh tak jelas, Ny. Yang menempelkan pipi kecilnya ke pipi Ho Xi, Nian Er bergumam sambil memeluk sisi lain pipi kakaknya dengan satu tangan.
Tiba-tiba air mata mengalir dari mata Ho Xi.
“Ada apa ini, jangan menangis, jangan menangis, kalau ada yang sakit, beri tahu ayah dan ibu!” Ny. Yang dan Ho Erhuai bergeser lebih dekat, bertanya cemas.
Ho Xi berkedip dua kali, menatap Ho Erhuai, “Ayah, perahu kita bocor.”
“Hah? Di mana?”
“Di atas.”
Ho Xi berbaring di kabin, menatap lurus ke atas, ada lubang kecil, cahaya senja masuk lewat lubang itu.
“Astaga, benar-benar bocor.” Ny. Yang, Ho Erhuai, dan Yang Fu bertiga mengikuti arah pandangnya, dan benar saja ada lubang di atap.
“Jangan takut, Ayah segera perbaiki, tak akan kubiarkan Xi Er kehujanan.”
Ho Xi miringkan kepala dan tersenyum padanya.
Ho Erhuai mengelus kepalanya, lalu buru-buru keluar kabin mencari bahan untuk menambal lubang.
Ny. Yang menggendong Ho Nian duduk di sampingnya, bersama Yang Fu di kiri dan kanan, menanyakan keadaannya dengan penuh perhatian. Awan gelap di hati Ho Xi tiba-tiba saja sirna.
Ho Xi berbaring di perahu selama dua hari, meminum ramuan tiga kali sehari, penyakitnya pun sembuh.
Selama dua hari itu, Ny. Yang dan Yang Fu selalu berada di dekatnya, Ho Erhuai pun tak pergi melaut terlalu jauh, khawatir udara lembap akan memperparah penyakitnya. Ia hanya memutar di sungai dalam kota dan tak mendapatkan banyak hasil. Ikan kecil dan udang pun tak laku dijual, hanya disimpan untuk dikeringkan dan dimakan sendiri.
Ho Xi berbaring dua hari, memikirkan jalan hidupnya.
Ia terlahir kembali di tubuh ini tanpa ingatan masa lalu, hingga hari ketika menyaksikan ibunya diracun, barulah kenangan masa lalu perlahan muncul. Setelah sakit parah kali ini, semua ingatan itu membanjiri benaknya.
Awalnya ia berpikir, dinasti baru sudah berdiri, ayahnya yang bertugas di perbatasan utara pasti akan pulang ke ibu kota. Saat itu, ia akan membawa adiknya mencari sang ayah.
Namun kini, Ny. Wu telah menjadi istri utama.
Sekalipun ia dan adiknya dibawa pulang, tinggal di dalam rumah besar di bawah pengawasan Ny. Wu, mereka pasti tak akan hidup lama. Ibunya sudah tiada, dan kakek yang menyayanginya juga sudah meninggal.
Hari itu, Ny. Wu mencengkeram ibunya erat-erat, memaksa ibunya meneguk arak beracun. Ny. Wu memang ingin ibunya mati.
Sedangkan ia dan Nian Er, jika tetap bertahan hidup dan diketahui Ny. Wu, pasti akan disingkirkan sampai tuntas.
Dan juga pengasuhnya, entah masih hidup atau juga sudah menjadi korban.
Ho Xi menggigit bibir kuat-kuat, menahan tangis agar tak terdengar. Ingusnya mengalir, ia tak berani membuka mulut, hanya menyeka dengan lengan baju, lalu menyembunyikan wajah di balik selimut.
Ho Erhuai mendengar suara pelan, hendak bangun, tapi segera ditahan Ny. Yang yang menggelengkan kepala padanya.
Ho Erhuai kembali berbaring.
Sepasang suami istri itu saling berpandangan, lalu menghela napas bersamaan. Anak ini benar-benar membuat hati terasa perih.
Keesokan pagi, Ny. Yang sudah bangun lebih awal, hendak merebus obat untuk Ho Xi. Ketika sampai di ujung perahu, ia tertegun.
“Xi Er? Kenapa sudah bangun pagi-pagi? Sedang mencuci baju? Biar Ibu saja.”
Ia bergegas mengambil pakaian dari tangan Ho Xi, menguceknya dua kali, lalu menoleh padanya, “Tubuhmu belum benar-benar sembuh, masuklah ke kabin dan istirahat.”
Semalam Ho Xi menangis, sembunyi di balik selimut, bajunya basah oleh keringat dan ingus.
“Ibu, aku sudah sembuh,” katanya, hendak berbalik menambah kayu bakar di tungku kecil.
“Biar Ibu saja.” Ny. Yang hendak berdiri, tapi Ho Xi menahannya.
Ny. Yang melihat api sudah menyala, menduga anak ini sejak pagi sudah bangun menyiapkan sarapan untuk seisi keluarga.
“Kau ini anak…”
Keluarga Qian Sanduo di sebelah juga sudah bangun, “Ho kecil, sudah sembuh?”
“Paman Qian, aku sudah sembuh,” jawabnya sambil tersenyum.
“Syukurlah. Kau tak tahu, waktu kau sakit, orang tuamu seperti semut di atas wajan panas, mondar-mandir tak karuan.”
Orang-orang dari perahu sekitar pun mulai bangun, satu per satu menegur Ho Xi.
Melihat para nelayan yang bukan kerabat, sejak pagi sudah menanyakan keadaannya dengan tulus, hati Ho Xi yang sempat mati rasa kembali hidup, dan ia makin mantap dengan keputusannya.
Biarlah ia berbuat sekehendaknya, biarkan waktu berlalu beberapa tahun. Nanti saat Nian Er agak besar dan ia sudah cukup kuat, pasti ia akan kembali ke ibu kota untuk membalaskan dendam ibunya.
“Paman Qian, Paman Yu, kalau beberapa hari ini kalian dapat kepiting, bolehkah kalian jual ke rumah kami? Kami akan bayar sepuluh persen lebih tinggi dari harga pasar.”
Gerakan tangan Ny. Yang sempat terhenti.
“Hah? Keluarga Ho ingin beli kepiting?”
“Eh? Ya, benar. Kami beli, benar,” Ny. Yang melirik Ho Xi, melihat sorot matanya penuh keyakinan sambil tersenyum, tanpa sadar ia pun mengangguk pada Qian Sanduo dan yang lain.
“Baiklah, kalau dapat, nanti malam kami bawa untuk dijual ke rumah kalian.”
Jual ke siapa saja sama saja, apalagi dibayar lebih mahal, belum lagi tak perlu repot-repot ke kota menjualnya. Perjalanan pergi-pulang saja sudah menghabiskan setengah hari, mengganggu waktu melaut.
Yang keluarganya sedikit, malah lebih senang. Semua pun mengangguk setuju.
Ho Xi senang sekali, mengucapkan terima kasih satu per satu, “Paman Qian, Paman Yu, Kakek Zou, Xi Er berterima kasih. Kalau bertemu kenalan lain, tolong juga beritahu mereka, agar membawa kepiting ke rumah kami.”
“Baik, akan kami ingat.”
Saat Ho Erhuai dan Yang Fu bangun, mereka mendapati pagi-pagi benar Xi Er sudah membawa satu usaha baru untuk keluarga, keduanya pun tertegun tak percaya.